Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
Di ruang lain, jauh dari lokasi bencana dan pelabuhan, pesan tentang pelayanan humanis ditegaskan kembali. Pada syukuran Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-70, September 2025, Kapolri mengingatkan jajaran Polantas agar lebih dekat dengan masyarakat. “Harapan kita untuk Korlantas jauh lebih bisa humanis, jauh lebih bisa dekat dengan masyarakat,” katanya.
Polantas, kata Sigit, adalah garda terdepan yang setiap hari berhadapan dengan masyarakat yang lelah, terburu-buru, atau sedang tak baik-baik saja. Karena itu, senyum, sapa, dan salam bukan aksesori, melainkan fondasi. Komunikasi yang baik, menurutnya, bisa mengubah konflik menjadi kesepahaman. Teguran tak harus selalu sanksi; kesadaran bisa dibangun dengan empati. Teknologi digital pun diminta terus dimanfaatkan agar layanan makin mudah dan ruang penyalahgunaan menyempit.
Semangat itu, bagi saya, bukan sekadar pidato. Ia hadir dalam pengalaman pribadi yang sederhana—dan justru karena itu bermakna.
Baca juga : OJK Soroti Penagihan Utang Usai Kasus Kalibata
Desember 2025, saya harus membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Jumat itu, hari terakhir sebelum tenggat administratif sebuah tes penting. Sistem online yang katanya memudahkan justru membuat saya tersendat: kolom BPJS menyatakan data saya tak aktif, padahal kartu itu selalu diterima di klinik dan rumah sakit.
Saya datang pagi-pagi ke Polres Tangerang Selatan. Ruang SKCK masih lengang. Tiga siswa magang menyambut ramah dan meminta saya mengisi ulang formulir. Masalah yang sama muncul. Mereka lalu meminta bantuan Aipda Suharjo.
Masih mengenakan pakaian olahraga, dia mendekat, meminta izin membantu. Tanpa bertanya siapa saya, tanpa basa-basi, Aipda Suharjo mengambil ponsel saya dan mengisi data satu per satu. Beberapa menit kemudian, sistem berhasil. Sekitar 20-an menit sejak itu, SKCK saya selesai.
Baca juga : Davina Karamoy, Santai Dan Pasrah Dituding Pelakor
Aipda Suharjo tak tahu —dan memang tak perlu tahu— bahwa saya jurnalis. Apalagi saat itu, saya tidak sedang bertugas melakukan liputan. Yang dia lakukan hanyalah menjalankan tugas: membantu warga yang kesulitan. Pengalaman itu kontras dengan cerita-cerita lama tentang layanan ketus dan berjarak sebagian oknum anggota Polri. Kini, rasanya jauh berbeda.
Hari itu belum selesai. Usai shalat Jumat, saya melanjutkan ke Samsat Ciputat untuk memperpanjang STNK. Sudah lewat tengah hari, tapi layanan lagi-lagi berjalan cepat —“sat-set,” istilah yang pas. Dalam waktu singkat, urusan selesai tanpa drama. Dalam satu hari, dua keperluan saya tuntas oleh layanan Polri yang ramah, sigap, cepat, tentu humanis!
Cerita-cerita ini mungkin terdengar remeh bagi sebagian orang. Tapi bagi mereka yang sedang sangat membutuhkan bantuan, kecepatan, keramahan, dan empati, bisa menjadi kenangan melekat seumur hidup.
Baca juga : Dahnil Anzar dan Babak Baru Sejarah Penyelenggaraan Haji
Dari secangkir kopi di Bakauheni, bengkel darurat di wilayah bencana, pesan humanis di ruang auditorium, hingga meja pelayanan SKCK dan Samsat —Polri sedang bekerja membangun kepercayaan dengan cara-cara membumi. Tak selalu besar, tak selalu ramai. Kadang cukup dengan senyum, sapaan, dan ajakan sederhana: “Ngopi dulu, saudara!” (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya