Dark/Light Mode

Indonesia Miliki 2.100 Startup

Valuasi Ekonomi Digital Diramal Capai Rp 1.762 T

Kamis, 14 Oktober 2021 06:40 WIB
Ilustrasi startup. (Foto: Istimewa).
Ilustrasi startup. (Foto: Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Perusahaan rintisan (startup) di Indonesia diyakini bakal terus bermunculan meskipun kini jumlahnya telah mencapai ribuan. Pada 2025, valuasi ekonomi bisnis digital diprediksi mencapai Rp 1.762 triliun.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut, per September 2021 terdapat tujuh unicorn dan satu decacorn di Tanah Air dari total sebanyak 2.100 startup.

“Tumbuhnya inovasi ini tidak lepas dari kebijakan otoritas yang tidak membatasi, tapi mendorong kehadiran digitalisasi. Dengan prinsip yang kami sebut light touch and safe harbor,” ujar Wimboh dalam OJK Virtual Inno­vation Day 2021, Senin (11/10).

Berita Terkait : Mendag Ramal Nilai Ekonomi Digital Capai Rp 4.531 Triliun

Eks Komisaris Bank Mandiri ini menjelaskan, startup bukan hanya fintech (financial technology). Tetapi juga ada edutech, health tech, property tech, dan e-commerce tech.

Dari 2.100 startup di Indonesia tersebut, lanjut Wimboh, tujuh di antaranya merupakan unicorn dengan valuasi 1 miliar dolar AS -9 miliar dolar AS (Rp 14,2 triliun -Rp 127,9 triliun). Mereka adalah Tokopedia sebesar 8 miliar dolar AS (Rp 113,7 triliun), J&T Express sebesar 7,8 miliar dolar AS (Rp 110,8 triliun), disusul Traveloka di angka 5 miliar dolar AS (Rp 71,0 triliun), dan Buka­lapak sebesar 3,5 miliar dolar AS (Rp 49,7 triliun). Kemudian, OVO dengan valuasi 3 miliar dolar AS (Rp 42,6 triliun), Xendit 1 miliar dolar AS (Rp 14,2 triliun), dan Ajaib 1 miliar dolar AS (Rp 14,2 triliun).

Sementara Gojek dan Tokope­dia yang merger dengan bendera GoTo, bahkan sudah menjadi de­cacorn dengan valuasi 10 miliar dolar AS -90 miliar dolar AS (Rp 142,1 triliun -Rp 1.279,2 triliun).

Baca Juga : Siang Ini, Perebutan 3 Medali Emas Terakhir Gulat Bakal Seru

Dengan perkembangan ini, Wimboh menilai, Indonesia akan terus melahirkan peru­sahaan startup baru dari ber­bagai bidang. Kemunculannya akan menjawab permintaan dari masyarakat yang kian tinggi.

“Dan akan muncul berbagai tech-tech lain yang angkanya dan perkembangannya luar biasa. Ini semua mempermudah kehidupan kita. Mempermudah masyarakat untuk akses dengan cepat dan murah,” tandasnya.

Karena itu, pihaknya terus berupaya mendorong penyedia jasa keuangan di Indonesia untuk tetap relevan dan responsif. Teru­tama terhadap perkembangan teknologi, apalagi di tengah pan­demi Covid-19 seperti sekarang.

Baca Juga : Perbedaan Sebagai Sunnatullah (2)

“Kami terus menjalin kerja sama dengan otoritas pengatur sektor keuangan di negara lain. Tujuannya, agar memiliki langkah kebijakan yang sama terkait digitalisasi di sektor ini. Sehingga tidak ada regulatory arbitrage,” tegas mantan Pejabat Eksekutif IMF (International Monetary Fund) ini.

Saat ini OJK juga bekerja sama dengan sejumlah negara, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina. “Kami juga mendapat dukungan dari World Bank untuk kebijakan ini agar relevan dan sejalan dengan global,” ungkapnya.
 Selanjutnya