Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Cegah Stunting Di Tingkat Desa
Sebelum Pake USG, Cek Hamil Cuma Diraba-raba
Sabtu, 14 Januari 2023 07:55 WIB
Sebelumnya
Usai meninjau Puskesmas, eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ini melanjutkan kunjungan ke Desa Labuhan Sumbawa, untuk mengecek masalah kemiskinan ekstrem dan stunting.
Berdasarkan data, jumlah penduduk miskin ekstrem Kabupaten Sumbawa sebanyak 15.370 jiwa atau 3,20 persen (BPS, 2022).
Sementara prevalensi stunting di Kabupaten Sumbawa sebesar 29,7 persen atau 12.765 balita (Data SSGI, 2021).
Baca juga : Dinkes Waspadai Pasien Bergejala Hepatitis
Muhadjir menerangkan, Presiden Jokowi telah menargetkan masalah kemiskinan ekstrem nasional di tahun 2024 entas menjadi 0 persen, dan masalah stunting turun menjadi 14 persen.
Menurutnya, permasalahan kemiskinan ekstrem dan stunting beririsan. Penyebab stunting dilatarbelakangi oleh fenomena kemiskinan ekstrem seperti kendala dalam mengakses kebutuhan dasar, akses air bersih, fasilitas sanitasi dan lainnya.
“Saya sampaikan, stunting ini 60 persen beririsan dengan keluarga miskin ekstrem,” tutur Muhadjir.
Baca juga : Semoga Santunan Kematian Para Nakes Segera Cair
Karena itu, menurut dia, untuk menyelesaikan masalah kemiskinan ekstrem dan stunting harus dikeroyok bersamaan.
Muhadjir memaparkan, Pemerintah melakukan upaya serius dalam penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem melalui intervensi spesifik dan intervensi sensitif.
Intervensi gizi spesifik, yakni intervensi yang berhubungan dengan peningkatan gizi dan kesehatan.
Baca juga : HNW Beri Program Tambahan Makanan Untuk Posyandu
Sementara intervensi gizi sensitif, yakni intervensi pendukung untuk mempercepat penurunan stunting, seperti penyediaan air bersih, MCK, dan fasilitas sanitasi.
“Terutama untuk intervensi sensitif melibatkan kementerian lain. Sedangkan untuk intervensi spesifik dari Kementerian Kesehatan. Itu harus dikoordinasikan,” tandasnya. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya