Dewan Pers

Dark/Light Mode

Hindari Bencana Alam, BMKG Ajak Publik Jaga Kelestarian Alam

Jumat, 22 Juli 2022 22:20 WIB
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (Foto: Dok. BMKG)
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (Foto: Dok. BMKG)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengajak seluruh komponen masyarakat menjaga kelestarian alam supaya terhindar dari bencana alam akibat kencangnya laju perubahan iklim yang diperparah dengan kerusakan lingkungan. Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, kata dia, memicu terjadinya cuaca ekstrem yang kemudian menjadi penyebab berbagai bencana alam hidrometeorologi seperti siklon tropis, banjir, banjir bandang, tanah longsor, puting beliung, gelombang tinggi laut, dan lain sebagainya.

"Cuaca ekstrem yang intensitasnya semakin sering dan durasinya semakin panjang ini juga mengancam ketahanan pangan nasional. Karenanya, untuk menjaga produktivitasnya, kami terus melakukan pendampingan kepada para petani dan nelayan agar mampu memitigasi dan beradaptasi dengan perubahan iklim," ujar Dwikorita, saat peringatan Hari Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Nasional (HMKGN) 2022, di Jakarta, Kamis (21/7). HMKGN 2022 mengambil tema "SDM unggul, BMKG Andal, Indonesia Tangguh".

Risiko krisis pangan akibat cuaca ekstrem tersebut, lanjut Dwikorita, semakin diperparah dengan kondisi pasca pandemi Covid-19 dan perang antara Rusia-Ukraina yang mengganggu rantai pasok pangan dan energi global. Apabila hal ini terus dibiarkan, akan menjalar ke berbagai persoalan lainnya, termasuk ekonomi dan politik.

Dwikorita menyebut, saat ini sejumlah kajian menunjukkan dampak nyata perubahan cuaca ekstrem yang bersifat lokal dan global. Berdasarkan analisis hasil pengukuran suhu permukaan dari 92 Stasiun BMKG dalam 40 tahun terakhir, menunjukkan kenaikan suhu permukaan lebih nyata terjadi di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah. Pulau Sumatera bagian timur, Pulau Jawa bagian utara, Kalimantan dan Sulawesi bagian utara mengalami tren kenaikan  > 0,3 derajat celcius per dekade.

Berita Terkait : Pria Ajak Tupai Jalan-jalan

Laju peningkatan suhu permukaan tertinggi tercatat di Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Kota Samarinda (0,5 derajat celcius per dekade). Sementara itu, wilayah Jakarta dan sekitarnya, suhu udara permukaan meningkat dengan laju 0,40-0,47 derajat celcius per dekade.

"Secara rata-rata nasional, untuk wilayah Indonesia, tahun terpanas adalah 2016 yaitu lebih tinggi sebesar 0,8 derajat celcius dibandingkan periode normal 1981-2010. Sementara, tahun terpanas ke-2 dan ke-3 adalah 2020 dan 2019 dengan anomali sebesar 0,7 derajat celcius dan 0,6 derajat celcius," imbuhnya.

Analisis BMKG tersebut, lanjut Dwikorita, senada dalam laporan Status Iklim 2021 (State of the Climate 2021) yang dirilis Badan Meteorologi Dunia (WMO), Mei 2022. WMO menyatakan, hingga akhir 2021, suhu udara permukaan global telah memanas sebesar 1,11 derajat celcius dari baseline suhu global periode pra-industri (1850-1900), dengan 2021 sebagai tahun terpanas ke-3 setelah 2016 dan 2020.

WMO juga menyebutkan, dekade terakhir 2011-2020, adalah rekor dekade terpanas suhu di permukaan bumi. Lonjakan suhu pada 2016 dipengaruhi variabilitas iklim yaitu fenomena El Nino kuat. Sementara itu, terus meningkatnya suhu permukaan pada dekade-dekade terakhir yang berurutan merupakan perwujudan dari pemanasan global.

Berita Terkait : DKI Ajak Warga Padamkan Lampu 60 Menit

Dalam peringatan HMKGN tahun ini, Dwikorita kembali menekankan pentingnya kesadaran umat manusia bahwa betapa seriusnya dampak perubahan iklim baik terhadap Indonesia dan dunia. Kawasan Indonesia mengalami peningkatan suhu dalam kisaran 1 derajat celcius dan dapat bertambah mencapai 3 derajat celcius di akhir abad ini.

Peningkatan 1 derajat celcius saja, lanjut dia, dapat berdampak cuaca ekstrem seperti siklon tropis, hujan ekstrem, angin kencang/puting beliung, gelombang tinggi, yang dapat memicu banjir, banjir bandang, tanah longsor dan bencana hidrometeorologi lainnya. Jika tidak ditahan, laju pemanasan di Indonesia dan global, bahkan dapat mencapai 3 derajat celcius pada akhir abad 21.

"Ini adalah masalah yang sangat serius. Kuncinya, mari kita bersama-sama melakukan penghijauan masif, menggunakan transportasi publik, mengubah energi fosil ke energi terbarukan dan melakukan langkah-langkah pelestarian lingkungan, penghijauan, penanaman mangrove, dan lain sebagainya," tambahnya.

"Kuncinya yaitu kita jaga alam kita. Tidak kita rusak, kita hijaukan, penghijauan makin digalakkan, penanaman mangrove, menghutankan kembali, dan kita jaga laju kenaikan suhu udara di permukaan dan muka air laut agar menahan frekuensi kejadian bencana hidrometeorologi," kata dia.

Berita Terkait : Lestari Ajak Jaga Ruang Publik Dari Ujaran Kebencian

Dwikorita juga mengingatkan setiap pemangku kepentingan agar dapat memberikan perannya dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (karbon). Hal ini mensyaratkan masyarakat untuk juga mulai mengurangi penggunaan energi fosil, bertransformasi ke energi hijau, dan lebih banyak menggunakan transportasi publik.■