Dark/Light Mode

Ekspor Sarang Burung Walet Bakal Meningkat Tajam, Ini Penyebabnya

Kamis, 21 Januari 2021 18:26 WIB
Sarang burung walet. (Foto: ist)
Sarang burung walet. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI), Boedi Mranata mengatakan, ekspor sarang burung walet berpotensi meningkat tajam dan mampu memberi devisa negara yang cukup besar. 

Dengan adanya regulasi eksportir terdaftar sarang burung walet (ET-SBW) yang akan dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan untuk ekspor walet ke semua negara  diharapkan nilai devisa ekspor tersebut akan meningkat.

Menurut Boedi, saat ini China menjadi salah satu  importir terbesar sarang burung walet dengan total 262 ton per tahun 2020 dengan harga rata-rata Rp 25 juta per kilogram. Sedangkan  untuk ke negara lain karena belum diberlakukan Eksportir Terdaftar,  maka nilai harga ekspornya rata-ratanya  lebih rendah bahkan  ada yang hanya Rp 632 ribu per kilogram.

Ekspor ke Cina paling jelas regulasinya dibanding negara lain. Ini kalau digali dengan aturan-aturan yang jelas dan diberlakukan  Eksportir Terdaftar,  kemungkinan nilai  harga sarang burung walet yang tercatat  bisa meledak dan devisa kita bisa naik," ujar Boedi, Kamis (21/1).

Berita Terkait : Dapat Dukungan Dari Pemerintah, Eksportir Sarang Burung Walet Happy

Boedi menilai, sejak dulu sarang burung walet Indonesia memang sudah menjadi incaran negara-negara lain khusunya China. Terlebih dengan keterbukaan globalisasi sekarang ini menjadikan sarang burung walet sebagai salah satu andalan bagi devisa dari sektor pertanian.

Hal lain yang sangat  penting yaitu jangan sampai kita mengekspor bahan baku walet  yang masih kotor seperti  yang kita lakukan di masa lalu karena hal ini  tidak memberikan nilai tambah dan bisa menyebabkan pengangguran serta menurunkan devisa negara.

"Saya kira dengan evaluasi mana yang mesti diperbaiki dalam ekspor  sarang walet serta kita mampu membuat diversifikasi  produk nilai tambahnya ( added value)  seperti minuman dalam botol, aneka makanan dari walet, kosmetik, obat obatan,dll maka jika produk ini diekspor, saya yakin  devisanya akan berlipat lipat," tandasnya. 

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo menilai, potensi ekspor sarang burung walet masih akan terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini dikarenakan sarang burung walet dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan.

Berita Terkait : Menteri PUPR Siap Sampaikan Laporan Keuangan Ke BPK Tepat Waktu

"Dari data pada IQFAST Badan Karantina Pertanian (Barantan) tercatat bahwa selama masa pandemi Covid-19 saja, di tahun 2020 jumlah ekspor sarang burung walet tercatat sebanyak 1.155 ton dengan nilai Rp 28,9 triliun," katanya.

Mentan menambahkan, jumlah itu meningkat 2,13 persen dari pencapaian di tahun 2019 yang hanya sebanyak 1.131 ton atau senilai Rp 28,3 triliun. Selain itu, kata dia, sarang burung walet dapat hidup baik dengan ekosistem yang terjaga, mulai dari hutan, laut dan sungai sebagai penghasil pakan walet alami.

Sementara Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementan, Ali Jamil mengatakan, telah memiliki laboratorium pengujian yang telah diakui oleh negara mitra dagang. Selain percepatan layanan, pihaknya juga terus melakukan inovasi teknologi perkarantinaan untuk memfasilitasi pertanian diperdagangan internasional.

Menurutnya, partisipasi dan dukungan dinas pertanian, peternak dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan komoditas sarang burung walet sangat diperlukan. Terlebih lagi setiap negara tujuan memiliki protokol ekspor yang harus dilewati.

Berita Terkait : Didukung Alat Canggih, RS Ukrida Siapkan 240 Tempat Tidur Pasien Corona

"Untuk itu kita harus bersama-sama menjaga serta laporkan jika melalulintaskan unggas khususnya kepada petugas karantina agar sarang burung walet tetap dapat berkontribusi pada pemulihan ekonomi nasional," tutupnya. [DIT]