Dewan Pers

Dark/Light Mode

Indonesia-Amerika Pererat Kerja Sama Bilateral Perubahan Iklim

Kamis, 11 Agustus 2022 19:02 WIB
Menteri LHK, Siti Nurbaya dalam sambutannya pada pertemuan Gugus Tugas 2, Kelompok Kerja Perubahan Iklim mengenai Natural Capital and Ecosystem Services: FOLU, Mangroves, and Ocean, secara hybrid pada Rabu (3/8) malam.
Menteri LHK, Siti Nurbaya dalam sambutannya pada pertemuan Gugus Tugas 2, Kelompok Kerja Perubahan Iklim mengenai Natural Capital and Ecosystem Services: FOLU, Mangroves, and Ocean, secara hybrid pada Rabu (3/8) malam.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat sepakat menahan kenaikan suhu global. Pemerintah Indonesia sendiri telah melakukan berbagai aksi iklim secara sistematis berdasarkan konvensi internasional.

Hal tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam sambutannya pada pertemuan Gugus Tugas 2, Kelompok Kerja Perubahan Iklim mengenai Natural Capital and Ecosystem Services: FOLU, Mangroves, and Ocean, secara hybrid pada Rabu (3/8) malam.

Dalam kesempatan itu, Siti menjelaskan, bahwa Indonesia sudah melakukan langkah-langkah perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Salah satunya, dalam upaya memenuhi komitmen Paris Agreement, Indonesia meluncurkan "Indonesia's FOLU Net Sink 2030. 

Dengan target tersebut, Indonesia ingin mencapai pengurangan emisi GRK dari sektor kehutanan dan lahan, di mana tingkat penyerapan sama atau lebih tinggi dari tingkat emisi.

Berita Terkait : ASEAN-UE Gelar Pameran Pendidikan Virtual

"FOLU Net Sink 2030 Indonesia menunjukkan ambisi iklim kita melalui pendekatan yang lebih terstruktur dan sistematis. Ini memberikan target pembangunan yang terfokus dan terukur, di mana untuk pertama kalinya semua program kegiatan memiliki satuan ukuran yang sama, yaitu setara CO2,” tuturnya.

Menteri Siti mengatakan, Pemerintah Indonesia juga fokus pada potensi penghasil karbon lain yang mampu menyerap karbon setara atau bahkan lebih besar dari hutan terestrial, yaitu dari sektor pesisir dan ekosistem laut, atau karbon biru (blue carbon). Pengembangan karbon biru sangat penting dan memiliki potensi yang signifikan di Indonesia, khususnya ekosistem mangrove. 

“Pengelolaan karbon biru yang lebih baik akan membawa banyak manfaat, antara lain peningkatan nilainya, di mana Pemerintah telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon untuk mengaturnya,” terangnya.

Saat ini, Indonesia juga memiliki peta mangrove nasional, dengan luas lebih dari 3 juta hektar, dengan cadangan karbon yang tersimpan diperkirakan mencapai 3 miliar metrik ton. 

Berita Terkait : RMA Indonesia Buka Dealer Ford 3S Pertama Di Jakarta

Pemerintah sejauh ini telah menanam lebih dari 80 ribu hektar mangrove. Seperti yang diarahkan oleh Presiden Joko Widodo, akan ada penanaman mangrove lebih dari 600 ribu hektare.

“Kami berharap kerja sama ini dapat difokuskan untuk saling mendukung dalam menjaga ekosistem alam, serta menciptakan terobosan untuk mengoptimalkan penyerapan emisi karbon dengan tetap mempertimbangkan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Siti mengakhiri sambutannya.

Pada kesempatan tersebut, Robert Blake selaku Advisor to the US SPEC, John Kerry menyampaikan, bahwa AS memandang Indonesia sebagai mitra strategis yang sangat kuat di berbagai bidang. Dalam hal ini, kerja sama iklim yang menjadi sangat penting, khususnya dalam transisi energi.

Pemerintah AS juga menyadari pentingnya hutan dan ekosistem karbon biru yang sangat membantu untuk mencapai tujuan iklim. AS percaya bahwa Indonesia dapat menjadi contoh yang positif, menunjukkan bagaimana negara-negara dapat menyeimbangkan pembangunan ekonomi dan konservasi serta peningkatan ekosistem.

Berita Terkait : Gandeng Ditjen Diktiristek, BNI Perkuat Kerja Sama Peningkatan Sistem Keuangan

"Salah satu contohnya, tentu saja, adalah komitmen FOLU Indonesia yang kuat termasuk Rencana Operasi 2030 Net Sink, dan kemajuan yang telah Indonesia buat selama lima tahun terakhir untuk menurunkan laju deforestasi," ungkapnya.

Lebih lanjut, Blake menyampaikan AS ingin menjadi mitra kuat Indonesia untuk mengimplementasikan komitmen dan rencananya di bawah Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030.â–