Dewan Pers

Dark/Light Mode

Korban Hampir 1.000 Orang

Kemenkes Monitor KLB Hepatitis A

Selasa, 2 Juli 2019 09:31 WIB
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Anung Sugihantono saat ditemui di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin (1/7). (Foto: Istimewa).
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Anung Sugihantono saat ditemui di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin (1/7). (Foto: Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Di Pacitan, Jawa Timur tengah terjadi kejadian luar biasa (KLB) Hepatitis A. Korbannya mencapai hampir 1.000 orang. Pemerintah pusat tengah melakukan upaya agar penyakit itu tidak menyebar ke daerah lain.

“Dari data yang dikumpulkan, sudah 957 orang yang didiagnosa mengalami Hepatitis A di Pacitan. 41 orang dirawat di rumah sakit, sisanya men jalani perawatan di rumah,” ungkap Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantono di gedung Kemenkes, Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, dari hasil penyelidikan epidemiologi dinas kesehatan kabupaten dan provinsi setempat, banyaknya korban disinyalir karena penularan melalui makanan atau kontaminasi air mengandung virus Hepatitis A dari desa ke desa. Saat ini tim masih melakukan penelitian untuk mencari sumber penularan secara pasti.

Berita Terkait : Kemenkes: Ayo Terus Donorkan Darah dengan Teratur!

“Penularan air bisa terjadi dari sungai. Di sana ada Sungai Sukorejo yang membelah daerah kejadian hepatitis. Dari makanan bisa dari penjual makanan yang menurut tradisi diedarkan dari satu desa ke desa lain. Namun, ini masih perlu penelitian lebih lanjut,” terangnya.

Menurut Anung, Sungai Sukorejo sebenarnya telah ditetapkan bebas dari perilaku masyarakat yang melakukan buang air besar di sungai sejak 2017. Tetapi, tim dari dinas kesehatan dan Kemenkes masih menemukan bakteri e-coli dari air.

Walau banyak korban, lanjut Anung, trend masyarakat terjangkit Hepatitis A di Pacitan mulai menurun. Namun demikian, Dinas Kesehatan Jawa Timur tetap waspada, memberikan sinyal kewaspadaan pada daerah sekitar seperti Trenggalek dan Ponorogo.

Berita Terkait : BNPB: 35 Korban Banjir Bandang Sentani Belum Teridentifikasi

Mereka mengingatkan agar menjaga kebersihan dan tidak sembarangan mengkonsumsi makanan. Dia menjelaskan, kewaspadaan akan terus dilakukan karena ada potensi terjadi peningkatan kasus pada bulan Juli.

Karena, masa inkubasi atau masa infeksi virus hingga timbulnya gejala penyakit terhadap korban bisa terjadi 10 hingga 50 hari.

Sementara kasus pertama hepatitis A ini dilaporkan 28 Mei 2019. Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Kohar Hari Santoso mengatakan, jajarannya segera melakukan penelitian epidemologi, untuk mencegah penyebaran penyakit.

Berita Terkait : Terus Pantau, RI Sampaikan Belasungkawa

“Kami juga akan melakukan sosialisasi ke masyarakat terutama tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Kemudian bagaimana makanan tidak terkontaminasi dan masyarakat tidak membuang sampah sembarangan,” jelas Kohar.

Kohar menargetkan dalam dua pekan ini bisa me nurunkan penularan Hepatitis A. Dinkes juga akan berusaha maksimal menyembuhkan pasien yang telah tertular atau men derita wabah ini. [DIR]