Dark/Light Mode

Lewat Riset & Hilirisasi, Wamen Fauzan Pacu Tempe Naik Kelas Jadi Produk Ekspor

Rabu, 2 September 2026 22:05 WIB
Wamendiktisaintek Fauzan menjadi pembicara dalam diskusi publik Ragi Nusantara di Antara Heritage Center, Jakarta, Rabu (2/9/2026). Dok. Kemendiktisaintek
Wamendiktisaintek Fauzan menjadi pembicara dalam diskusi publik Ragi Nusantara di Antara Heritage Center, Jakarta, Rabu (2/9/2026). Dok. Kemendiktisaintek

RM.id  Rakyat Merdeka - Tempe tak lagi sekadar makanan rakyat yang akrab di meja makan. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melihat pangan khas Indonesia itu memiliki peluang besar naik kelas menjadi produk bernilai ekonomi tinggi hingga menembus pasar global.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengatakan, pengembangan tempe membutuhkan dukungan riset, inovasi, pengemasan, hingga penguatan industri.

“Tempe yang selama ini dikenal sebagai makanan rakyat dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi melalui riset, inovasi pengemasan, serta pengembangan industri. Kita tinggal mencari off-taker industri yang mampu memproduksi tempe kelas ekspor,” kata Fauzan dalam diskusi publik Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan di Antara Heritage Center, Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Menurut Fauzan, pengembangan tempe sejalan dengan konsep Diktisaintek Berdampak. Melalui program tersebut, hasil riset di perguruan tinggi didorong tidak hanya berhenti di laboratorium.

Baca juga : Tempe Menuju UNESCO, KOWANI Gerakkan Pangan Lokal dan Ekonomi Perempuan

Hasil penelitian harus dapat dimanfaatkan masyarakat sekaligus memberikan dampak ekonomi yang nyata. Salah satu inovasi yang kini dikembangkan berasal dari tim periset Universitas Indonesia (UI) melalui Program Bestari Saintek dengan pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Tim peneliti tersebut mengembangkan inovasi ragi tempe dengan memanfaatkan kombinasi sejumlah spesies Rhizopus. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan living lab dengan menguji inovasi dalam kondisi nyata dan melibatkan masukan dari pengguna.

Periset Bestari Saintek sekaligus akademisi UI Wellyzar Sjamsuridzal mengatakan, pengembangan ragi tempe menjadi bagian dari upaya memahami, menjaga, dan memanfaatkan kekayaan biodiversitas mikroba Indonesia secara berkelanjutan. Menurutnya, Indonesia memiliki keragaman mikroorganisme yang dapat dikembangkan menjadi berbagai inovasi pangan.

“Ragi tempe merupakan bagian penting dari upaya memanfaatkan biodiversitas Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan. Melalui riset dan kolaborasi, keragaman mikroorganisme dapat dikembangkan secara bertanggung jawab menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Fauzan.

Baca juga : Kemendiktisaintek Bikin Pusat Riset Internasional

Pengembangan ragi tersebut juga mempertimbangkan faktor lingkungan yang memengaruhi proses fermentasi, seperti suhu dan kelembapan.

Karena itu, tim peneliti berupaya menghasilkan ragi yang lebih adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas produksi tempe di berbagai daerah.

Dalam proses hilirisasi, FKS Group dilibatkan sebagai mitra untuk membawa inovasi dari skala laboratorium menuju tahap uji coba atau pilot project hingga pengembangan industri.

VP Commercial FKS Group Danar Samron mengatakan, hilirisasi inovasi pangan membutuhkan proses yang panjang dan tidak bisa dilakukan secara instan. Tahapannya mencakup pengujian, standardisasi produk, kesiapan produksi dalam skala besar, keamanan pangan, hingga keberlanjutan pasokan bahan baku.

Baca juga : Unpam Dorong Ekonomi Sirkular, Bank Sampah Kampung Darling Kini Go Digital

Menurut Danar, kerja sama antara perguruan tinggi, Pemerintah, dan dunia usaha menjadi faktor penting agar inovasi hasil riset dapat benar-benar masuk ke pasar.

Sementara itu, pakar gastronomi sekaligus chef Wira Hardiyansyah menilai keragaman ragi dan praktik fermentasi merupakan bagian dari identitas kuliner Indonesia yang harus dijaga.

Kekayaan tradisi fermentasi Nusantara, kata Wira, juga memiliki potensi besar untuk memperkenalkan karakter serta cita rasa Indonesia kepada masyarakat dunia.

Melalui penguatan riset, inovasi teknologi, dan dukungan industri, Pemerintah berharap tempe tidak hanya tetap menjadi pangan andalan masyarakat Indonesia. Produk berbasis kedelai itu juga diharapkan mampu menjadi komoditas bernilai tambah yang membawa cita rasa Nusantara ke pasar internasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.