Dark/Light Mode

Subsidi BBM Lebih 500 Triliun

Negara Manapun Berat, Untungnya Kita Masih Kuat…

Rabu, 3 Agustus 2022 07:00 WIB
Presiden Jokowi. (Foto: Setkab)
Presiden Jokowi. (Foto: Setkab)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi bicara soal subsidi BBM yang sudah membengkak mencapai Rp 502 triliun. Kata eks Wali Kota Solo itu, masyarakat perlu bersyukur, karena pemerintah masih sanggup memberikan subsidi. Sementara negara lain sudah menyerah.

Di negara lain, harga BBM per liter sudah tembus Rp 30 ribuan. Sementara BBM jenis Pertalite di sini, masih dibanderol Rp 7.500 per liter. "Perlu kita ingat. Subsidi terhadap BBM sudah terlalu besar. Dari Rp 170 triliun, sekarang sudah Rp 502 triliun," cetus Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (1/8) malam.

Selain soal subsidi, Jokowi juga menyinggung harga dan stok pangan di Indonesia masih aman. Padahal, krisis pangan yang dihadapi dunia mengakibatkan 330 juta orang kelaparan. Jumlah itu masih akan terus berlanjut hingga sekitar 800 juta orang di tahun depan. "Karena tidak ada yang dimakan sekali lagi," ungkap Jokowi.

Hal senada dikatakan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Dia juga optimis pertumbuhan ekonomi tahun ini masih di angka 5,2 persen. Saking pedenya, ia juga meramal perekonomian Indonesia tahun depan berada di rentang 5,2-5,9 persen.

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian pemerintah. Di antaranya, pengendalian pandemi, kebijakan ekonomi fiskal dan moneter, serta penciptaan lapangan kerja.

Baca juga : Dubes RI Lena Maryana Lepas Keberangkatan 22 Nakes Ke Kuwait

"Beberapa hal yang kita lihat emerging market masih tumbuh 4,2 persen. Pertumbuhan Indonesia relatif masih baik. World Bank sendiri masih memproyeksikan pertumbuhan kita masih 5,2 persen. Sedangkan IMF lebih tinggi di 6 persen," tutur Airlangga dalam webinar Mid Year Economic Outlook 2022, kemarin.

Sementara Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengungkapkan, beberapa lembaga internasional merevisi proyeksi ekonomi global menjadi lebih rendah dari prediksi sebelumnya. IMF, merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 4,1 persen menjadi 2 persen tahun ini. Sementara, Bank Dunia mengubah proyeksi mereka dari 3,6 persen menjadi 3,2 persen.

"Isu-isu yang menjadi perhatian Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Serta meningkatnya risiko stagflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global," ungkap Sri Mul.

Ia juga mewaspadai risiko resesi meningkat di global. Maklum saja, negara sekaliber Amerika Serikat baru saja masuk ke jurang resesi pada kuartal II-2022. Pertumbuhan ekonomi di berbagai negara, termasuk Eropa, Jepang, China, dan India diprediksi lebih rendah.

Potensi resesi di sejumlah negara diperparah dengan tekanan inflasi yang terus meningkat. Hal ini karena harga komoditas semakin mahal imbas perang Rusia-Ukraina.

Baca juga : Sesmenpora Jonni Mardizal: Kampus Berperan Penting Cetak Generasi Sehat

Lonjakan inflasi di global juga membuat bank sentral di sejumlah negara mengerek suku bunga acuan. Salah satunya The Fed yang menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin menjadi 2,25 persen-2,5 persen bulan lalu.

Sri Mul khawatir, kenaikan suku bunga acuan di sejumlah bank sentral berpotensi membuat ekonomi beberapa negara melambat, termasuk AS. "Ini juga yang meningkatkan fenomena stagflasi yaitu inflasi tinggi yang dikombinasikan dengan kondisi perekonomian yang melemah," paparnya.

Meski begitu, ia mengklaim sistem keuangan di Indonesia masih baik-baik saja. Sekalipun di tengah ketidakpastian ekonomi global. "Stabilitas sistem keuangan berada dalam kondisi yang masih terjaga di tengah tekanan perekonomian global yang meningkat," cetus Sri Mul.

Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, Dana Pihak Ketiga (DPK) valas memang tumbuh 4,5 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Akan tetapi, deposito dan giro mengalami perubahan.

"Perubahan pada giro dan deposito justru menggambarkan kalau ekonomi sedang ekspansif. Orang-orang yang tadinya menyimpan dana di deposito ke giro berarti siap belanja dan ini sinyal ekonomi akan tumbuh," ungkap Purbaya.

Baca juga : Puan Ajak Negara Maju Bantu Atasi Perubahan Iklim

Pada Januari, bunga deposito lebih tinggi dan giro lebih rendah. Deposito valas mencapai 21,42 miliar dolar AS dan di Juni turun menjadi 19,94 miliar dolar AS. Sedangkan giro, pada Januari sebesar 36,48 miliar dolar AS, dan pada Juni 37,55 miliar dolar AS.

Lalu apa kata pengamat? Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira fokus mengkritisi pernyataan Jokowi. Menurutnya, kemampuan APBN menahan laju harga BBM, semata-mata karena Indonesia mendapat "durian runtuh" dari kenaikan harga komoditas yang sifatnya temporer. Batubara sepanjang semester I 2022 menyumbang pendapatan negara yang besar. Begitu juga kelapa sawit (crude palm oil/CPO) juga tengah booming.

"Tapi perlu dicatat, risiko terjadinya resesi secara global dan normalisasi pasokan komoditas bisa membuat pendapatan negara terkoreksi. Jadi jangan lengah karena berharap dari komoditas sama dengan naik roller coaster, naik turun tidak pasti," ulas Bhima, tadi malam.

Prediksinya, APBN mulai mengalami tekanan pada kuartal III dan IV tahun ini. Ia menyesalkan, sejumlah proyek infrastruktur yang enggan mengalah. Padahal, beban belanjanya tinggi (cost overun), tetapi tetap berjalan menggunakan APBN.

Kemudian, anggaran persiapan Pemilu juga cukup besar. Ditambah, beban belanja pegawai dan belanja barang yang mulai normal kembali setelah dipangkas selama pandemi. "Ruang fiskal ikut menyempit karena pembayaran bunga utang relatif tinggi. Tahun ini Rp 405,9 triliun untuk bayar bunga utang," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.