Dark/Light Mode

Quick Count by Litbang Kompas
Anies & Muhaimin
25.23%
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58.47%
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16.30%
Ganjar & Mahfud
Waktu Update 20/02/2024, 00:17 WIB | Data Masuk 100%

Dukung Energi Hijau, Industri Biodiesel Bantu Ekonomi Negara

Senin, 30 November 2020 20:27 WIB
Ketua Umum APROBI, MP Tumanggor. (Foto: ist)
Ketua Umum APROBI, MP Tumanggor. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri biodiesel mendukung program energi hijau yang dicanangkan pemerintah melalui pencampuran biodiesel dengan bahan bakar fosil. Komitmen ketahanan energi ini merupakan dukungan bagi pemerintah yang sedang berjibaku menjaga stabilitas ekonomi bangsa.

“Untuk mendukung program B30, saat ini program terbesar di dunia, produsen biodiesel telah merencanakan penambahan kapasitas produksi. Namun, pandemi Covid-19 mengakibatkan rencana penambahan produksi ditunda,” ujar Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), MP Tumanggor, Senin (30/11).

Tumanggor menjelaskan, penambahan kapasitas produksi mundur pelaksanaannya hingga tahun 2021 dan 2022 setelah adanya penyesuaian kondisi pandemi Covid-19. Pada 2020, direncanakan ada penambahan kapasitas produksi sebesar 3,6 juta Kilo Liter (KL) menjadi mundur ke 2021 3,4 juta KL.

Baca juga : Strategi Industri Ritel Bertahan di Masa Pandemi

Menurutnya, kelanjutan program B30 di tahun 2020 dapat berjalan optimal dengan dukungan ketersediaan pasokan bahan baku dan kelancaran kegiatan transportasi logistik. Memang ada kendala tapi dapat teratasi dengan baik.

Hal ini terlihat dari data APROBI  bahwa produksi dari Januari sampai Oktober 2020 sebesar 7,197 juta KL. Dari jumlah ini, penyaluran domestik sebesar 7,076 juta KL dan ekspor sebesar 16.331 KL.

Ketua Harian APROBI, Paulus Tjakrawan menyebutkan, implementasi B30 merupakan upaya memenuhi komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi GRK sebesar 26 persen dari Business As Usual (BAU) pada 2020 dan pengurangan emisi 29 persen pada 2030.

Baca juga : Kembangkan Barista Milenial Dan Industri Kopi, Strategi Tino Bangkitkan Ekonomi Kendal

“Kontribusi B30 berdampak positif bagi pengurangan emisi gas rumah kaca, tahun ini diproyeksikan 26 juta ton CO2 ekuivalen, atau 68 persen dari target pengurangan emisi di sektor energi dan transportasi tahun 2020. Sedangkan untuk target pengurangan emisi 2030 pada sektor energi program biodiesel saat ini telah berkontribusi 8,82 persen,” imbuh Paulus.

Dari aspek ekonomi, dikatakan Paulus, tenaga kerja sektor hulu yang terserap sebanyak 1,2 juta, penyerapan biodiesel di dalam negeri menjaga keseimbangan suplai dan permintaan kelapa sawit. Selain itu, harga Tandan Buah Segar (TBS) petani juga stabil mengikuti pergerakan harga CPO. “Tanpa didukung program B30, harga TBS petani bisa tertekan di tengah pelemahan ekonomi dunia,” ujarnya.

Selain itu, program hilirisasi sawit juga bergerak untuk meningkatkan nilai tambah. Dijelaskan Paulus, implementasi biodiesel mampu menggerakkan hilirisasi sawit sebagaimana arahan Presiden Jokowi. Kini, Indonesia tidak lagi dikenal sebagai pemain di sektor hulu melainkan sudah membangun kekuatan hilir.

Baca juga : Dukung Belajar Online, Pertiwi Indonesia Bagikan Handphone Untuk Seribu Pelajar

Paulus menyebutkan pencampuran biodiesel dengan solar mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional. Impor solar dapat terus berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelum B30 berjalan. Dampak positifnya adalah defisit neraca dagang dapat berkurang. Implementasi B30 membuat Indonesia menghemat devisa dari impor migas hingga 5 miliar dolar AS sekitar Rp 70 triliun.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.