Dark/Light Mode

Tingkatkan Lifting, Green Surfactant Petrokimia Gresik Jadi Incaran Industri Migas

Selasa, 4 Mei 2021 14:56 WIB
Pengiriman perdana Green Surfactant Petrokimia Gresik ke KSO Pertamina EP-Samudra Energy BWP Meruap, di Sarolangun, Jambi, Selasa (4/5). (Foto: Petrokimia Gresik)
Pengiriman perdana Green Surfactant Petrokimia Gresik ke KSO Pertamina EP-Samudra Energy BWP Meruap, di Sarolangun, Jambi, Selasa (4/5). (Foto: Petrokimia Gresik)

RM.id  Rakyat Merdeka - Petrokimia Gresik, perusahaan solusi agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia, melakukan penjualan perdana Green Surfactant sebanyak 7.000 liter kepada KSO Pertamina EP-Samudra Energy BWP Meruap, di Sarolangun, Jambi, Selasa (4/5). Direktur Utama Petrokimia Gresik Dwi Satriyo Annurogo menjelaskan, Green Surfactant produksi Petrokimia Gresik yang bekerja sama dengan Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) Institut Pertanian Bogor (IPB) ini merupakan satu-satunya produk surfaktan dalam negeri.

Surfaktan merupakan molekul yang memiliki gugus hidrofilik (suka air) dan lipofilik (suka minyak/lemak) sehingga dapat menyatukan campuran yang terdiri dari air dan minyak. Selain digunakan untuk bidang farmasi dan industri pembersih seperti deterjen, surfaktan juga digunakan untuk keperluan eksplorasi minyak bumi dengan metode Improved Oil Recovery (IOR) dan Enhanced Oil Recovery (EOR).

"Green Surfactant merupakan terobosan penting yang dapat mendukung industri minyak dan gas (migas) di Tanah Air agar semakin efisien dan ramah lingkungan," ujar Dwi Satriyo, Selasa (4/5).

Baca Juga : SMF Benahi Rumah Tak Layak Di Lubunglinggau

Secara teknis, surfaktan akan diinjeksikan ke dalam bumi. Minyak bumi yang masih menempel di bebatuan akan terlepas dan lebih mudah disedot dengan pompa. Sehingga surfaktan ini mampu meningkatkan produktivitas sumur minyak bumi, bahkan mampu mengeluarkan minyak mentah dari lapangan atau sumur minyak tua yang sudah tidak berproduksi lagi.

“Pengeboran minyak suatu saat akan turun produktivitasnya, meskipun cadangan yang ada di dalam sumur masih banyak. Ini terjadi karena minyak menempel pada bebatuan atau lainnya. Dengan menggunakan Green Surfactant akan ada biliunan barel minyak yang awalnya ditinggal karena susah disedot sekarang bisa dioptimalisasi,” jelasnya.

Green Surfactant akan menggantikan penggunaan surfaktan berbasis hydrocarbon yang umum digunakan industri migas di Indonesia. Surfaktan berbasis hydrocarbon harus diimpor dari luar negeri dengan harga yang lebih mahal dan fluktuatif karena dipengaruhi harga minyak dunia.

Baca Juga : Toyota Raize, Si Mungil Yang Bengis Dan Nyaman

“Oleh karena itu, Green Surfactant memiliki potensi pasar yang besar mengingat harganya lebih kompetitif dan lebih ramah lingkungan. Di sisi lain sumur migas di Indonesia juga sangat banyak,” ujar Dwi Satriyo,

Dalam hal pemasaran, Petrokimia Gresik mendapat dukungan marketing and technical assistance dari Komunitas Migas Indonesia (KMI). Setelah pengiriman ke KSO Pertamina EP-Samudra Energy BWP Meruap, selanjutnya Petrokimia Gresik akan melakukan pengiriman Green Surfactant dengan volume 3.500 liter ke Sumur Kawengan Cepu, Provinsi Jawa Tengah. “Ini menjadi bukti Green Surfactant produksi Petrokimia Gresik sangat diminati industri migas di Tanah Air,” ucapnya.

Saat ini, kapasitas produksi Green Surfactant Petrokimia Gresik mencapai 600 kiloliter per tahun. Melihat potensi pasar yang masih sangat terbuka lebar, Dwi Satriyo berharap ke depan produksi Green Surfactant dapat ditingkatkan tidak lagi sekadar mini plant, tetapi dalam skala yang lebih besar lagi.

Baca Juga : Riset Ahli, Vape Efektif Bantu Berhenti Merokok

Dwi Satriyo menambahkan, hadirnya produk Green Surfactant ini juga menjadi bentuk dukungan Petrokimia Gresik terhadap target produksi crude oil 1 juta barel per hari yang dicanangkan oleh pemerintah melalui SKK Migas. "Selain itu, kerja sama ini juga menjadi salah satu wujud dan peran bersama dalam membangun kemandirian bangsa serta dalam rangka mengurangi ketergantungan impor bahan baku dan bahan penolong, salah satunya Surfaktan," tandas Dwi Satriyo. [TIF]