Dark/Light Mode

Sekjen ARFI: Stabilitas Politik Sangat Penting Untuk Pemulihan Ekonomi

Selasa, 8 Desember 2020 17:51 WIB
Sekjen Asosiasi Roll Forming Indonesia (ARFI) Nicolas Kesuma (Foto: Istimewa)
Sekjen Asosiasi Roll Forming Indonesia (ARFI) Nicolas Kesuma (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pandemi Covid-19 sepanjang tahun ini menjadi ujian cukup berat bagi seluruh lapisan masyarakat di Tanah Air. Kondisi serupa juga dialami para pelaku usaha yang bergerak di sektor konstruksi, khususnya di industri baja ringan.

Seperti diketahui, di awal tahun, sebelum berakhirnya gempuran baja ringan impor yang massif, pandemi Covid-19 merebak. China, sebagai salah produsen terbesar baja dunia, yang menjadi sumber penyebaran Virus Corona, menghentikan aktivitas industrinya. Namun, kondisi ini juga sulit dimanfaatkan para pelaku usaha baja dalam negeri.

Supply dan demand dalam negeri saat pandemi terganggu akibat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Proyek-proyek infrastruktur sebagian besar terhenti. Pabrik banyak yang tak beroperasi. Dampaknya, perekonomian terpuruk.

Berita Terkait : Azis: Reformasi Birokrasi Jadi Momentum Pemulihan Ekonomi

Sekjen Asosiasi Roll Forming Indonesia (ARFI) Nicolas Kesuma mengakui, tantangan di 2020 memang sangat berat. “Tantangan di tahun 2020 ini sangat berat. Bahkan beberapa teman-teman (pengusaha, red) itu mengatakan, tahun 2020 ini efek pandemi lebih parah dari 1998,” terang Nicolas, Selasa (8/12).

Sejak pertengahan tahun, pemerintah sebenarnya telah berupaya melakukan pemulihan ekonomi nasional. Semua sektor industri yang mampu membangkitkan perekonomian didorong untuk kembali berproduksi. Berbagai bantuan stimulan digelontorkan untuk menggerakkan ekonomi bangsa, agar bisa stabil kembali.

“Untuk itu, pemerintahan Presiden Joko Widodo membentuk Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional (Satgas PEN) di bawah komando Menko Perekonomian, Bapak Airlangga Hartarto. Tim khusus ini bertugas untuk memulihkan perekonomian bangsa. Jadi, semua sektor industri itu dibangkitkan kembali untuk mendorong roda perekonomian,” terang Nicolas.

Berita Terkait : Menkeu: UU Cipta Kerja Dorong Percepatan Pemulihan Ekonomi

Para pelaku usaha juga tidak tinggal diam. Berbagai inovasi dilakukan untuk dapat meningkatkan utilitas produksi mereka. Namun demikian, Nicolas menjelaskan, hal yang paling penting di penghujung tahun 2020 ini adalah adanya faktor-faktor politik, ekonomi, aosial dan teknologi (PEST).

Nico menjelaskan, faktor ini yang sangat krusial untuk dijaga bersama seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Insiden-insiden yang dinilai berpotensi mengganggu stabilitas keamanan dan ketertiban, khususnya yang terjadi di Ibu Kota, yang bisa berdampak pada proses pemulihan ekonomi di 2021, harus bisa dihindari. Hal ini dinilai sangat penting guna membangun optimisme para pengusaha yang sangat mengharapkan adanya rebound di 2021.

“Khususnya stabilitas politik, sangat krusial dalam pertumbuhan ekonomi. Di samping kita tetap optimis dalam bidang usaha, stabilitas negara pun wajib kita dukung penuh, khususnya kepada aparat TNI-Polri yang menjaga stabilitas NKRI dari ancaman pihak mana pun. Makanya ini saya bilang analisis PEST. Politik, ekonomi, baru kita masuk ke sosial. Ketika politik ini tidak stabil, ekonomi juga pasti akan tidak stabil. Nah, efeknya kepada sosial ini. Jadi, semua komponen analisis ini berkaitan. Baru kemudian kita lihat faktor teknologi jangan sampai digunakan untuk hal-hal yang negatif,” terang Nicolas.

Berita Terkait : Masa Kritis Sudah Berlalu, Pemulihan Ekonomi Nasional Bisa Terwujud Tahun Depan

Secara general, Nicolas menjelaskan, ARFI selaku asosiasi manufaktur mendukung penuh negara, khususnya TNI-Polri agar menjaga stabilitas kondisi NKRI yang lebih aman dan kondusif karena kondusifitas inilah yang akan membantu dalam upaya mendongkrak ekonomi bangsa. [USU]