Dark/Light Mode

Menkomdigi Beberkan Peta Jalan Kecerdasan Artifisial

Pemerintah Fokus Manfaatkan AI Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 3 November 2025 07:20 WIB
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat memberikan sambutan pada acara “AI for Indonesia 2025 by Kumparan” di Ballroom Djakarta Theater, Jakarta, Kamis (23/10/2025). (Foto: Indra/Komdigi)
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat memberikan sambutan pada acara “AI for Indonesia 2025 by Kumparan” di Ballroom Djakarta Theater, Jakarta, Kamis (23/10/2025). (Foto: Indra/Komdigi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) bak pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini berpotensi menggusur jutaan pekerjaan manusia. Di sisi lain, AI justru mem buka peluang lahirnya berbagai profesi baru. 

Diperlukan sumber daya manusia yang tangguh agar ancaman AI bisa diubah untuk mencetak lapangan kerja baru dan jadi mesin penggerak ekonomi. 

World Economic Forum (WEF) dalam laporan berjudul Future of Jobs Report 2025 memprediksi, kemajuan AI akan menggusur sekitar 92 juta pekerjaan di seluruh dunia pada 2030. Di saat yang sama, AI juga berpotensi menciptakan 170 juta pekerjaan baru. Angka ini mengalami kenaikan dibanding laporan WEF pada 2020. Saat itu, lembaga internasional yang bermarkas di Jenewa Swiss tersebut memperkirakan AI akan menggusur 85 juta pekerjaan dan membuka 97 juta pekerjaan baru di 2025. 

Prof. Harald Haas, peneliti dari TITAN Hub, University of Cambridge, Inggris, mengatakan, setiap kemajuan teknologi disruptif memang selalu menyingkirkan jutaan pekerjaan. Haas mencontohkan komputer, ponsel pintar, dan internet telah memangkas beberapa pekerjaan, tapi sekaligus melahirkan pekerjaan baru. Dia menyebut, pola serupa akan terulang dalam menghadapi kemajuan kecerdasan artifisial. 

Baca juga : Gerindra Siap Eksekusi 30 Persen Perempuan Di Pimpinan AKD

Kata Haas, teknologi berbasis AI yang mulai muncul di awal 2020-an sudah mulai mengotomatisasi pekerjaan rutin manusia. AI copilots seperti ChatGPT, sudah berperan sebagai asisten pintar untuk membantu menyelesaikan berbagai tugas sehari-hari. Begitu juga platform low-code yang memungkinkan pembuatan aplikasi dengan sedikit atau bahkan tanpa coding manual. Selain itu, analitik berbasis data kini mampu secara otomatis mengolah dan menafsirkan informasi. 

Menjelang 2030, lanjut Haas, perkembangan AI diprediksi akan semakin pesat. Saat itu, dunia akan memasuki era ekonomi otonom yang sepenuhnya berbasis AI. 

“Pekerjaan umum seperti pengembang perangkat lunak, analis data, dan staf IT diprediksi akan terguncang karena rutinitas mereka bisa diambil alih AI,” tulis Prof. Harald Haas, dikutip dari situs World Economic Forum, Rabu (29/ 10/2025). 

Namun, lanjut dia, dari disrupsi itu akan juga melahirkan peluang baru. Permintaan akan profesi yang menggabungkan keahlian bidang tertentu dengan literasi AI akan melonjak. Seperti arsitek sistem AI, spesialis etika dan tata kelola, perancang kolaborasi manusia-AI, hingga ahli physical AI di bidang robotika dan kendaraan otonom. “In dustri baru yang berpusat pada sistem fisik berbasis AI dan pengambilan keputusan berbantuan AI juga akan muncul, menciptakan jenis pekerjaan serta pertumbuhan ekonomi baru di sektor-sektor yang belum tergarap,” paparnya. 

Baca juga : Di Kuartal III-2025, Jasa Marga Kantongi Laba Rp 2,74 Triliun

Potensi besar AI dalam mendorong pertumbuhan juga disadari pemerintah. Pemerintah bahkan menjadikan AI sebagai salah satu pilar utama untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. 

Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid mengatakan, AI memang bisa menggusur pekerjaan dan di saat yang sama melahirkan pekerjaan baru. “Karena itu, AI perlu diwaspadai, tetapi tidak perlu ditakuti. Indonesia termasuk salah satu negara paling optimis menghadapi perkembangan AI,” kata Meutya, saat memberikan sambutan dalam acara AI for Indonesia di The Ballroom Djakarta Theater, Jakarta Kamis (23/10/2025). 

Pemerintah, kata Meutya, akan memposisikan AI untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Karena itu, pengembangan AI di Indonesia akan difokuskan pada dua hal. Yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi dan sektor produktif, serta meningkatkan daya saing global melalui talenta dan inovasi yang etis dan adil. 

Dua fokus ini sudah masuk dalam Peta Jalan Nasional AI yang saat ini tengah di-finalisasi. Dokumen ini nantinya akan menjadi landasan kebijakan nasional untuk memastikan pemanfaatan AI dilakukan secara tepat dan terarah. 

Baca juga : Kolaborasi Kunci Ekonomi Tumbuh Dan Makin Tangguh

Insya Allah, awal tahun 2026, Perpres Peta Jalan AI sudah bisa keluar dan juga bisa menjadi guidance bagi kita semua,” ujarnya. 

Meutya membeberkan 10 bidang prioritas yang sudah dimasukkan ke dalam Perpres AI. Bidang-bidang itu meliputi: ketahanan pangan; kesehatan; pendidikan; ekonomi dan keuangan; serta reformasi birokrasi. Selain itu politik, hukum, dan keamanan; energi, sumber daya, dan lingkungan; perumahan; transportasi, logistik, dan infrastruktur; serta ekonomi kreatif. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.