Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kemkomdigi Perkuat Peran Pers
Jurnalisme Berkualitas Makin Penting Di Era Algoritma & AI
Rabu, 11 Februari 2026 18:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran pers di tengah derasnya arus informasi digital. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria menyebut, jurnalisme berkualitas justru semakin relevan di era algoritma media sosial dan kecerdasan buatan (AI).
Nezar menjelaskan, perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam produksi dan distribusi informasi. Peran algoritma media sosial kian dominan dalam menentukan konten yang dikonsumsi publik. Dalam situasi seperti ini, fenomena post-truth menguat. Pasalnya, algoritma cenderung melayani emosi dan sentimen atau apa yang disukai atau memicu reaksi. Akibatnya, fakta kerap tersisih. Sementara misinformasi dan disinformasi tumbuh subur. Kondisi tersebut, lanjut Nezar, menjadi tantangan besar bagi dunia pers sekaligus titik masuk yang membuat jurnalisme kembali menemukan perannya.
Baca juga : Komdigi Tegaskan Peran Strategis Pers di Era AI pada HPN 2026
"Di titik ini, jurnalisme menjadi sangat relevan dan memiliki signifikansi yang kuat untuk menghadapi banjir misinformasi dan disinformasi," kata Nezar kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (7/2/2026). Nezar menilai industri media perlu kembali pada jati dirinya. Memproduksi konten jurnalistik yang berkualitas untuk melawan gelombang informasi menyesatkan.
Di sisi lain, Nezar menegaskan kehadiran pemerintah untuk memperkuat posisi jurnalisme berkualitas. Salah satunya lewat penerbitan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2024 tentang Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital dalam Mendukung Jurnalisme Berkualitas (Publisher Rights). Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Digital juga telah menetapkan Arah Digital Indonesia. Salah satu langkah konkretnya adalah merampungkan Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional yang akan menjadi acuan pengembangan dan pemanfaatan teknologi AI di Indonesia.
Baca juga : Dana PBB Terancam Habis Juli 2026, Guterres Minta Negara Anggota Bayar Iuran
Berbagai langkah tersebut diharapkan mampu mendorong kolaborasi yang lebih adil dan saling menguntungkan antara media dan platform digital, sekaligus menjaga masa depan jurnalisme yang berkualitas.
Menyambut peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, Nezar mengingatkan insan pers agar tak gentar menghadapi disrupsi teknologi. Perubahan ini, menurutnya, bukan hal baru dan telah dihadapi industri media secara global selama lebih dari satu dekade.
Baca juga : Kepatuhan Platform Digital Masih Rendah
Karena itu, Kemkomdigi mendorong media terus berinovasi menjaga keberlanjutan bisnis tanpa mengorbankan independensi redaksi. Media juga didorong mencari sumber pendanaan yang lebih menjanjikan dan berkelanjutan, serta memperkuat posisi tawar dengan platform digital melalui regulasi yang memberdayakan. “Jurnalisme berkualitas harus mendapatkan posisi yang fair dalam ekosistem digital. Negara hadir untuk memastikan hak publik atas informasi yang benar tetap terlindungi,” pungkas Nezar.
Berikut kutipan selengkapnya:
Bagaimana Bapak melihat dampak transformasi digital terhadap industri media dan jurnalisme saat ini?
Transformasi digital sebenarnya sudah dialami industri media kita sejak sekitar 15 tahun terakhir. Proses ini berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur digital yang disiapkan pemerintah untuk mendorong kemajuan industri dan memperkuat jaringan telekomunikasi nasional. Industri pers berada sebagai salah satu subsistem di dalam infrastruktur digital itu. Mau tidak mau, pers harus mengadopsi teknologi digital karena disrupsi teknologi informasi dan komunikasi tak bisa dihindari. Pada saat yang sama, muncul platform media sosial yang pengaruhnya sangat besar. Bahkan menentukan arus dan distribusi informasi. Perubahan ini berdampak langsung pada perilaku audiens media tradisional. Pembaca banyak bermigrasi ke media sosial. Data menunjukkan lebih dari 70 persen pengguna internet aktif berada di jejaring sosial. Artinya, audiens media hari ini memang terkonsentrasi di platform-platform tersebut.Apa konsekuensi dari dominasi media sosial terhadap distribusi informasi dan posisi media arus utama?
Di media sosial, audiens setiap hari “difeeding” oleh informasi dalam ekosistem platform itu. Kini setiap orang bisa memproduksi sekaligus mengonsumsi informasi. Masalahnya, arus informasi tersebut diatur oleh algoritma. Dalam proses ini, audiens pada akhirnya dikontrol oleh platform media sosial. Dampaknya sangat jelas: media arus utama kehilangan kendali atas distribusi kontennya. Kita menjadi sangat tergantung pada platform. Ketergantungan itu terlihat di hampir semua sektor. Mulai dari e-commerce, kesehatan, pendidikan, hiburan, hingga konsumsi berita. Berita dan konten visual kini banyak dikonsumsi lewat media sosial, termasuk konten berbasis mesin seperti YouTube atau berbasis pencarian seperti Google. Seluruh ekosistem ini memperlihatkan konsentrasi kontrol yang dijalankan melalui algoritma, baik dalam kurasi maupun distribusi konten.Dengan hadirnya kecerdasan buatan, tantangan apa yang dihadapi jurnalisme ke depan?
Kita belum bicara satu lapis teknologi lain yang kini datang sebagai gelombang disrupsi baru, yakni artificial intelligence. Jika sebelumnya algoritma sudah menggunakan machine learning, sekarang AI generatif membuat produksi dan distribusi konten melaju jauh lebih cepat. Akan muncul banyak akun dan agen berbasis AI yang mampu memproduksi informasi. Di satu sisi, konten ini bisa mencerahkan dan berguna. Namun di sisi lain, bisa menyesatkan, membingungkan secara sengaja, dan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Di sinilah misinformasi dan disinformasi tumbuh, baik yang diproduksi mesin maupun oleh aktor-aktor dengan motif politik atau ekonomi. Algoritma menerpa publik dengan informasi yang bercampur aduk, sehingga fakta dan manipulasi sulit dibedakan. Informasi hari ini bercampur aduk. Di ruang itulah bekerja apa yang disebut sebagai post-truth. Disebut post-truth karena algoritma cenderung melayani apa yang kita sukai. Berkaitan dengan sentimen. Misinformasi dan disinformasi bermain di wilayah ini.Seberapa besar tantangan jurnalisme di tengah banjir misinformasi dan disinformasi saat ini?
Ini tantangan yang sangat besar. Namun justru di sinilah jurnalisme menemukan titik masuknya. Jurnalisme menjadi sangat relevan dan memiliki signifikansi yang kuat untuk menghadapi banjir misinformasi dan disinformasi yang kita hadapi hari ini.Apa yang seharusnya dilakukan industri media untuk menjawab tantangan tersebut?
Industri media harus kembali pada jati dirinya, yakni terus memproduksi konten jurnalisme yang berkualitas dan bermutu. Jurnalisme berkualitas adalah alat utama untuk melawan gelombang disinformasi. Informasi yang membingungkan, bahkan bisa menyesatkan masyarakat dalam mengambil keputusan dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip-prinsip jurnalisme berkualitas ini harus terus ditegakkan oleh media-media yang mengusung nilai jurnalistik.Bagaimana peran pemerintah dalam memperkuat jurnalisme berkualitas?
Pemerintah hadir melalui kebijakan afirmatif untuk memperkuat posisi jurnalisme berkualitas. Masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang benar, dan negara wajib melindungi hak tersebut. Karena itu, pemerintah memberikan dukungan kebijakan agar jurnalisme berkualitas bisa tumbuh, sehingga pesan-pesan yang tersampaikan di ruang publik sehat, benar, dan mendukung proses demokrasi. Salah satu bentuk konkretnya adalah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2024 tentang Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital dalam Mendukung Jurnalisme Berkualitas (Publisher Rights). Di dalamnya diatur pembentukan komite pelaksana tanggung jawab platform. Komite ini sudah dibentuk dan berada di bawah koordinasi Dewan Pers. Tugasnya adalah melakukan negosiasi antara media dan platform digital agar tidak terjadi hubungan yang asimetris antara publisher dan platform media sosial.Mengapa hubungan media dan platform digital perlu diatur secara lebih adil?
Selama ini, platform media sosial mengambil banyak keuntungan. Sementara konten yang diproduksi publisher, dengan biaya besar, jangkauannya justru sering dibatasi. Akibatnya, media kesulitan memperoleh dukungan iklan yang memadai sebagai model bisnis. Karena itu, jurnalisme berkualitas harus mendapatkan posisi yang fair dalam hubungan bisnis ini. Pemerintah mendorong agar media dan platform duduk bersama mencari skema berbagi nilai yang saling menguntungkan atau fair value sharing.Terakhir, apa pesan Bapak kepada insan pers menyambut Hari Pers Nasional?
Disrupsi teknologi bukan hal baru. Kita sudah mengalaminya lebih dari satu dekade dan telah memetik banyak pelajaran. Ini juga bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan fenomena global. Karena itu, dibutuhkan inovasi dalam keberlanjutan bisnis media, terutama yang menopang jurnalisme berkualitas. Media perlu mencari sumber pendanaan baru yang lebih menjanjikan dan berkelanjutan. Selain itu, kolaborasi dengan platform digital harus dibangun secara lebih fair, dengan posisi media diperkuat oleh regulasi yang melindungi dan memberdayakan kepentingan jurnalisme.Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya