Dewan Pers

Dark/Light Mode

Lestari Ajak Jaga Ruang Publik Dari Ujaran Kebencian

Selasa, 21 Juni 2022 22:30 WIB
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. (Foto:Istimewa)
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. (Foto:Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya melawan ujaran kebencian di tanah air harus terus dilakukan di tengah kebhinekaan bangsa. Masyarakat dituntut memperkuat persatuan untuk menjaga setiap proses pembangunan berjalan lancar.

"Di tengah keberagaman dan kompleksnya tantangan pembangunan saat ini, bangsa ini membutuhkan kebersamaan yang kuat untuk menjawab setiap tantangan. Pola komunikasi yang baik dan bebas dari ujaran kebencian di ruang publik menjadi sebuah keharusan," kata Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Selasa (21/6).

Berita Terkait : Lestari Harap Keterwakilan Perempuan Di Parlemen Meningkat

Pada Sabtu (18/6) dunia untuk pertama kalinya memperingati Hari Melawan Ujaran Kebencian Sedunia, setelah tahun lalu Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menyoroti keprihatinan global terhadap ujaran kebencian, terutama cyber bullying di seluruh dunia.

Februari 2022 lalu, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengajukan 1.042 akun media sosial untuk diberikan peringatan karena diduga menyebarkan konten bermuatan ujaran kebencian berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Berita Terkait : Universitas Telkom Berikan Pembelajaran Konten Digital Untuk Habim TV

Menurut Lestari, efek ujaran kebencian di ruang publik yang mampu memecah belah suatu bangsa itu harus menjadi perhatian serius semua pihak di negeri ini. Apalagi, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, dalam waktu dekat tahapan pemilu serentak yang sarat dengan aksi kompetisi perorangan hingga kelompok berpotensi menimbulkan friksi.

Menurut Rerie, upaya dini untuk terus menginformasikan pola-pola komunikasi yang santun dan bertanggung jawab di ruang publik harus disosialisasikan kepada masyarakat luas.

Berita Terkait : Lagi, Zheng/Huang Raih Gelar Di Istora Senayan

Karena, jelas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, sebagian besar pelaku ujaran kebencian mengaku tidak tahu batasannya.

"Upaya sosialisasi harus diikuti dengan langkah edukasi yang mudah dipahami masyarakat untuk menekan potensi ujaran kebencian di ruang-ruang publik," sarannya. ■