Dark/Light Mode

Erick Thohir Kurangi Gaji Direksi BUMN

Senin, 4 Januari 2021 05:02 WIB
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. (Foto : Instagram).
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. (Foto : Instagram).

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memangkas gaji direksi perusahaan pelat merah. Langkah ini diambil sebagai bentuk efisiensi di tengah pandemi Covid-19.

Keputusan itu dituangkan dalam Peraturan Menteri (Per­men) BUMN Nomor PER-12/ MBU/11/2020. Dalam Permen itu disebutkan, gaji anggota direksi ditetapkan sebesar 85 persen dari besaran gaji direktur utama (dirut). Dalam ketentuan sebelumnya, gaji anggota direksi sebesar 90 persen dari besaran gaji dirut.

Dalam Permen juga diatur formula gaji baru untuk wakil direktur utama. Jika merujuk aturan sebelumnya, gaji wakil dirut mengikuti anggota direksi lainnya. Namun dalam aturan baru, gaji wakil dirut ditetapkan sebesar 95 persen dari gaji dirut. Sementara, untuk besaran gaji direktur utama, tidak berubah dari aturan lama.

Berita Terkait : Jakarta-Bali Murah, Ongkosnya Cuma Rp 200 Ribu

Ekonom Institute for Development of Economics and Fi­nance (Indef) Bhima Yudhistira mengapresiasi langkah Menteri Erick tersebut. Sebab, menurut riset Indef, hampir 70 persen BUMN di semua sektor mengalami penurunan pendapatan. Bahkan, tidak sedikit BUMN yang mengalami financial dis­tract akibat pandemi.

“Manajemen ulang terkait re­munerasi direksi dan komisaris BUMN, itu merupakan langkah yang tepat,” puji Bhima, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Dengan begitu, sambung ekonom milenial jebolan Univer­sitas Gadjah Mada (UGM) ini, maka perseroan bisa menekan beban belanja gaji direksi dan bisa direalokasikan ke pos lain. Sehingga, BUMN bisa mence­gah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karyawan, khususnya pegawai yang berada di level paling bawah.

Berita Terkait : Posting Foto Bareng BGS, Erick Kehilangan Rekan Kerja Yang Asyik

“Bisa dibilang ini salah satu cara efisiensi dan upaya penyehatan keuangan BUMN, meng­ingat banyak juga perusahaan yang pengelolaan asetnya bu­ruk,” ujarnya.

Ke depan, Bhima menyarankan, agar BUMN dapat kembali menata rencana bisnisnya, yang mungkin sempat ambruk dihan­tam pandemi. Serta, melakukan penjadwalan ulang utang-utang yang akan jatuh tempo.

“Khususnya utang jangka pendek dalam bentuk dolar Amerika Serikat (AS). Dan diharapkan cash flow menjadi lebih long­gar,” sarannya.
 Selanjutnya