Dewan Pers

Dark/Light Mode

Hadapi Banyak Tantangan, Ini Strategi Kementan Tingkatkan Produksi Pangan

Sabtu, 19 Maret 2022 20:08 WIB
Hamparan padi siap panen. (Foto: Istimewa)
Hamparan padi siap panen. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Jendral Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi mengatakan disaat krisi global, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta untuk waspada, berhati-hati dan tidak lengah dalam menyediakan pangan dalam negeri secara mandiri.

Karena itu, Kementan terus memacu peningkatan produksi di berbagai daerah khususnya Sumatera Utara dengan strategi atau cara-cara baru yang lenih maju dari tahun sebelumnya.

"Pelajaran bagi petani semua untuk mulai menggunakan praktek-praktek budidaya yang efisien, yang lebih murah dan tentunya lebih ramah lingkungan. Untuk lahan 1 hektar kita hanya memerlukan urea 25 kg dan NPK 100 kg. Lainnya bisa dipenuhi dengan pupuk kompos atau pupuk organik. Mulailah kurangi penggunaan pupuk kimia secara bertahap, gunakan pupuk organik dan pupuk hayati untuk pertanian yang lebih baik," demikian dikatakan Suwandi dalam acara webinar Bimbingan Teknis dan Sosialisasi (BTS) Propaktani Episode 379, Sabtu (19/3).

Berita Terkait : Hadapi Sidang Larangan Ekspor Nikel, Wamendag Kawal Ketat Pesan Presiden Jokowi

Suwandi menegaskan pentingnya petani mulai menerapkan cara-cara baru dalam usaha tani dan meningkatkan produksi pangan ke depan karena sektor pertanian dihadapkan dengan berbagai tantangan besar.

Pertama, dampak pandemi Covid-19 menyerang seluruh sektor ekonomi, tak terkecuali pertanian yang turut memberikan kontribusi pada PDRB dan nilai ekspor. Kedua, sambungnya, ancaman terhadap iklim ekstrim.

Ketiga, perselisihan Ukraina dan Rusia yang berdampak pada naiknya harga-harga di pasar global termasuk pupuk dan sarana produksi lainnya, dimana harga pupuk komersial naik dua kali lipat dari kondisi normal.

Berita Terkait : Manfaatkan Bantuan Alsin Kementan, Petani Kalbar Sukses Naik Kelas

"Selanjutnya terkait impor produk tanaman pangan, kita bisa mengatasinya dengan substitusi impor. Impor gandum substitusinya bisa dengan umbi-umbian. Ditambah lagi saat ini singkong untuk ekspor dan produk turunannya angkanya terus meningkat," jelasnya.

Sedangkan untuk beras, sudah 3 tahun terakhir ini, sejak tahun 2019 kita tidak mengimpor beras. Pangan kita kuat. Produktivitas juga terus meningkat tiap tahunnya.

"Kesempatan yang baik bagi kita semua untuk melakukan terobosan. Jangan sampai ada lagi lahan-lahan tidur yang tidak dimanfaatkan," pinta Suwandi.
 Selanjutnya