Dark/Light Mode

Peningkatan Indeks Literasi Harus Didukung Ketersediaan Buku

Senin, 28 Desember 2020 17:36 WIB
Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando (Foto: Dok. Perpusnas)
Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Literasi harus dipandang secara komprehensif mulai dari hulu hingga hilir. Karenanya, ketika berbicara mengenai literasi, harus didukung distribusi buku yang memadai di masyarakat.

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando menyatakan, rendahnya budaya baca masyarakat Indonesia yang berdampak pada rendahnya indeks literasi, memang fakta. Namun, kondisi ini tidak semata-mata karena minat baca yang kurang. Kondisi ini juga terjadi karena kekurangan dan distribusi buku yang tidak merata di masyarakat.

Menurut Syarif, masalah rendahnya indeks literasi ini sudah banyak dibahas. "Tapi, hulunya tidak pernah dibahas. (Yaitu) kurang buku, kurang distribusi,” ujarnya, dalam webinar “Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat di Provinsi/Kabupaten/Kota Tahun 2020", di Universitas Islam Malang, Jawa Timur, Senin (28/12).

Baca juga : Pentingnya Literasi Keuangan Digital Bagi Ibu-ibu

Syarif menilai, penyebaran buku yang tidak merata membuat kualitas manusia Indonesia mengalami kesenjangan. Apalagi, banyak daerah yang belum mendokumentasikan sejarah dan sumber daya daerahnya dalam bentuk buku. Karenanya, dia mendorong Pemerintah Daerah untuk mendokumentasikan kondisi, sejarah, dan potensi daerahnya dalam buku.

“Saya bilang sama Ibu Gubernur Jawa Timur (Khofifah Indar Parawansa), kita tadi tidak ada guru tentang Jawa Timur. Mestinya ada buku tentang sejarah panjang kejayaan Jawa Timur, potensi sumber daya Jawa Timur, pariwisatanya. Beliau ternyata sudah sangat paham, makanya akan dipusatkan di Universitas Islam Malang dan menunjuk Rektor sebagai pemimpin untuk kajian tentang Jawa Timur,” urainya.

Di acara yang sama, Wali Kota Malang Sutiaji mengungkapkan, literasi harus memiliki nilai kemanusiaan, kebhinnekaan, dan spiritual. Karenanya, indeks literasi harus dibarengi dengan nilai kemanusiaan agar memiliki nilai manfaat bagi hidup dan kehidupan. Buku yang disajikan di perpustakaan harus sesuai kebutuhan pembaca dan harus mengandung nilai ke-Indonesia-an dan kebhinnekaan yang tidak mengandung bahaya laten. Sutiaji menjelaskan, hal ini menjadi kebijakan pemerintahannya agar buku yang dibaca oleh pemustaka sesuai dengan kebutuhan.

Baca juga : Pendatang Wajib Karantina 21 Hari, Hong Kong Tutup Pintu Buat Afsel

“Khusus perpustakaan di kami, ketika nanti orang membaca, orang tuanya yang pinjam, anaknya yang baca. Orang tuanya mungkin paham, bagaimana ini sekadar baca, bagaimana paham sosialis, marxisme. Tapi, ketika di rumah orang tua tidak mengawasi anak membaca, ini yang benar-benar harus dibatasi kepala perpustakaan,” jelasnya.

Persoalan rendahnya minat baca tidak hanya dialami Indonesia. Pegiat literasi Djoko Saryono menjelaskan, rekannya dari Universitas Malaya di Malaysia juga menyatakan keluhan yang sama. Menurutnya, kondisi ini disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya, harapan yang terlalu tinggi bahwa segala masalah dapat diselesaikan oleh literasi, perhatian yang terlalu luas sehingga sulit mengukurnya, dan medium untuk mengukur minat baca yang terbatas pada aksara dan tidak disesuaikan dengan perkembangan teknologi.

“Sehingga membaca itu hanya pada membaca bacaan, padahal sekarang itu membaca juga bisa di tab, bisa di tayangan, dan membaca juga harusnya tidak hanya aksara. Sebab, kita sekarang juga harus desain thinking. Kalau desain thinking itu ya gambar, infografis, dan seterusnya. Nah, kalau instrumen kita minat baca rendah itu hanya akasara, kita berada dalam suatu dilema bahkan disorientasi. Minat baca itu apa? Apa mediumnya? Itu juga yang harus dipertimbangkan sekarang,” pungkasnya. [USU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.