Dark/Light Mode

Market Outlook 2022: Ekonomi Nasional Optimis Berkembang

Jumat, 28 Januari 2022 07:13 WIB
Market Outlook 2022: Ekonomi Nasional Optimis Berkembang

RM.id  Rakyat Merdeka - Pasca meluasnya pandemi Covid-19 di Indonesia, situasi perekonomian terkendala. Bahkan berbagai industri mengalami guncangan hebat. Namun, di penghujung 2021, yang disebut sebagai tahun perbaikan ekonomi, stabilitas ekonomi dan sistem keuangan telah kembali membaik dan terjaga.

Data-data di atas juga direspons positif dalam diskusi Market Outlook 2022 yang diselenggarakan oleh Moduit di Jakarta, Kamis 27 Januari 2022. Dalam diskusi tersebut, salah satu pembicara, Manuel Adhy Purwanto, Investment Connoisseur Moduit, menyatakan bahwa pada 2022, pasar global dan domestik terlihat positif menuju pertumbuhan ekonomi yang baik dibandingkan pada tahun lalu yang dipenuhi dengan dinamika global dan domestik.

Baca juga : Jokowi: 2022 Momentum Kebangkitan Ekonomi Nasional

Analisis Manuel merujuk pada situasi 2020 lalu, yang mengalami kontraksi ekonomi akibat masuknya Covid-19 dan menjadi pandemi, sehingga pada 2021, semua pihak tertuju dan fokus kepada pemulihan ekonomi. "Hingga kemudian pada 2022 ini, pemerintah akan kembali fokus kepada pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan berada di kisaran 5%, tentunya ini menjadi angin segar dalam konteks market outlook 2022,” tuturnya.

Menurut Manuel, tren positif pertumbuhan ekonomi sudah berjalan. Salah satunya, selama hampir dua tahun terakhir terjadi peningkatan harga komoditas yang mendorong kenaikan ekspor. “Konsumsi masyarakat juga terus mengalami perbaikan, dimana sektor konsumsi masih menjadi penopang 50% pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kami melihat ada peningkatan belanja online selama pandemi hingga dua kali lipat. Sedangkan belanja offline juga terus mengalami peningkatan, meskipun belum pulih, ini merupakan fakta bahwa 2022 bisa lebih berkembang,” katanya.

Baca juga : Kinerja APBN 2021 Modal Optimisme Perekonomian 2022

Meski begitu, Manuel melihat bahwa tantangan perekonomian 2022 adalah Inflasi yang masih tinggi. “Terutama di negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa, sehingga akan terjadi pengetatan moneter. Bank sentral Amerika Serikat juga berencana akan menaikan suku bunga di bulan Maret dan Mei dengan masing-masing sebesar 0,25%. Ini yang kami lihat sebagai bentuk dinamika yang akan terjadi ke depannya,” ujarnya.

Namun, berdasarkan pengalamannya, dalam kondisi ekonomi seperti itu, semua pihak, khususnya investor domestik tetap harus belajar dari pengalaman sebelumya dalam mengakselerasi tantangan tersebut. “Kami di Moduit menekankan pentingnya alokasi aset dalam berinvestasi. Dan investor harus dapat memahami instrumen investasinya. Jangan hanya ikut–ikutan tren atau rekomendasi orang tanpa bekal analisa dan pengalaman yang cukup di bidangnya,” pungkasnya. [ARM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.