Dark/Light Mode

Gaet Hisense Indonesia

Kemendiktisaintek Bikin Pusat Riset Internasional

Minggu, 16 Agustus 2026 06:43 WIB
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memperkuat kolaborasi global, dengan penandatanganan MoU bersama perusahaan teknologi Hisense. Penandatanganan berlangsung di Gedung D Kemdiktisaintek, pada Kamis (13/8). Foto: kemdiktisaintek
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memperkuat kolaborasi global, dengan penandatanganan MoU bersama perusahaan teknologi Hisense. Penandatanganan berlangsung di Gedung D Kemdiktisaintek, pada Kamis (13/8). Foto: kemdiktisaintek

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) memperkuat kolaborasi perguruan tinggi dengan industri teknologi global melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Hisense Indonesia.

Kerja sama ini menjadi langkah awal pembentukan Hisense Indonesia Global Research Center untuk memperkuat riset, pengembangan talenta, transfer teknologi, hingga hilirisasi inovasi di Indonesia. MoU tersebut ditandatangani di Gedung D Kemendiktisaintek, Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Pusat riset ini dirancang sebagai ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, peneliti, mahasiswa, dan industri dalam mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar mengambil peran lebih kuat dalam jejaring riset global. Kehadiran pusat riset Hisense di Indonesia diharapkan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan perguruan tinggi dan peneliti.

Baca juga : Unpam Dorong Ekonomi Sirkular, Bank Sampah Kampung Darling Kini Go Digital

“Saya pikir ini akan menjadi global research center ke-8 dari Hisense di seluruh dunia. Kami memiliki beberapa universitas terbaik, yang dapat berkolaborasi sesuai dengan keunggulan bidang masing-masing,” ujar Brian.

Menurut Brian, kolaborasi tersebut tidak akan bertumpu pada satu perguruan tinggi. Sejumlah kampus dengan keunggulan riset yang berbeda akan dilibatkan untuk membangun sinergi dalam pengembangan teknologi.

Pusat riset itu akan menjadi wadah kerja sama perguruan tinggi Indonesia dengan industri teknologi internasional. Bidang yang menjadi perhatian antara lain teknologi pendidikan, elektronik rumah tangga, energi, semikonduktor, hingga komponen otomotif.

Pusat tersebut juga tidak hanya diarahkan sebagai fasilitas penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D). Kemendiktisaintek dan Hisense merancangnya sebagai pusat transfer teknologi, pengembangan talenta, sertifikasi laboratorium, serta inkubasi produk inovatif hingga siap memasuki pasar.

Baca juga : Menkop: Hilirisasi Kelapa Sawit Berbasis Koperasi Perkuat Daya Tawar Petani

Dengan model tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah. Riset juga diharapkan dapat diterjemahkan menjadi produk dan teknologi yang menjawab kebutuhan masyarakat serta industri.

Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengatakan, kerja sama dengan Hisense sejalan dengan kebijakan Kemendiktisaintek yang mendorong penguatan hubungan antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri.

Kemendiktisaintek bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2026 juga menyusun Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional sebagai kerangka untuk menyelaraskan prioritas riset dengan kebutuhan pembangunan nasional. Penyusunan dokumen tersebut melibatkan 279 orang, termasuk 230 pakar dari perguruan tinggi, kementerian/lembaga, dan industri.

“Pemerintah ingin agenda riset nasional tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga memiliki dampak nyata terhadap pembangunan dan perekonomian,” tuturnya.

Baca juga : AI Tak Membunuh Pendidikan Tinggi, Tetapi Membongkar Kepalsuannya

Dalam Program Riset Prioritas 2026, Kemendiktisaintek mengarahkan penelitian pada sejumlah sektor strategis, antara lain kesehatan, energi, maritim, pertahanan, manufaktur, keamanan, keadilan sosial, dan digitalisasi industri.

Pendekatan yang digunakan mencakup riset berbasis masalah dan kebutuhan akademik, dengan penekanan pada hilirisasi hasil penelitian ke sektor industri.

“Penguatan kerja sama dengan Hisense juga menjawab salah satu tantangan ekosistem riset Indonesia, yakni memperkuat keterhubungan antara penelitian di perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha,” tegas Brian. ASI

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Minggu, 16 Agustus 2026 dengan judul "Gaet Hisense Indonesia Kemendiktisaintek Bikin Pusat Riset Internasional"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.