Dark/Light Mode

Tumbuh 4,31 Persen Di Awal Tahun, Manufaktur Penggerak Utama Ekonomi RI

Kamis, 8 Mei 2025 20:01 WIB
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita pada acara Mata Lokal Festival 2025 yang digelar oleh Tribun Network di Jakarta, Kamis (8/5/2025). (Foto: Aditya/RM)
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita pada acara Mata Lokal Festival 2025 yang digelar oleh Tribun Network di Jakarta, Kamis (8/5/2025). (Foto: Aditya/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri pengolahan nonmigas Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 4,31 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan I-2025.

Meski mengalami perlambatan dibanding periode sebelumnya, sektor manufaktur tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 17,50 persen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan bahwa kontribusi manufaktur terhadap PDB meningkat secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q) sebesar 0,19 persen dan secara tahunan sebesar 0,03 persen. “Lebih dari 70 persen subsektor industri mencatatkan pertumbuhan positif. Ini menunjukkan ketahanan sektor manufaktur nasional di tengah dinamika global,” ujarnya pada acara Mata Lokal Festival 2025 yang digelar oleh Tribun Network di Jakarta, Kamis (8/5/2025).

Baca juga : Tumbuh 4,87 Persen, Ekonomi RI Peringkat Dua Di G20

Meski demikian, beberapa subsektor tercatat mengalami penurunan, seperti industri semen, kaca dan keramik, serta industri pengolahan tembakau.

Dari sisi perdagangan internasional, industri pengolahan nonmigas mencatatkan nilai ekspor sebesar 52,90 miliar dolar AS selama triwulan I-2025. Sementara itu, nilai investasi yang berhasil dihimpun sektor ini mencapai Rp 179,70 triliun.

Lebih lanjut, Agus memaparkan capaian penting Indonesia dalam peta industri global. Berdasarkan data World Bank dan United Nations Statistics, nilai Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia pada tahun 2023 mencapai 255,96 miliar dolar AS atau rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Baca juga : Program MBG Diyakini Mampu Dorong Stabilitas Ekonomi

“Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai negara manufaktur terbesar ke-12 di dunia dan terbesar ke-5 di Asia, setelah China, Jepang, India, dan Korea Selatan. Di kawasan ASEAN, posisi Indonesia jauh melampaui negara-negara lain seperti Thailand dan Vietnam,” jelas Agus.

Agus menambahkan bahwa tren MVA Indonesia terus meningkat sejak 2019, dengan pengecualian saat pandemi COVID-19. Saat ini, nilai MVA Indonesia bahkan setara dengan negara-negara industri maju seperti Inggris, Rusia, dan Prancis. Rata-rata MVA global berada di angka 78,73 miliar dolar AS, sementara rerata historis Indonesia mencapai 102,85 miliar dolar AS.

“Ini membuktikan bahwa struktur industri manufaktur nasional kuat, terintegrasi dari hulu ke hilir, dan memiliki daya saing global,” tegas Agus.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.