Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menkomdigi Beberkan Peta Jalan Kecerdasan Artifisial
Pemerintah Fokus Manfaatkan AI Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Senin, 3 November 2025 07:20 WIB
Sebelumnya
“Karena AI cakupannya sangat luas, kita perlu fokus. Sepuluh bidang ini sudah kita selaras-kan dengan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dari Bapak Presiden,” ujar Meutya.
Selain menyiapkan regulasi, kata dia, pihaknya juga fokus pada pemerataan akses digital. Selain itu, Komdigi juga melakukan kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui Program AI Talent Factory. Program ini bertujuan mengembangkan talenta digital nasional dengan melibatkan akademisi dan praktisi internasional dari Oxford, MIT, serta diaspora Indonesia. Program tersebut telah dijalankan di Universitas Brawijaya sebagai kampus percontohan dan akan diperluas ke berbagai universitas di seluruh Indonesia.
Meutya yakin berbagai upaya itu dapat menjadikan AI sebagai mesin penggerak ekonomi. Apalagi menurut dia, Indonesia termasuk salah satu negara paling optimis di dunia dalam menghadapi perkembangan AI.
Meutya menambahkan, masyarakat Indonesia menunjukkan kesiapan tinggi dalam menerima teknologi baru tanpa rasa takut berlebihan. “Berdasarkan berbagai survei, Indonesia dinilai mampu menyambut AI dengan baik. Masyarakat tidak takut, dan itu pertanda yang sangat positif,” ujarnya.
Baca juga : Gerindra Siap Eksekusi 30 Persen Perempuan Di Pimpinan AKD
Pernyataan Meutya itu sejalan dengan temuan riset internasional yang memperlihatkan tingginya kepercayaan dan antusiasme publik terhadap teknologi ini.
Laporan Stanford HAI AI Index 2025 menempatkan Indonesia di peringkat kedua tertinggi di dunia dalam hal optimisme terhadap AI, hanya kalah dari China. Sebanyak 80 persen responden di Indonesia menilai produk dan layanan AI membawa lebih banyak manfaat daripada kerugian, jauh di atas Kanada (40 persen), Amerika Serikat (39 persen), dan Belanda (36 persen).
Tak hanya optimis, publik Indonesia juga merasa cukup paham soal AI. Sebanyak 86 persen responden mengaku memahami dengan baik apa itu kecerdasan artifisial. Klaim ini juga didukung oleh data adopsi AI yang sangat tinggi. Terutama untuk penggunaan harian dan generative AI.
Dalam laporan yang sama, Indonesia diklaim menempati peringkat ketiga global untuk jumlah kunjungan (visits) ke layanan AI. Angka ini menunjukkan masyarakat Indonesia sangat aktif dalam mencoba dan menggunakan alat berbasis AI. Di kalangan pekerja kantoran, tingkat pemanfaatan generative AI bahkan lebih mencolok. Sebanyak 92 persen pekerja Indonesia diketahui menggunakan teknologi tersebut di tempat kerja, jauh melampaui rata-rata global (75 persen) dan Asia Pasifik (83 persen).
Baca juga : Di Kuartal III-2025, Jasa Marga Kantongi Laba Rp 2,74 Triliun
Senada disampaikan Pengamat Ketenagakerjaan Timboel Siregar. Kata dia, AI adalah keniscayaan, bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Tantangannya adalah bagaimana pemerintah membaca arah perkembangan ini.
“Saat sebagian pekerjaan digantikan AI, kita harus menyiapkan sumber daya manusia (SDM) agar bisa mengisi pekerjaan-pekerjaan baru yang muncul,” kata Timboel saat berbincang dengan Rakyat Merdeka di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Timboel mengatakan, pemanfaatan AI di dunia kerja juga sudah berkembang pesat. Persentase pekerja yang menggunakan AI di Indonesia bahkan sudah mencapai 87 persen. Lebih tinggi dari rata-rata global yang masih sekitar 66 persen pada awal 2025.
Karena itu, dia menilai pembuatan Peta Jalan AI sebagai langkah yang tepat. Pemerintah bisa memastikan pergeseran pekerjaan akibat AI sebagai peluang. Pemerintah juga diharapkan mampu memetakan sektor dan jenis pekerjaan yang akan terdampak maupun berkembang karena AI.
Baca juga : Kolaborasi Kunci Ekonomi Tumbuh Dan Makin Tangguh
Harapannya pemerintah dapat mengidentifikasi potensi lapangan kerja baru sekaligus memastikan SDM Indonesia siap mengisinya. Sementara, pekerja yang berpotensi tergantikan harus segera disiapkan melalui pelatihan dan peningkatan keterampilan (upskilling). “Dengan demikian mereka bisa beradaptasi dengan peluang kerja baru yang muncul,” pungkas Timboel.
Sementara itu, Guru Besar Bidang Kecerdasan Buatan Universitas Syiah Kuala, Prof. Hammam Riza mengatakan, AI sudah mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Menurut dia, upaya pemerintah membuat Peta Jalan AI sudah tepat. Kata dia, untuk memaksimalkan potensi AI butuh penguatan talenta digital, pengembangan riset dan inovasi, serta investasi. Harapannya dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. “Kesiapan sumber daya manusia akan menentukan keberhasilan Indonesia dalam mengadopsi teknologi ini,” kata Riza di Jakarta, Selasa (28/10/ 2025).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya