Dark/Light Mode

Kargo Jadi Tumpuan Pendapatan Garuda

Sabtu, 17 Juli 2021 07:38 WIB
Vaksin tahap ke-22 ini tiba dengan pesawat Garuda GA 891 dan akan diberangkatkan ke fasilitas penyimpanan Kimia Farma di Jawa Barat. (Foto : Istimewa)
Vaksin tahap ke-22 ini tiba dengan pesawat Garuda GA 891 dan akan diberangkatkan ke fasilitas penyimpanan Kimia Farma di Jawa Barat. (Foto : Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Garuda Indonesia (Per­sero) Tbk telah merampungkan laporan keuangan tahun buku 2020. Perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar 1,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 20,3 triliun. Dengan penurunan beban operasional penerbangan sebesar 35,13 persen.

Direktur Utama Garuda Indo­nesia Irfan Setiaputra mengata­kan, pendapatan usaha tersebut ditunjang dari penerbangan ber­jadwal sebesar 1,2 miliar dolar AS (Rp 17,4 triliun), penerbangan tidak berjadwal 77 juta dolar AS (Rp 1,1 triliun), dan lini pendapatan lainnya sebesar 214 juta dolar AS (Rp 3,1 triliun).

Di samping itu, perseroan mulai mencatatkan penurunan beban operasional penerbangan sebesar 35,13 persen atau men­jadi 1,6 miliar dolar AS (Rp 23,2 triliun) dibanding tahun 2019 sebesar 2,5 miliar dolar AS (Rp 36,2 triliun).

“(Penurunan) Ditunjang lang­kah strategis efisiensi biaya. Salah satunya melalui upaya renegosiasi sewa pesawat mau­pun efisiensi biaya operasional penunjang lainnya,” ujar Irfan di Jakarta, kemarin.

Melalui upaya tersebut, sam­bung Irfan, saat ini perseroan mampu melakukan penghematan beban biaya operasional hingga 15 juta dolar AS (Rp 217,5 miliar) per bulannya.

Berita Terkait : Bos Danamon Bandingkan Bunga Tabungan Bank Di Jepang Dengan Indonesia

Irfan menjelaskan, situasi pan­demi ini mendorong terjadinya shifting behaviour pada tren bisnis industri penerbangan. Di mana, transportasi udara sangat berperan besar dalam menunjang pergerakan logistik, tidak hanya untuk perjalanan masyarakat.

“Kini, lini bisnis kargo men­jadi salah satu tumpuan utama pendapatan usaha Garuda Indo­nesia, di tengah penurunan trafik angkutan penumpang sejak tahun lalu,” akunya.

Hingga Mei 2021, perseroan mencatat angkutan kargo tum­buh hingga 35 persen dibanding periode sama tahun 2020. Menurutnya, tren pertumbuhan sektor ekspor nasional menjadi momentum penting bagi perusa­haan dalam upaya optimalisasi lini bisnis penunjang. Terutama di bisnis kargo dan charter.

Apalagi, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatatkan konsistensi peningkatan trafik ekspor Indo­nesia pada Juni 2021. Dengan angka pertumbuhan hingga 54,46 persen dibanding periode sama tahun lalu.

“Dengan momentum pertumbuhan sektor ekspor nasional ini kami memaksimalkan pangsa pasar angkutan logistik,” ka­tanya.

Berita Terkait : PAN DKI Minta Anies Kebut Penyaluran BST

Tahun lalu saja, kata Irfan, trafik angkutan kargo menyen­tuh level 99 persen dibanding performa sebelum pandemi. Karenanya, pihaknya akan ter­us mengoptimalkan utilisasi armada bagi perluasan jarin­gan penerbangan kargo guna menunjang aktivitas direct call komoditas ekspor unggulan dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) dari berbagai wilayah Indonesia.

“Kami telah mengoperasikan dua armada passenger freighter yang kini melayani sejumlah penerbangan kargo domestik maupun internasional,” katanya.

Selain itu, berbagai langkah pe­mulihan kinerja juga terus dijalankan. Antara lain konsolidasi operasi demi menunjang business continu­ity perusahaan. Serta merampung­kan program restrukturisasi secara bertahap dan terukur.

“Kami optimistis dapat se­makin agile (gesit) dan adaptif dalam menjawab tantangan industri penerbangan ke depan­nya,” akunya.

Sementara itu, menyikapi catatan disclaimer (opini tidak memberikan pendapat) Laporan Keuangan Garuda Indonesia tahun buku 2020, pada prin­sipnya perusahaan menghargai independensi auditor.

Berita Terkait : Purworejo Paling Oke Terapkan PPKM Darurat Se-Jateng

“Catatan disclaimer itu diberi­kan dengan pertimbangan aspek keberlangsungan usaha yang menjadi perhatian auditor, di tengah upaya restrukturisasi yang dijalankan perusahaan sebagai langkah pemulihan ki­nerja,” terangnya.

Irfan menegaskan, hal itu merupakan realitas bisnis yang tidak dapat terhindarkan se­bagai imbas kondisi pandemi. Sehingga mengantarkan industri penerbangan dunia pada level terendah sepanjang sejarah.

Irfan menyebutkan, lalu lin­tas penumpang internasional mengalami penurunan drastis lebih dari 60 persen selama 2020, sama halnya kembali ke level trafik lalu lintas udara pada tahun 2003.

“Ini sebuah kemunduran sig­nifikan dari industri penerbangan yang telah berkembang pe­sat selama 10 tahun terakhir,” ucapnya.

Kondisi itu yang turut tergam­barkan pada kinerja usaha Garu­da Indonesia saat ini. Karenanya, harus dilakukan berbagai langkah fundamental guna mengoptimal­kan kinerja usaha seperti diver­sifikasi bisnis baik dalam skala besar maupun kecil. [IMA]