Dark/Light Mode

Peluang Melompat Besar

Jokowi: 3 Periode Lagi, Indonesia Bisa Jadi Negara Maju, Tapi Nggak Ujug-Ujug

Jumat, 1 Maret 2024 20:39 WIB
Presiden Jokowi saat memberikan sambutan dalam acara Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah XX, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (1/3/2024). (Foto: YouTube)
Presiden Jokowi saat memberikan sambutan dalam acara Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah XX, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (1/3/2024). (Foto: YouTube)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi yakin, di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, Indonesia memiliki peluang untuk melompat. 

Mengutip hasil perhitungan lembaga-lembaga internasional seperti Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), World Bank, Dana Moneter Internasional (IMF), McKenzie, juga Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Jokowi mengatakan, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk melompat menjadi negara maju dalam tiga periode kepemimpinan ke depan.

"Tetapi, tantangannya juga sangat besar. Tidak ujug-ujug bisa langsung melompat," ujar Jokowi saat memberikan sambutan dalam acara Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah XX, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (1/3/2024).

Jokowi kemudian menjelaskan awal mula Indonesia melakoni hilirisasi. Dia mencontohkan bahan tambang tembaga, yang diekspor dalam bentuk mentahan oleh PT Freeport selama 55 tahun.

Baca juga : Menkes Sampaikan Kunci Indonesia Jadi Negara Maju Ke Penerima Beasiswa LPDP

"Bayangkan 55 juta tahun. Dan kita tidak tahu, apakah ekspor itu hanya tembaga atau ada emasnya. Oleh sebab itu, sembilan tahun yang lalu, saya paksa mereka agar mau membangun yang namanya industri smelter," beber Jokowi.

"Tidak mudah mengajak mereka untuk membangun industri smelter, karena sudah biasa mengirim bahan mentah ke Jepang dan Spanyol. Kalau industri smelternya ada di sana, berarti kita kehilangan nilai tambah dan kesempatan kerja bagi anak bangsa," imbuhnya.

Karena sulit mendorong untuk membangun industri smelter, pemerintahan Jokowi kemudian melakukan pembelian saham mayoritas PT Freeport oleh BUMN kita. Sehingga, saat ini kita memiliki saham mayoritas 51 persen.

"Setelah kita mayoritas, baru saya perintah BUMN-nya untuk segera membangun industri smelter. Insya Allah, Juni tahun ini, industri smelter PT Freeport yang akan mengolah tembaga dan mungkin ada emasnya berton-ton. Serta akan merekrut anak-anak muda kita. Mungkin, lebih dari 15 ribu atau 20 ribu orang. Nilai tambahan ya juga meloncat," urai Jokowi.

Baca juga : KPK: Korupsi Masih Banyak, Indonesia Susah Jadi Negara Maju

Dia pun memberikan contoh kedua, hilirisasi terhadap bahan tambang nikel. Saat Indonesia mengekspor nikel mentah, nilainya setiap tahun hanya Rp 30-an triliun. Tapi, begitu smelter dibangun, ekspor kita mencapai Rp 510 triliun.

Jokowi menekankan, darı lompatan rupiah itu, kita bisa memungut yang namanya pajak perusahaan. Itu akan menjadi lompatan. Obyek pungutan lainnya adalah pajak karyawan, bea ekspor, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). 

"Kalau kita ikut share di situ, artinya kita dapat deviden. Gede sekali. Perusahaan untung. Negara pun mendapatkan income penerimaan yang juga sangat besar," tutur Jokowi.

"Hilirisasi itu tidak hanya urusan tembaga, nikel, bauksit, atau timah. Hilirisasi juga akan kita dorong di perkebunan, pertanian, perikanan, dan kelautan. Semuanya harus kita hilirisasikan dengan nilai tambah di dalam negeri, kesempatan kerja di dalam negeri," tandasnya.

Baca juga : Indonesia Bisa Jadi Penyedia Energi Dunia

 

 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.