Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Songsong Indonesia Emas 2045, HCI Indonesia Harus Ditingkatkan

Rabu, 12 Juli 2023 11:58 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Staf Khusus Wakil Presiden Gatot Prio Utomo menggandeng dunia pendidikan, para guru, siswa, mahasiswa dan jaringan perguruan tinggi untuk meningkatkan indeks modal manusia (Human Capital Index/HCI) Indonesia.

Sinergi ini diharapkan dapat menyasar dua isu strategis yaitu meningkatkan mutu pendidikan dasar dan mencegah tumbuhnya prevalensi stunting.

"Jika kita berhasil mempercepat peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah serta mencegah berulangnya stunting terutama dari calon keluarga muda, saya optimis Indonesia Emas 2045 itu bisa kita raih dengan lebih rasional," tegas Gatot dalam Diskusi Terpumpun bertajuk Peran Dunia Pendidikan dalam Pencegahan Stunting yang diselenggarakan Sekretariat Wakil Presiden di Jakarta, Selasa (11/7).

Baca juga : Insight First Indonesia Targetkan Jual 3.000 Buku Per Hari, Begini Caranya

Saat ini ,HCI Indonesia berada di angka 54 persen. Angka ini memberikan gambaran produktivitas anak Indonesia hingga 18 tahun ke depan.

Jauh tertinggal dari produktivitas anak Singapura yang mencapai 88 persen. Juga masih lebih rendah dari anak Palestina yang 58 persen.

Rendahnya HCI Indonesia terjadi setidaknya dilihat dari dua indikator besar yaitu masalah kesehatan dan pendidikan.

Baca juga : Dirut Bank DKI: Ini Kado Istimewa HUT Jakarta ke-496

Persoalan prevalensi stunting Indonesia yang masih berada pada angka 21,6 persen menjadi persoalan serius indeks modal manusia.

Sedangkan di sektor pendidikan, terjadi pelemahan pada kemampuan literasi dan numerasi dengan nilai Harmonize Test Score (HTS) mencapai 395 dari total nilai 625.

"Indonesia bersyukur dapat menurunkan prevalensi stunting hingga berhasil ke angka 21,6 persen. Tantangan berikutnya adalah percepatan peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah. Dibutuhkan percepatan baik secara regulatif maupun gerakan dan kolaborasi di masyarakat," kata Gatot.

Baca juga : Kolaborasi Wujudkan Visi Indonesia Emas 2045, Bank DKI Berhasil Raih Penghargaan

Menurutnya, strategi percepatan penurunan prevalensi stunting dapat menjadi model dan praktik baik yang bisa menjadi acuan di berbagai daerah dan digerakkan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Dunia pendidikan, para guru, dosen, mahasiswa, dan siswa-siswi, anggota Pramuka dapat bergerak secara mandiri dan berjejaring untuk mengkampanyekan isu-isu pencegahan stunting ini di masyarakat dan di media sosial.

"Kita bisa membangun jaringan bersama kampanye pencegahan stunting ini dimulai dari keluarga masing-masing, dari sekolah dan kampus masing-masing. Para alumni perguruan tinggi juga bisa memainkan perannya untuk melihat masa depan Indonesia dimulai dari pencegahan stunting ini di masyarakat. Ayo berkolaborasi bersama,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.