Dark/Light Mode

Muhammad Awaluddin, Presiden Direktur PT AP II

Mati-matian Ngeset Bandara Go Global

Sabtu, 22 Desember 2018 08:11 WIB
Presiden Direktur PT Angkasa Pura (AP) II Muhammad
Awaluddin (kedua kanan), melakukan salam komando dengan Direktur Rakyat
Merdeka Group Kiki Iswara Darmayana, disaksikan Direktur Keuangan AP
II Andra Y. Agussalam (kiri) dan Pimpinan Umum Rakyat Merdeka Ratna Susilowati saat berkunjung ke dapur Redaksi Rakyat Merdeka, Jumat (21/12). (Foto: Wahyu Dwi Nugroho/Rakyat Merdeka)
Presiden Direktur PT Angkasa Pura (AP) II Muhammad Awaluddin (kedua kanan), melakukan salam komando dengan Direktur Rakyat Merdeka Group Kiki Iswara Darmayana, disaksikan Direktur Keuangan AP II Andra Y. Agussalam (kiri) dan Pimpinan Umum Rakyat Merdeka Ratna Susilowati saat berkunjung ke dapur Redaksi Rakyat Merdeka, Jumat (21/12). (Foto: Wahyu Dwi Nugroho/Rakyat Merdeka)

 Sebelumnya 
Awaluddin menuturkan, saat ini AP II sedang mengikuti tender pengelolaan Bandara Internasional Clark di Angeles City, Manila, Filipina. “Namun, tagline Go Global bukan karena AP II membidik pengelolaan bandara itu ya. Tetapi karena mengikuti arus bisnisnya,” ujarnya.

Terkait itu, Awaluddin menyebutkan tiga hal. Yaitu, the traffic, the peopledanthe network. Dia menjelaskan, Go Global merupakan ukuran bagaimana setiap bandara yang dikelola AP II sesuai standar internasional. Ini faktor penting karena bandara adalah industri yang sangat benchmarkable dan comparable sehingga dapat dirasakan langsung perbedaannya.

Baca juga : Kurang Apa, Papua Dapat 10 Persen

“Kami ngeset mati-matian agar bandara kita punya standar global. Mengelola bandara bukan maunya kita sendiri. Orang yang datang ke bandara macam-macam dari berbagai tempat di dunia. Ini yang kadang nggak terpikirkan,” jelasnya.

Selain itu, tagline Go Global mengikuti arahan Presiden Jokowi yang menginginkan Bandara Kualanamu di Medan, bisa menjadi second hub internasional. Untuk mewujudkan itu, dia mengatakan, ada tiga hal yang mesti diperhatikan. Pertama, expansion, yaitu kemampuan, pengalaman bandara dan peningkatan traffic.

Baca juga : Gerbang Udara Baru Di Sulawesi Tengah

Kedua, expertise, pengetahuan operasional, manajemen dan bisnis bandara. Ketiga, equity, yakni memiliki akses dan kemampuan untuk memberikan pendanaan pada pengembangan jangka panjang.

“Bandara Internasional Kualanamu, bandara komersial terbesar keempat di Indonesia. Didukung potensi ekonomi yang menjanjikan serta posisi geografis yang strategis. Bandara Kualanamu punya potensi untuk menjadi hubungan internasional dan domestik kedua di Indonesia,” tuturnya.

Baca juga : Puan Harumkan Nama Indonesia

Saat ini, jumlah penumpang di Kualanamu mencapai 11 juta, 90 persen domestik, 10 persen internasional. Menurut Awaluddin, idealnya untuk hub itu 35 sampai 40 persen internasional. “Soetta saja belum mencapai angka itu, hanya 11-12 persen. Dibandingkan dengan Bandara Changi Singapura masih jauh. Karena Changi 100 persennya internasional,” kata Awaluddin guyon.

Walau begitu, Awaluddin menekankan, bukan berarti Bandara Soetta jelek. Soetta itu dinobatkan sebagai hub terbesar kedua setelah Changi oleh OAGMegahubs International Index. Dan soal koneksi, Soetta berada di urutan ke-10 di dunia, mengalahkan bandara terbesar seperti Incheon Korea Selatan, KLIA Malaysia dan Hong Kong.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.