Dark/Light Mode

KLHK Dorong PLTU Jawa 9 Dan 10 Jadi Role Model Pembangkit Ramah Lingkungan

Kamis, 8 April 2021 15:14 WIB
Wakil Menteri LHK Alue Dohong bersama Ketua Panitia Indonesia Green Award dan Chairman The La Tofi School of CSR memberikan penghargaan kepada Presiden Direktur Indo Raya Tenaga Peter Wijaya dan Direktur Keuangan Moch Chairul, di Jakarta, Rabu malam (7/4)/Ist
Wakil Menteri LHK Alue Dohong bersama Ketua Panitia Indonesia Green Award dan Chairman The La Tofi School of CSR memberikan penghargaan kepada Presiden Direktur Indo Raya Tenaga Peter Wijaya dan Direktur Keuangan Moch Chairul, di Jakarta, Rabu malam (7/4)/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 9 Dan 10 menyelenggarakan bisnisnya dengan memperhatikan kelestarian lingkungan mendapatkan pengakuan dalam Indonesia Green Award (IGA) 2021. 

Pembangkit ini dinilai berinistiatif ramah lingkungan karena teknologi maju yang digunakan. Dengan inisiasi tersebut, PT Indo Raya Tenaga (IRT) sebagai pengelola pembangkit tersebut, mampu menekan emisi jenis polutan SOx, partikulat, dan NOx hingga jauh di bawah ketentuan maksimal yang disarankan pemerintah. 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pun menilai, pembangunan PLTU Jawa 9 Dan 10 patut menjadi role model untuk pengembangan pembangkit yang ramah lingkungan. 

PT Indo Raya Tenaga selaku pengembang pembangkit tersebut berkomitmen menciptakan PLTU yang ramah lingkungan.

“Ini bisa mengubah kesadaran para pengusaha tentang tanggung jawab,” tegas Wakil Menteri LHK Alue Dohong yang ditemui wartawan usai menghadiri IGA 2021 di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Rabu (7/4) malam.

Alue mengatakan, keberadaan perusahaan seperti IRT, memunculkan kesadaran para pengusaha untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan tujuan utama, mencegah kerusakan alam akibat emisi atau gas buang yang keluar dari PLTU atau pabrik. 

Baca Juga : Erick Thohir Sampai BNN Sabet iNews Maker Awards 2021

Apalagi, menurut dia, saat ini masih banyak pengusaha yang abai akan hal tersebut.  Alue pun mendorong para pengusaha berani mengeluarkan terobosan baru, mencegah kerusakan lingkungan tersebut, seperti pengelola PLTU Jawa 9 Dan 10.

“Itu bisa membuat branding usahanya lebih bagus. Sebab, tidak hanya mengejar keuntungan, tapi memperhatikan sosial juga,” katanya.

Bila tak ada perubahan dalam upaya bisnis lebih memperhatikan lingkungan, Alue khawatir, hal tersebut akan menyebabkan perubahan iklim secara drastis. Bahkan, bisa  menyebabkan terjadinya bencana alam seperti banjir, kekeringan hingga peningkatan air laut. 

Penyelenggara IGA kali ini memberikan penghargaan kepada IRT dengan kategori perusahaan yang  Memelopori PLTU Nan Ramah Lingkungan dengan Teknologi Maju.

Teknologi seperti Flue Gas Desulfurization (FGD), Electro Static Precipitator (ESP), Low Nox Burner dan Selective Catalytic Reduction (SCR) dipakai untuk menekan emisi udara berupa SOx, partikulat, dan NOx.   

Konstruksi PLTU yang juga memasang Ultra Super Critical (USC) dan menggunakan peralatan utama buatan Organisation of Economic Co-operation and Development (OECD) ini, diresmikan Presiden Jokowi melalui ground breaking pada 2017. 

Baca Juga : Resso Cari Musisi Muda Berbakat Melalui Coaching Clinic

Sejak tahap pembangunan, PLTU 9 Dan 10 dinilai KLHK dan penyelenggara IGA, sudah melakukan sejumlah upaya pelestarian lingkungan, termasuk penghijauan dan konservasi alam.

Penyematan penghargaan sebagai pelopor PLTU berteknologi maju yang ramah lingkungan terhadap PLTU Jawa 9 & 10 disyukuri manejemen IRT.  Penghargaan ini juga diartikan sebagai wujud gambaran komitmen pemeliharaan lingkungan yang merupakan  prinsip dasar berbisnis PLTU Jawa 9 Dan 10.

“Kami satu-satunya di Indonesia yang pakai teknologi paling lengkap, termasuk SCR. Jerih payah komitmen kami bisa diakui, paling tidak oleh pemerintah yakni KLHK,” ujar Presiden Direktur Indo Raya Tenaga Peter Widjaya.

Selain itu, ada juga sense of achievement secara pribadi. “Boleh dibilang orang menggadang-gadangkan green, we are try to make it as green as possible untuk base load yang reliable,” ucapnya lagi.

Menurut peraturan, standar baku mutu SOx, Partikulat, dan NOx untuk PLTU dalam tahap konstruksi ini masing-masing adalah 550 mg/Nm3, 100 mg/Nm3, 550 mg/Nm3. 

Namun dengan teknologi yang digunakan pembangkit Jawa 9 & 10, angka-angka tersebut dipangkas menjadi di bawah 350 mg/Nm3, 30 mg/Nm3, dan 128mg/Nm3, secara berurutan untuk SOx, Partikulat dan NOx. 

Baca Juga : Pasokan Aman, Harga Cabe Bakal Turun Nih...

“Memang sudah cukup rendah, namun kami yakin akan bisa jauh di bawah itu apabila bahan bakar yang disuplai sesuai standar pabrikan,” tegas Peter.

Menurutnya, PLTU Jawa 9 Dan 10 yang 51 persen kepemilikannya pada PLN adalah showcase keberhasilan pemerintah dalam menggaet pihak swasta dan bank-bank internasional untuk mendanai mega proyek tanpa jaminan pemerintah dan tanpa membebani APBN.  

“Proses Project Financing sangat melelahkan, belum ada preseden joint venture yang seperti ini, apalagi tahun lalu kami FC (Financial Closing) waktu pandemi,” tandasnya. [REN]