Dewan Pers

Dark/Light Mode

Itik Gunsi PKC Potensial Dikembangkan Di Indonesia

Selasa, 22 Maret 2022 17:48 WIB
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH Kementan Agung Suganda/Ist
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH Kementan Agung Suganda/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menyampaikan, Itik Gunsi PKC (Peking Khaki Champbell) mempunyai potensi untuk dikembangkan di Indonesia. 

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Agung Suganda di Jakarta, Selasa (22/3).

Kementan saat ini terus berupaya melestarikan Sumber Daya Genetik Hewan (SDGH) dengan melakukan pemuliaan ternak untuk memperoleh bibit ternak yang bermutu. Salah satunya, rumpun Itik Gunsi PKC.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak (Direktur Bitpro) Agung Suganda mengatakan, sejatinya Itik Gunsi PKC merupakan sumber genetik yang mesti dikembangkan dan dijadikan sumber ketahanan pangan nasional.

Pelestarian rumpun Itik Gunsi PKC juga telah ditetapkan oleh Menteri Pertanian melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 366/Kpts/PK.020/M/5/2019 tentang Pelepasan Rumpun Itik Gunsi PKC.

Berita Terkait : Wamenag: Ulama & Ormas Islam Mitra Keberhasilan Pembangunan Indonesia

"Untuk itu, kami menerapkan langkah pelestarian melalui penetapan dan pelepasan rumpun atau galur ternak lokal untuk menjaga dari kepunahan," ujar Agung.

Menurut Agung, berbagai ragam rumpun itik lokal sejatinya telah lama digunakan sebagai sumber protein hewani di pedesaan. Hal ini sejalan dengan perkembangan budidaya itik di Indonesia yang mengalami peningkatan.

Dia menyebutkan, berdasarkan data statistik peternakan tahun 2021, populasi itik di Tanah Air, terdapat sekitar 50 juta ekor dan tercatat populasi dari tahun 2020 sampai 2021 meningkat sekitar 2 juta ekor. 

Populasi terbanyak pengembangan itik berada di provinsi Jawa Barat sebesar 9,9 juta ekor, Jawa Timur sebesar 6,6 juta ekor, Jawa Tengah 5,5 juta ekor dan Sulawesi Selatan 5,2 juta ekor.

“Itik pedaging merupakan salah satu komoditi yang akan terus dikembangkan di Indonesia. Karena, makin hari konsumen daging itik makin meningkat yang mampu mengangkat ekonomi masyarakat peternak," jelas Agung.

Berita Terkait : Allegri Pesimis Dybala Bertahan Di Juventus

Ke depannya, Agung mengharapkan kinerja produksi ini terus dapat ditingkatkan. Ditambah penerapan kompartemen bebas flu burung Indonesia telah dipublikasi pada website Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), sehingga kesempatan untuk diekspor terbuka luas.

Untuk itu, dalam pengembangan usaha peternakan, perlu mengoptimalkan ternak lokal dengan memanfaatkan segenap potensi yang ada yaitu lahan dan pakan.

“Serta didukung teknologi yang tepat dan penanganan Kesehatan hewan yang baik, sehingga mampu berdaya saing," katanya.

Sementara, Pemilik PT Perkasa Genetika (PT PPG) Ang Hendra menyampaikan, pihaknya telah merintis pembentukan rumpun baru itik tipe pedaging, dengan menyilangkan antara itik Peking dengan itik Khaki Campbell yang ada di Indonesia.

Kegiatan persilangan atau pemuliaan tersebut sudah dimulai sejak tahun 2012. Itik Peking digunakan karena produksi dagingnya yang tinggi. Dan Itik Khaki Champbell digunakan karena produksi telurnya yang cukup baik.

Berita Terkait : UNDP Luncurin Peta Investor SDG Indonesia

“Hasil persilangan ini untuk membentuk rumpun baru tipe pedaging yang dapat beradaptasi di Indonesia, yang disebut dengan Itik Gunsi PKC,” ungkap Hendra. 

Dia menerangkan, saat ini PT PPG juga sedang menyiapkan target produksi untuk tahun 2022 sebanyak 1 juta ekor per bulan. Setara Final Stock (FS), berikutnya tahun 2023 ditargetkan sebanyak 2 juta ekor.

Sebagai informasi, PT PPG juga telah mengembangkan itik di 7 farm yang berlokasi Jawa Barat (4 farm di kecamatan Gunung Sindur dan 3 farm di kecamatan Rumpin) dan mampu mendistribusikan ke 10 provinsi.  Yautu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat, Lampung, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimatan Timur dan Sulawesi Selatan. [KAL]