Dark/Light Mode

Kementan: Indonesia Pemasok Ekspor Sarang Burung Walet Terbesar Dunia

Jumat, 22 Januari 2021 07:51 WIB
Sarang Burung Walet/Ist
Sarang Burung Walet/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Jenderal (Dirjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Nasrullah, menyampaikan, selama ini Sarang Burung Walet (SBW) merupakan komoditas pangan asal hewan dan mempunyai nilai gizi tinggi serta memiliki nilai ekonomi tinggi. SBW telah menjadi andalan ekspor kita sejak tahun 2015. 

Ia menyatakan, Indonesia sejauh ini telah mengekspor SBW ke 14 negara. Sepanjang tahun 2020, Indonesia telah mengekspor ke Hong Kong, China, Singapura, Vietnam, USA, Jepang, Korsel, Taiwan, Thailand, Malaysia, Australia, Kanada, Spanyol dan Prancis dengan total volume ekspor sebanyak 1.155 ton atau senilai Rp. 28,9 triliun. 

Jumlah tersebut naik 2,13 % dari tahun 2019 yang hanya 1.131 ton dan bernilai Rp. 28,3 triliun. 

Menurut Nasrullah, SBW banyak diminati di mancanegara, dan Indonesia merupakan salah satu pemasok terbesarnya.

"Kami dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus melakukan pembinaan ke para peternak SBW mulai dari teknik budidaya, kompartemen bebas penyakit Avian Influenza (AI), dan pengolahan. Sehingga para pembudidaya/peternak Sarang Burung Walet bisa memenuhi standar ekspor, ujar Nasrullah, Kamis (21/1). 

Nasrullah mengungkapkan, volume dan nilai ekspor SBW sepanjang tahun 2020 selalu mengalami peningkatan setiap bulannya. Capaian tertinggi pada Desember 2020 dengan volume mencapai 148.321 kg dan nilai ekspor menyentuh 75.705 USD. 

Berita Terkait : Ekspor Sarang Burung Walet Bakal Meningkat Tajam, Ini Penyebabnya

Ia menjelaskan, proses produksi SBW sejatinya tidak bisa dilakukan oleh semua negara. Indonesia menjadi salah satu primadona SBW. 

Misalnya, rumah walet yang sangat bergantung kepada alam dan lingkungan seperti potensi pakan di alam (keseimbangan ekosistem), Pengkondisian lingkungan di rumah walet harus dibuat sedemikian rupa mendekati habitat aslinya sehingga burung walet mau bersarang. 

Pola panen SBW oleh peternak walet juga sangat mempengaruhi keseinambungan populasi dan produksi SBW. 

Lalu, proses untuk memperoleh sarang burung walet dari panen sampai siap konsumsi juga membutuhkan beberapa tahapan proses. 

Tahapan selanjutnya merupakan pengumpulan dan penanganan SBW (gudang kering). Di mana SBW harus ditangani secara higienis, seperti tahapan pencucian yang berfungsi untuk membersihkan SBW dari kotoran yang menempel, terutama bulu. 

Pencucian yang benar juga dapat menurunkan kadar nitrit pada SBW. Keseragaman frekuensi dan lama pencucian yang tepat diperlukan untuk menurunkan kadar nitrit sesuai yang dipersyaratkan negara pengimpor tanpa menurunkan kualitas sarang yang dihasilkan. 

Berita Terkait : Dapat Dukungan Dari Pemerintah, Eksportir Sarang Burung Walet Happy

Selain itu, perlu juga pembinaan di setiap tahapan proses, khususnya pada tempat produksi SBW (Rumah Walet untuk kesinambungan produksi) sampai dengan tempat pencucian dan tempat pengolahan agar memenuhi persyaratan keamanan pangan. 

Nasrullah menerangkan, sejauh ini Ditjen PKH selalu mengakomodir pemenuhan persyaratan ekspor untuk unit usaha SBW dalam bentuk penjaminan keamanan produk sarang walet berupa Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV). 

Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 Jo. UU Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. 

Sampai dengan tahun 2020 Ditjen PKH telah menerbitkan sebanyak 2.990 NKV untuk unit usaha dan 74 di antaranya adalah unit usaha SBW. 

NKV merupakan bentuk penjaminan pemerintah terhadap unit usaha produksi dan pengolahan dalam hal higienis. 

"Jadi, masyarakat dapat dengan mudah mengetahui produk sarang walet dari unit usaha yang sudah ber-NKV, dengan melihat adanya logo NKV pada kemasan produk sarang burung walet," jelas Nasrullah. 

Baca Juga : Inggris Masih Lockdown, Garuda Select Geber Latihan Fisik

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, tren ekspor SBW memang meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir. Untuk itu, dia bersyukur karena Indonesia bisa menjadi pemasok SBW untuk banyak negara. 

Saat ini, SBW yang diperdagangkan dan diekspor merupakan komoditas binaan dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian untuk produktivitasnya. 

"Ini anugerah Tuhan untuk kita. Tanpa perawatan khusus walet memberikan sumbangan devisa negara, manfaat kesehatan dan pendapatan bagi para peternak walet," SYL. [KAL]