Dark/Light Mode

Teten Ungkap UKM Di Saat Pandemi

1998 Penyelamat Ekonomi, 2020 Jadi Buffer Ekonomi

Rabu, 24 Juni 2020 06:12 WIB
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki di acara RM-Insight yang diadakan secara virtual oleh Rakyat Merdeka, Selasa (23/6). (Foto: Istinewa)
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki di acara RM-Insight yang diadakan secara virtual oleh Rakyat Merdeka, Selasa (23/6). (Foto: Istinewa)

 Sebelumnya 
Bagi pelaku UKM yang tidak bisa berusaha lagi, pemerintah mendorong untuk menerima bantuan sosial (bansos). Sebab kata Teten, pelaku UKM dengan kondisi ini, tidak akan mau jika di tawarkan pembiayaan.

Di sisi lain, pihaknya juga terus mengusulkan kepada Kementerian Keuangan untuk menambah jumlah UKM yang menerima. Dari sisi demand, juga dibantu pemerintah. Teten bahkan menjalin kerja sama dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) untuk menyerap produk UKM.

“Kami melihat Rp 735 triliun belanja pemerintah tahun ini untuk produk UKM. Persoalannya, produk UKM belum masuk ecatalog LKPP. Sehing ga tidak mudah diserap pemerintah dan BUMN,” terangnya.

Baca juga : Pengembangan UMKM Bisa Selamatkan Perekonomian Nasional

Untuk memaksimalkan penyerapan itu, Teten menggalakkan gerakan “Bangga Buatan Indonesia”. Mengingat, potensi pasar domestik sangat besar. Apalagi, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagian besar disumbang dari belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat.

Meski UKM babak belur karena pandemi, Teten menyebut ada beberapa jenis UKM yang bisa bertahan. Bahkan cenderung tumbuh hingga 18 persen. Yakni pelaku UKM yang terhubung dengan ekosistem digital. “Sayangnya, baru 13 persen atau sekitar 8 juta yang melek digital. 87 persennya masih off ine,” sesal politisi PDIP itu.

Dia memandang masih ada berkah di tengah pandemi. Misalnya, menjadikan kejadian ini sebagai momentum trans formasi digitalisasi UKM. Hanya saja, pelaksanaannya tidak mudah. Hanya 410 persen pelaku yang berhasil masuk market online. Kendalanya, bukan hanya sekadar insfrastruktur seperti smartphone, internet, maupun marketplace. Melainkan, pelaku UKM harus bertarung dengan brand lain yang miliki kualitas dan SDM yang mumpuni.

Baca juga : Angka KDRT Meningkat Selama Pandemi, MPR Minta Pemerintah Lindungi Korban

“Bedanya, kalau CEO UKM itu: chief everything officer. Semua diurus sendiri. Kadang-kadang nggak sanggup saat ngerespon permintaan online, baru dijawab besok. Jadi kehilangan opportunity,” ungkap Teten.

Jenis kedua, pelaku UKM yang beradaptasi dengan permintaan dan berinovasi produk. Dia mencontohkan, jasa konveksi yang saat ini sepi, kemudian beralih memproduksi masker. Bahkan ada dokter gigi yang banting stir jadi tukang donat secara online. “Ini yang saya maksud, melakukan inovasi produk,” tegasnya.

Kementerian yang dipimpinnya, kata Teten, melakukan pendampingan melalui laman www.edukukm.id dan seri podcast, serta Kakak Asuh KUMKM di Smesco. Tujuannya, agar pelaku UKM bisa beradaptasi bisnis ke digital.

Baca juga : Hadapi Ancaman Perlambatan Ekonomi, BTN Ajak Developer Bersinergi

Saking pedenya, Teten berambisi membuat badan usaha milik rakyat. Rencananya, kinerja ekspor pelaku UKM digenjot, dari semula 14 persen menjadi dua kali lipat. Sayangnya, pandemi ini membuat permintaan pasar global lesu. Sehingga, kondisi ini membuatnya mengalihkan fokus ke pasar dalam negeri. Apalagi, masih banyak produk impor di ecommerce.

“Awal tahun kami sudah coba mengatasi supaya tidak banyak masuk produk impor dengan menurunkan nilai deniminus jasa tarif masuk yang tadi nya 75 dolar tidak kena pajak, sekarang tarifnya jadi 3 dolar,” tegasnya.

Selain bicara yang serius, Teten bicara yang ringan. Salah satunya, dia mengungkapkan saat ini tak main medsos. “Saya kan tidak akan nyalon di 2024,” katanya terkekeh-kekeh. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.