Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Harga Avtur Melonjak, Alhamdulillah Ongkos Haji Justru Turun
Kamis, 9 April 2026 19:51 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Alhamdulillah, di tengah lonjakan harga avtur global, ongkos haji Indonesia 2026 justru turun sebesar Rp 2 juta. Pemerintah menegaskan, kebijakan ini menjadi bagian dari komitmen melindungi masyarakat, khususnya jemaah haji 2026.
“Kita pastikan bahwa biaya haji tahun 2026 turun sekitar Rp 2 juta walaupun harga avtur naik,” kata Presiden Prabowo Subianto, dalam Rapat Kerja Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Sebelumnya, Pemerintah dan DPR menyepakati Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2026 sebesar Rp 87,4 juta per jemaah, turun sekitar Rp 2 juta dari BPIH 2025 yang sebesar Rp 89,41 juta. Sedangkan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) 2026 atau biaya yang harus dibayar jemaah ditetapkan Rp 54,19 juta, turun sekitar Rp 1,24 juta dari Bipih 2025 yang sebesar Rp 55,24.
Kebijakan ini diambil dalam Rapat Kerja Kementerian Haji dan Umrah bersama Panitia Kerja (Panja) Haji DPR, pada akhir Oktober 2025. Pemerintah memutuskan, ongkos haji tidak berubah meski saat ini harga avtur melonjak.
Seperti diketahui, imbas dari konflik Timur Tengah (Timteng), harga avtur naik tajam. Di Thailand, harga avtur mencapai Rp 29.518 per liter. Sementara di Filipina, Rp 25.326 per liter
Baca juga : Harga Avtur Meroket, Tiket Pesawat Boleh Naik 13%
Di Indonesia pun sama. Mulai 1 April 2026, avtur di Bandara Soekarno-Hatta dijual Rp 23.551 per liter. Angka ini naik sekitar 70 persen dibanding posisi pada Maret yang masih Rp 13.656,51 per liter.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyebut bahwa durasi antrean keberangkatan ibadah haji mulai tereduksi, dari sebelumnya 48 tahun menjadi 26 tahun. “Saya akan berjuang untuk lebih ringkas lagi,” ucapnya.
Kepala Negara menambahkan, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia kini memiliki lahan di Makkah seluas 45 hektare. Lahan ini akan dibuat menjadi Perkampungan Haji Warga Negara Indonesia (WNI). Di lahan tersebut, Pemerintah berencana membangun puluhan menara untuk menampung jemaah asal Indonesia.
Ke depan, Pemerintah juga berharap Indonesia memiliki terminal khusus bagi jemaah Indonesia di bandara Arab Saudi. "Saya minta izin kepada Kerajaan Arab Saudi agar Indonesia bisa punya terminal khusus haji. Supaya (jemaah haji Indonesia) bisa lebih cepat masuk dan keluar,” kata Prabowo.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ikut memastikan, kenaikan harga avtur tidak akan membuat ongkos haji naik. Dia menjelaskan, untuk menekan biaya penerbangan, Pemerintah menerapkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah DTP sebesar 11 persen selama dua bulan.
Baca juga : Harga Avtur Melonjak, Pemerintah Jaga Harga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau
"Dampak kenaikan avtur ini di-absorb oleh Pemerintah. Jadi tidak ada kenaikan biaya haji,” ujar Airlangga, dalam konferensi pers, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026)
Pemerintah akan menanggung beban kenaikan biaya bagi 220 ribu jemaah haji dengan total mencapai Rp 1,77 triliun. “Anggaran Rp 1,77 triliun dibebankan kepada APBN. Dengan demikian, tidak ada dampak bagi para jemaah haji,” pungkas Airlangga.
Biaya Penerbangan Naik Signifikan
Sementara, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menjelaskan, biaya rata-rata penerbangan dalam BPIH 2026 ditetapkan sekitar Rp 33,5 juta per jemaah. Namun, saat ini terjadi kenaikan harga avtur global, terjadi kenaikan premi asuransi terkait perang, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
“Biaya (penerbangan) tersebut meningkat dengan signifikan,” ucapnya, dalam rapat kerja Kementerian Haji dan Umrah bersama Komisi VIII DPR, Rabu (8/4/2026),
Selain itu, situasi geopolitik global juga memunculkan kemungkinan maskapai melakukan pengalihan rute (rerouting) untuk menghindari wilayah udara konflik. Garuda Indonesia dan Saudia Airlines, dua maskapai yang bekerja sama dengan Pemerintah, telah menyiapkan skema penambahan waktu perjalanan.
Baca juga : Harga Plastik Melonjak, Menteri Maman Koordinasi Siapkan Langkah Antisipasi
Melalui surat resmi, Garuda Indonesia mengajukan tambahan biaya penerbangan Rp 7,9 juta dan Saudia Airlines sebesar 480 dolar Amerika Serikat (Rp 8,1 juta) per jemaah berdasarkan rute alternatif yang disiapkan.
Irfan menyebut, dalam skenario tanpa perubahan rute, biaya penerbangan rata-rata per jemaah naik menjadi Rp 46,9 juta atau meningkat 39,85 persen. Sementara, dengan skenario perubahan rute, biaya tersebut bisa melonjak menjadi Rp 50,8 juta atau naik hingga 51,48 persen.
“Kondisi ini menegaskan bahwa penyelenggaraan haji tahun ini berada dalam tekanan faktor global yang semakin kompleks sehingga diperlukan penguatan efisiensi, koordinasi, dan mitigasi untuk menjaga berlanjutan pembiayaan haji,” ujar dia.
Meski demikian, Irfan menegaskan, Pemerintah berkomitmen, beban kenaikan itu tidak dibebankan kepada jemaah. Kementerian Haji dan Umrah pun terus berkoordinasi dengan Garuda Indonesia dan Saudia Airlines untuk merespons perkembangan situasi tersebut.
"Presiden Prabowo berharap, apa pun yang terjadi, jika terjadi kenaikan (biaya ibadah haji), Beliau minta tidak dibebankan kepada jemaah haji,” ucap Irfan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya