Dark/Light Mode

Dirjen Hortikultura Pastikan Pasokan Dan Harga Cabai Aman

Senin, 11 Januari 2021 21:29 WIB
Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kediri, beberapa waktu lalu. (Foto: Ist)
Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kediri, beberapa waktu lalu. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo meminta jajarannya memastikan ketersediaan dan harga cabai tidak terus bergejolak di tengah pandemi Covid-19.

"Kami memastikan ketersediaan cabai aman dan harganya stabil di tengah pandemi," ujar Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kediri, beberapa waktu lalu. 

Jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Kediri menyebutkan bahwa produksi cabai mencukui kebutuhan meskipun terjadi kenaikan harga hingga Rp 65 ribu per kg. Prihasto turut panen raya cabai rawit merah di Desa Brenggolo, Kecamatan Ploso Klaten dan cabai merah besar di Desa Kebon Rejo, Kecamatan Kepung. Luas hamparan pertanaman cabai rawit yang sedang panen mencapai 85-90 hektare. Total luas panen cabai rawit kurang lebih 1.050 ha yang tersebar di Kecamatan Pagu 250 ha, Ploso Klaten 300 ha, Wates 50 ha, Gurah 60 ha dan Pare 50 ha. Sementara luas panen cabai besar di Kecamatan Kepung kurang lebih 400 ha yang tersebar di di Desa Kebonrejo 250 ha, Desa Besowo 4 ha, Desa Puncu 45 ha dan Desa Ngancar 65 ha.

Berita Terkait : Senayan Minta Segera Swasembada Kedelai

Saat mengunjungi Pasar Induk Pare di Kediri, dirinya juga menyatakan kondisi pasokan dan harga cabai aman.

"Untuk cabai besar pasokan dan harga cukup aman yakni di kisaran Rp 18-20 ribu per kg di tingkat Pasar Induk Pare. Cabai rawit memang terjadi distorsi karena telah memasuki musim hujan, terkena banjir, jadwal petik terganggu, proses pemasakan cabai lebih lama, serangan OPT, busuk buah dan lain sebagainya. Kondisi ini diprediksi akan berakhir Januari dan harga akan kembali normal. Kemarin harga di sini Rp 65 ribu per kg dan hari ini sudah turun ke Rp 59-60 ribu perkg," paparnya.

Champion Cabai Kabupaten Kediri Bagus Ananto turut membenarkan. Dirinya menyampaikan bahwa naiknya harga cabai yang terjadi sejak pergantian tahun kemarin bukan karena tidak ada produk. Hal ini terjadi akibat adanya penundaan jadwal petik. Petani khawatir ada penutupan jalan distribusi dan armada-armada pengangkut cabainya libur. Akibatnya tidak ada pasokan yang masuk ke pasar dan pedagang hanya menghabiskan stok cabai dari tanggal 31 Desember.

Berita Terkait : Suka Cita Petani Kalimantan Timur Penerima Bantuan Benih Hortikultura

Kondisi inilah yang menyebabkan lonjakan harga mulai tanggal 1 Januari hingga tembus Rp 75 ribu per kg. Meski demikian, Bagus mengatakan, harga di tingkat petani tetap dinilai wajar. Pihaknya juga menyampaikan bahwa harga akan kembali turun pada pertengahan januari ini.

"Harga akan cenderung turun pada kisaran Rp 30 ribu per kg karena pedagang sudah menyesuaikan pembelian. Ke depan, jika intensitas hujan semakin berkurang maka rontok bunga berkurang serta proses pemasakan buah menjadi lebih cepat. Pemetikan setiap 5-7 hari menjadi 4 hari sekali," ujarnya.

Ditjen Hortikultura akan membantu ongkos transportasi untuk pengiriman cabai dari wilayah sentra ke kota-kota yang kekurangan pasokan sehingga bisa menekan harga jual. Selain itu, Ditjen Hortikultura juga akan memfasilitasi sarana pengolahan cabai, biaya sewa gudang (cool storage) yang dapat dimanfaatkan pada saat harga rendah.

Baca Juga : Sudah Terkumpul 45 Kantong Jenazah Korban Sriwijaya Air SJ182

Untuk pengendalian di sisi on farm, Ditjen Hortikultura secara rutin mengirimkan ke seluruh provinsi Data Early Warning System aneka cabai untuk 3 bulan ke depan. Data ini bisa dijadikan acuan untuk memprediksi produksi.

Tak hanya itu, sosialiasi dan tindakan-tindakan preventif untuk pengendalian serangan pada cabai di berbagai musim juga telah dilakukan bersama-sama dengan pertugas dinas, penyuluh dan champion cabai. Diharapkan petani mengaplikasikan berbagai ilmu tersebut untuk menjaga produktivitas cabai. [KAL]