Dark/Light Mode

Ajinomoto Operasikan Pengelolaan Limbah Cair Jadi Air Bersih

Sabtu, 27 Maret 2021 15:38 WIB
Pabrik Ajinomoto (Foto: Istimewa)
Pabrik Ajinomoto (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Ajinomoto Indonesia melanjutkan program jaga lingkungan. Kali ini, melalui program Peningkatan Pengelolaan Air Limbah (WMI).

Deputy Factory Manager PT Ajinomoto Indonesia Pabrik Mojokerto Hariyono mengatakan, konsep WMI tersebut sesuai inisiatif keberlanjutan global bagi perusahaan untuk mengurangi kerusakan lingkungan saat melakukan produksi. 

"Ini juga sebagai upaya untuk bantu meningkatkan kualitas air di Indonesia," ujar Hariyono dalam keterangannya, Sabtu (27/3).

Hariyono menjelaskan, proses pengolahan limbah cair dari penerimaan. Dari proses produksi (influent) sampai dengan release (effluent) membutuhkan waktu proses (treatment) sekitar 10 sampai 12 jam. Pengolahan ini beroperasi secara terus-menerus selama 24 jam/hari.

Berita Terkait : Sinergi Antar Lembaga dan Mitra Jadi Kunci Kesuksesan Penyaluran BST

Pengolahan limbah cair menjadi air bersih ini dilakukan di dua pabrik PT Ajinomoto Indonesia, yaitu di Mojokerto, Jawa Timur dan Karawang, Jawa Barat.

Namun, Pabrik Mojokerto dan Pabrik Karawang berbeda secara proses dan kapasitasnya, karena menyesuaikan dengan jenis proses produksinya dan juga lokasinya.

Air limbah dari proses produksi masuk ke gathering tank dan equalization tank untuk diatur konsentrasi pH dan jumlah cairan lainnya. Selanjutnya proses pre-treatment dengan menambahkan udara (proses aerasi) dan kemudian masuk ke biological De-nitrification process.

“Hasil dari proses ini kemudian masuk ke proses penjernihan/pengendapan pertama, yang hasilnya adalah air jernih tetapi masih sedikit berwarna (yellowish). Selanjutnya masuk ke proses penjernihan/pengendapan kedua sehingga air menjadi benar-benar jernih,” lanjutnya.

Berita Terkait : Kasus Suap Banprov Indramayu, KPK Amankan Dokumen Dari Rumah di Bandung

Ia menggambarkan, di Mojokerto, produksi utamanya adalah MSG dan seasoning, dan hasil air setelah semua proses di atas selesai langsung dialirkan ke Sungai Brantas dengan parameter baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan daerah. Sedangkan di Karawang, produksi utamanya adalah seasoning, dan berada di dalam kawasan industri.

"Sehingga limbah cair tidak langsung dialirkan ke sungai, tetapi dialirkan ke WWT kawasan industri dan harus mengikuti parameter yang telah ditetapkan oleh kawasan industri tersebut," ucap Hariyono. 

Hariyono juga memastikan, baku mutu air limbah milik PT Ajinomoto Indonesia selalu di bawah yang sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Direktur Pengendalian Pencemaran Air KLHK Luckmi Purwandari menjelaskan, pada prinsipnya, KLHK mendorong pelaku usaha untuk terus meningkatkan kinerja pengendalian pencemaran air dalam upaya perbaikan kualitas air di Indonesia. 

Berita Terkait : Impor Beras Boleh, Asal Jangan Korbankan Petani Lokal

"Diharapkan pelaku usaha dapat memahami pelaksanaan peraturan perundangan lingkungan hidup yang berlaku," ucapnya.

Pemerintah juga mengapresiasi pelaku usaha yang melakukan upaya lebih dari taat (beyond compliance) terhadap pemenuhan peraturan lingkungan hidup melalui program Proper yang setiap tahunnya memang selalu dilakukan evaluasi.

"Tentu pelaku usaha dan industri dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama terkait kendala yang dihadapi di lapangan," tukasnya. [JAR]