Dewan Pers

Dark/Light Mode

Buntut Banjir Dan Longsor

Menteri Susi Buru Pembalak Liar Di Sulsel

Sabtu, 2 Februari 2019 09:30 WIB
Bencana banjir besar di Sulsel beberapa waktu lalu. Puluhan orang meninggal. (Foto : istimewa)
Bencana banjir besar di Sulsel beberapa waktu lalu. Puluhan orang meninggal. (Foto : istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya bakal mengusut pelaku pembalakan liar di Sulawesi Selatan (Sulsel). Disinyalir, akibat pembalakan liar itu bencana banjir dan longsor yang menerjang 6 Kabupaten/Kota.

“Kalau lihat dari landscapnya memang ada pembalakan liar,” kata Siti usai memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Perencanaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dan Penanggulangan Banjir Tanah Longsor, di Balai Lingkungan Hidup, Makassar, Sulawesi Selatan, kemarin.

Menurut Siti, banjir dan longsor di Sulsel, disebabkan oleh dua faktor. Faktor alam dan campur tangan manusia. Karena itu, selain melakukan rehabilitasi, kementeriannya akan mengusut tuntas pelaku pembalakan liar di Sulsel “Selain faktor alam, kita akan mendalami dugaan adanya campur tangan manusia hingga terjadi seperti ini,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah menyatakan, banjir dan longsor di sejumlah kabupaten di Sulsel, beberapa hari terakhir diduga akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan.

Berita Terkait : Menteri Susi Tetap Larang Cantrang

Menurutnya, pembalakan liar menyebabkan lahan di lereng Sungai Saddang, yang merupakan sungai terpanjang di Sulsel, menjadi tandus sehingga menyebabkan banjir dan tanah longsor. Melanjutkan keterangannya, Siti berjanji memulihkan lingkungan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Jenebarang, Kabupaten Gowa, Sulsel.

Kawasan tersebut, rusak akibat terjangan banjir bandang beberapa waktu lalu. Siti mengatakan, rehabilitasi lingkungan akan segera dilakukan. Terutama kecepatan tanaman untuk menyerap air sisa banjir. “Pertama kami akan rehab. Nanti akan ditanami kembali. Seluruh tanaman akan ditata ulang,” jelas Siti.

Rehabilitasi dilakukan agar daerah resapan kawasan gunung hutan yang mengalir di sepanjang DAS dapat mereproduksi serapan air dengan baik. Aliran Sungai Jeneberang membentang luas dari hulu kaki Gunung Bawakaraeng Gunung Lompo Battang, Gowa ke hilir, dan bermuara di kawasan pantai Barombong, Kota Makassar. Otomatis, kelebatan vegetasi dengan tanaman yang berkualitas sesuai dengan karakteristik daerah setempat akan berfungsi melindungi daerah-daerah lain yang sebelumnya terdampak.

“Saya sudah ke sini (Gowa) 2015 lalu. Saya lihat, pada waktu itu saya sudah deg-degan. Karena memang pembangunan di daerah lereng gunung kelihatan begitu masif terbangun,” terangnya.

Berita Terkait : Jokowi Pantau Pencairan Duit Bansos PKH Di Ciracas

Melalui Unit Konservasi LHK, Nurbaya menginstruksikan agar kondisi kerusakan lingkungan Gowa mendapat perhatian khusus. Terutama kawasan pembangunan di dataran tinggi yang dijadikan sebagai objek wisata.

“Wilayah-wilayah yang kembali kepada alam itu kan akan kembali pada tujuan wisata. Dan itu merangsang untuk terbangunnya spot-spot,” jelasnya.

Melalui Unit Konservasi LHK, Siti menginstruksikan agar kon- disi kerusakan lingkungan Gowa mendapat perhatian khusus. Terutama kawasan pembangunan di dataran tinggi yang dijadikan sebagai objek wisata.

“Wilayah-wilayah yang kembali kepada alam itu kan akan kembali pada tujuan wisata. Dan itu merangsang untuk terbangunnya spot-spot,” jelasnya.

Berita Terkait : Kementerian BUMN Permak Pabrik Gula

LHK mencatat, 1.300 hektare dari 3.300 hektare area hutan DAS Jeneberang adalah tanaman yang tidak sesuai dengan karakter tanah. Ketidaksesuaian tanah dengan tanaman yang ditanam akan memperparah dampak bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Yang paling penting adalah pengendalian pencemaran lingkungan, vegetasi di kawasan- kawasan lereng dataran tinggi. “Saya kira dengan ini kita akan kelihatan bagaimana langkahnya ke depan untuk rahabilitasi,” pungkasnya. [QAR]

Tags :