Dark/Light Mode

Bantu Kurangi Polusi Dan Kemacetan

Warga Bijak Ya Naik Transportasi Umum

Selasa, 23 Januari 2024 07:30 WIB
Menteri Perhubungan (Men­hub) Budi Karya Sumadi. (Foto: Antara)
Menteri Perhubungan (Men­hub) Budi Karya Sumadi. (Foto: Antara)

 Sebelumnya 
Nilai tersebut setara dengan 4 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jabo­detabek.

“Penggunaan transportasi massal akan mengurangi ke­macetan lalu lintas secara sig­nifikan,” jelas Luhut.

Salah seorang penumpang TransJakarta, Putri (31) mengaku memilih transportasi massal dari kediamannya di Ciledug menuju Jakarta karena lebih cepat dari­pada menggunakan kendaraan pribadi.

Selain itu, menggunakan kendaraan pribadi ke tempat kerjanya di Gedung Sinar Mas di Thamrin juga dianggap me­lelahkan.

“Kalau naik motor tetap saja kena macet. Lama banget di ja­lan. Setiap hari saya kan pulang malam, terus berangkat pagi banget,” akunya.

Baca juga : Pertamina Dan Toyota Kembangkan Ekosistem Hidrogen Untuk Transportasi

Dia juga sepakat dengan per­nyataan bahwa penggunaan transportasi umum bisa mengu­rangi pencemaran polusi udara.

Menurutnya, warga yang bijak adalah warga yang menunjukkan kontribusi yang nyata untuk ikut mengurangi kemacetan dan polusi.

“Kalau berpikir bijak ya me­milih naik transportasi umum. Saya pribadi naik (transportasi umum), karena sudah disediakan Pemerintah. Cepat dan nyaman,” ungkapnya.

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, kesadaran ma­syarakat memanfaatkan trans­portasi massal perlu lebih gencar.

Dia juga menyarankan agar wilayah penyangga Jakarta bisa diakses oleh transportasi massal yang terhubung ke Jakarta, khu­susnya TransJakarta. Kawasan penyangga yang dimaksud, yaitu Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek).

Baca juga : Pertamina Gandeng Toyota Kembangkan Ekosistem Hidrogen untuk Transportasi

“Karena terbukti ketersediaan akses transportasi umum bisa menekan kemacetan di Jakarta dan sekitarnya,” papar Djoko.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata ini mengatakan, integrasi antarmoda antara moda kereta api dan angkutan umum diperlukan untuk memberikan kemudahan bagi warga menggunakan angkutan umum.

Terlebih, layanan itu mendekati kawasan hunian akan mengalihkan penggunaan kenda­raan pribadi ke angkutan umum.

“Mobil dan motor dapat disimpan di garasi dan mau beralih ke angkutan umum, supaya ke­macetan perjalanan berkurang,” ucapnya.

Menurut data dari Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) tahun 2023 di Jabodetabek, permukiman dibagi menjadi tiga klasifikasi berdasarkan rata-rata harga pada tiap perumahan.

Baca juga : Gibran Blusukan ke Gang-gang di Warakas, Jakarta Utara

Didapatkan 158 perumahan Kelas Atas, 268 perumahan Kelas Menengah dan 1.584 pe­rumahan Kelas Bawah, sehingga didapatkan total 2.010 Perumahan.

“Kita lihat data itu, maka tidak sampai 5 persen kawasan perumahan mendapat fasili­tas layanan angkutan umum. Peluang besar bagi TransJakarta dapat ikut serta melayani se­jumlah kawasan perumahan di Bodetabek,” paparnya.

Djoko menjelaskan, tidak tersedianya akses transportasi umum di kawasan hunian di Bodetabek ikut menyumbang kemacetan. Jika tidak ditangani bisa menimbulkan masalah sistemik dalam jangka panjang.

“Mereka yang muda ini nanti terpaksa mengambil kredit mo­tor atau kendaraan pribadi lain­nya,” ucap Djoko.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Selasa 23/1/2024 dengan judul Bantu Kurangi Polusi Dan Kemacetan, Warga Bijak Ya Naik Transportasi Umum     

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.