Dark/Light Mode

Setahun Pandemi Covid-19, Wamenkes Imbau Tetap Disiplin 3M Dan 3T

Selasa, 2 Maret 2021 21:39 WIB
Wakil Menteri Kesehaatan Dante Saksono Harbuana saat berdialog virtual dengan tema Ibu Pertiwi di Sewarsa Pandemi yang dilaksanakan oleh KPCPEN FMB9 pada Selasa (2/3). (Foto: Istimewa)
Wakil Menteri Kesehaatan Dante Saksono Harbuana saat berdialog virtual dengan tema Ibu Pertiwi di Sewarsa Pandemi yang dilaksanakan oleh KPCPEN FMB9 pada Selasa (2/3). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menegaskan kunci keberhasilan Indonesia dalam menangani pandemi Covid-19 adalah kerja sama antara masyarakat dengan pemerintah untuk melakukan berbagai upaya terbaik demi kebaikan bersama.

Itulah yang menjadi pesan utama yang disampaikan Wamenkes dalam dialog virtual dengan tema "Ibu Pertiwi di Sewarsa Pandemi," yang dilaksanakan oleh KPCPEN FMB9 pada Selasa (2/3) siang.

Berita Terkait : 62 Anak Buah Sri Mulyani Gugur Karena Covid-19, Kemenkeu Gelar Vaksinasi

Lebih lanjut Dante menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan peran serta masyarakat dalam penanggulangan pandemi Covid-19 adalah 3M (mencuci tangan, menjaga jarak, menggunakan masker). Sementara peran serta pemerintah adalah disiplin 3T (testing, tracing, treatment).

Ia mengatakan peran serta masyarakat dan komitmen pemerintah itulah yang sekarang mulai dilaksanakan secara masif dijembatani dengan vaksinasi. "Namun vaksinasi bukan game changer. Itu sebab tracing dan testing harus diperbanyak dan masyarakat harus berperan serta," ujar Dante.

Berita Terkait : Wamenkes Umumkan 2 Kasus Baru Varian Covid Inggris

Pada kesempatan yang sama, salah satu penyintas Covid-19 yang merupakan kluster keluarga, Anang Hermansyah mengaku sebagai warga negara yang partisipatif  dirinya beserta keluarga sudah menjalankan protokol kesehatan ketat untuk mengindari penyebaran Covid-19 di lingkungannya.

Namun, menurut mantan Anggota DPR itu, kesulitan dirasakan ketika dirinya dan keluarga harus memastikan bahwa seluruh anggota keluarganya bebas virus Corona. "Kenapa gak bisa PCR Swab semua? Karena biayanya tinggi. Makanya harapan saya dari bagian masyarakat, kita sudah punya teknologi yang bagus GeNose kenapa gak disertakan," ungkapnya seraya bertanya kepada Wamenkes Dante.

Berita Terkait : Setahun Penanganan Covid-19, Anggota Komisi IX DPR Apresiasi Kerja Pemerintah

Menurut suami Ashanty itu, dengan GeNose diharapkan partisipasi masyarakat dapat lebih luas lagi. Anang berargumen, salah satu kendala yang menjadi penyebab sulitnya mengontrol penyebaran Covid-19 di kluster keluarga adalah tingginya biaya tes PCR Swab. "Sementara untuk antigen tidak presisi atau kurang akurat," kata Anang.

Sampai dengan Maret 2021, Kementerian Kesehatan menyebutkan sudah 1,3 juta masyarat Indonesia terinfeksi virus Corona, dan 36,5 ribu diantaranya meninggal dunia. Sepuluh persen di antara para penderita Covid-19 adalah mereka dalam kelompok usia lanjut. [NOV]