Dark/Light Mode

Dari Sumatra hingga NTT, Menteri Dody Kebut Pemulihan Infrastruktur Pascabencana

Sabtu, 22 Agustus 2026 19:17 WIB
Foto: Kementerian PU.
Foto: Kementerian PU.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemulihan infrastruktur pascabencana dikebut Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tak hanya membuka kembali akses jalan yang terputus, Kementerian PU juga mempercepat pemulihan air bersih, fasilitas publik, irigasi, hingga menyiapkan infrastruktur mitigasi untuk menghadapi potensi bencana berikutnya.

Dody mendorong jajaran Kementerian PU bergerak sejak fase awal bencana agar akses masyarakat segera pulih dan fasilitas dasar kembali berfungsi.

Langkah tersebut terlihat dalam penanganan gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT, pada pertengahan Agustus 2026.

Saat turun ke Nagekeo, Dody meminta pemerintah daerah segera menyampaikan titik-titik kerusakan tanpa harus menunggu seluruh proses pendataan rampung.

Menurut dia, informasi awal diperlukan agar tim teknis dan alat berat dapat lebih cepat bergerak ke lokasi terdampak.

“Kami hadir pada setiap bencana, karena arahan Pak Presiden sudah jelas bahwa kita tidak boleh berduka berlama-lama, secepatnya kita harus bangkit. Jadi saya mohon diberikan data lengkapnya, titik-titiknya. Sehingga kami bisa menurunkan tim segera, bisa berkoordinasi dengan kepala-kepala dinas, bisa langsung mengecek satu per satu dan langsung bekerja,” kata Dody.

Dorongan untuk bergerak cepat itu diikuti penanganan di lapangan. Hingga 16 Agustus 2026, sembilan ruas jalan nasional yang terdampak gempa telah kembali fungsional.

Delapan ruas berada di jalur Trans Flores dari Labuan Bajo menuju Ende dan Maumere, sedangkan satu lainnya merupakan ruas Ruteng-Reo-Kedindi.

Sebanyak 40 titik longsoran dan empat titik patahan badan jalan ditangani. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional NTT mengerahkan tujuh ekskavator dan empat loader ke berbagai lokasi terdampak.

Baca juga : Kasatgas Tito Kawal Percepatan Rehab-Rekon Pascabencana Sumatera

Meski akses utama telah dibuka, Dody masih menghadapi pekerjaan di sejumlah titik. Salah satunya ruas Krica-Lidi sepanjang 4,1 kilometer di Desa Pulue yang memiliki sedikitnya 10 titik longsor.

Dua ekskavator dan satu kendaraan pikap dikerahkan ke lokasi. Hingga 19 Agustus 2026, tim gabungan berhasil menembus salah satu titik longsor dan proses pembersihan masih terus dilakukan.

Dorong Layanan Dasar Segera Pulih

Penanganan Dody tidak berhenti pada konektivitas jalan. Pemulihan layanan dasar, terutama air bersih, juga menjadi prioritas.

Di Kabupaten Ende, jaringan perpipaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Inpres 2024 IKK Nangaba rusak akibat gempa.

Perbaikan dimulai pada 16 Agustus dan rampung pada malam berikutnya. Air kemudian kembali mengalir hingga sambungan rumah warga.

Di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, sekitar 7.000 warga di delapan desa membutuhkan dukungan air bersih. Empat tandon berkapasitas masing-masing 1.200 liter dikirim ke lokasi.

Penanganan tidak hanya dilakukan untuk kebutuhan darurat. Pemerintah juga menyiapkan survei geolistrik guna mencari sumber air tanah baru sehingga pasokan air dapat diperkuat dalam jangka lebih panjang.

Dody juga mendorong pemeriksaan fasilitas publik. Personel yang diterjunkan untuk memeriksa bangunan terdampak ditambah dari tiga menjadi 14 orang.

Rumah Sakit Komodo, kantor pemerintahan, rumah ibadah, dan fasilitas umum menjadi bagian dari bangunan yang diperiksa.

Kerusakan jaringan irigasi turut menjadi perhatian. Di Daerah Irigasi Mbay Kiri Lanjutan, saluran tersier rusak sepanjang 250 meter dan patah pada tiga titik. Kondisi tersebut berdampak terhadap sekitar 175 hektare lahan.

Baca juga : Safrizal ZA, dari Penanganan Bencana Banjir Sumatera ke Bencana Gempa Flores

Rangkaian penanganan tersebut menunjukkan pola yang didorong Dody. Akses dibuka lebih dahulu agar mobilitas kembali berjalan, sementara pemulihan air, fasilitas publik, dan infrastruktur pendukung dikerjakan secara paralel.

Jejak Pemulihan di Sumatra

Pola penanganan serupa sebelumnya dijalankan saat bencana melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025.

Berdasarkan data Kementerian PU per 20 Agustus 2026, seluruh 107 ruas jalan nasional terdampak di tiga provinsi tersebut telah kembali fungsional. Sebanyak 43 jembatan nasional yang terdampak juga seluruhnya kembali berfungsi.

Pada jalan daerah, 2.291 dari 2.421 ruas terdampak telah kembali fungsional atau mencapai 94,63 persen. Dari 1.184 jembatan daerah yang terdampak, sebanyak 827 telah kembali berfungsi.

Pemulihan layanan air bersih juga menunjukkan perkembangan signifikan. Sebanyak 178 SPAM yang masuk dalam data penanganan seluruhnya tercatat telah kembali fungsional, terdiri atas 71 SPAM di Aceh, 45 di Sumatera Utara, dan 62 di Sumatera Barat.

Sementara untuk hunian, 1.794 dari 1.914 unit di 18 lokasi telah selesai. Sebanyak 120 unit lainnya masih ditangani di Sumatera Utara. Penanganan terhadap 702 fasilitas umum juga tercatat rampung.

Capaian tersebut menjadi bagian dari pekerjaan Kementerian PU di bawah Dody yang tidak hanya berfokus membuka kembali akses, tetapi juga mengembalikan layanan dasar masyarakat setelah bencana.

Namun, pekerjaan belum seluruhnya tuntas. Dari 31 daerah irigasi kewenangan pusat yang terdampak, 13 telah selesai ditangani. Pada daerah irigasi kewenangan daerah, dua dari 65 lokasi tercatat selesai.

Untuk bendung nasional, empat dari 14 lokasi terdampak telah selesai ditangani. Sementara tiga dari 52 bendung daerah telah rampung. Kondisi tersebut membuat pekerjaan Dody berlanjut setelah fase tanggap darurat selesai.

Jika pada hari-hari pertama fokusnya membuka jalan dan mengembalikan layanan dasar, tahap berikutnya adalah memastikan rehabilitasi infrastruktur tetap berjalan.

Bergerak dari Pemulihan ke Mitigasi

Baca juga : Mendagri dan Menteri PKP Bahas Rekonstruksi Rumah Terdampak Gempa NTT

Arah penanganan kemudian mulai bergerak menuju mitigasi untuk mengurangi risiko kerusakan ketika bencana kembali terjadi.

Di kawasan Gunung Marapi, Sumatera Barat, pembangunan delapan sabo dam tahap pertama dimulai pada Maret 2026. Lima berada di Kabupaten Tanah Datar dan tiga lainnya di Kabupaten Agam.

Delapan sabo dam tersebut dirancang memiliki kapasitas tampung sedimen sekitar 440.000 meter kubik. Pemerintah merencanakan pembangunan 56 sabo dam secara bertahap di 24 sungai sepanjang 2026-2029.

Infrastruktur tersebut disiapkan untuk menahan material dan mengurangi dampak apabila aktivitas Gunung Marapi kembali memicu aliran material ke wilayah di bawahnya.

Dari Sumatera hingga NTT, Dody menghadapi pola tantangan yang hampir sama: bergerak cepat saat bencana terjadi, mengembalikan konektivitas dan layanan dasar, lalu memastikan proses pemulihan berlanjut setelah keadaan darurat berakhir.

Bagi Dody, kecepatan pada hari-hari pertama menjadi penting karena akses yang terputus ikut menghambat distribusi bantuan dan pelayanan kepada masyarakat.

Namun, pekerjaan tidak berhenti setelah jalan kembali dapat dilalui. Pemulihan air bersih, hunian, irigasi, bendung, hingga pembangunan infrastruktur mitigasi menjadi pekerjaan berikutnya untuk memastikan wilayah terdampak tidak hanya kembali berfungsi, tetapi juga lebih siap menghadapi ancaman berikutnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.