Dewan Pers

Dark/Light Mode

PLN Peduli Bantu Disabilitas Sukses Buat Kedai Kopi

Kamis, 15 Juli 2021 17:32 WIB
Pelanggan di Kedai Kopi Tuli binaan PLN Peduli sebelum pandemi Covid-19. (Foto: Istimewa)
Pelanggan di Kedai Kopi Tuli binaan PLN Peduli sebelum pandemi Covid-19. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT PLN (Persero), melalui kegiatan CSR PLN Peduli, menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan potensi ekonomi masyarakat melalui program pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Salah satunya pada Koptul, yang merupakan akronim dari Kopi Tuli.

Koptul merupakan UMKM binaan PLN Peduli. Lewat dukungannya pada Koptul, PLN Peduli mendukung disabilitas untuk terus berkarya tanpa halangan.

Berita Terkait : PT Nestle Bantah Mengerek Harga Susu Bear Brand

Koptul didirikan tiga sekawan, yakni Andhika Prakoso, Putri Santoso, dan Trierwinsyah. Ketiganya merupakan penyandang tunarungu, yang sulit mendapatkan pekerjaan. Berawal dari situ, lewat bantuan program CSR PLN Peduli, kini mereka berhasil membuktikan penyandang disabilitas juga memiliki kemampuan dan kesempatan untuk sukses. 

Lewat passion mereka yang mampu mengolah kopi, kini Koptul mampu berkembang dan menjadi besar serta telah menyerap banyak tenaga kerja disabilitas. "Ide pembuatan kedai kopi ini jadi jawaban atas kekecewaan kami yang sulit mendapatkan pekerjaan," kata Andhika.

Berita Terkait : Kisah Sukses Jangan Dipendam Sendiri

Berangkat dari itu, ketiganya pun turut mempekerjakan para difabel sebagai pegawainya. Sebab, mereka ingin agar para difabel ini juga memiliki kesempatan untuk berkarier. 

Kendati demikian, untuk kualitas kopi, pihaknya tak main-main. Ia bersama dengan kedua temannya sengaja memilih biji kopi dari Ciwidey dan Aceh. Pasalnya, kopi dari kedua daerah tersebut memiliki tekstur dan rasanya lebih manis serta lembut.  

Berita Terkait : Kurangi Batu Bara, PLN Sukses Cofiring Biomassa Di 17 PLTU

Andhika, selaku pecinta kopi, menyebutkan jika orang Indonesia kebanyakan menyukai rasa kopi yang lembut dan manis. Sehingga pihaknya menyesuaikan dengan lidah orang Indonesia. 

"Kami tidak hanya menyasar pecinta kopi, jadi masyarakat yang bukan pecinta kopi pun jadinya suka. Apalagi sekarang banyak yang ngopi karena cuma ingin foto," ujar Andhika. [USU]