Dark/Light Mode

Watimpres Dukung Kementan Kembangkan Bioteknologi Reproduksi

Selasa, 4 Mei 2021 13:37 WIB
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Agung Laksono (kiri) saat kunjungan kerja ke Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Senin (3/4)/Ist
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Agung Laksono (kiri) saat kunjungan kerja ke Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Senin (3/4)/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang didampingi Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menerima kunjungan kerja Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Agung Laksono beserta rombongan.

Kunjungan ini dalam rangka meninjau perkembangan peternakan, khususnya bidang bioteknologi reproduksi. 

Agung melihat bagaimana penerapan teknologi produksi dan transfer embrio. Pada kesempatan ini, dia juga melihat laboratorium dan ternak sapi yang dikembangkan di BET Cipelang.

"Saya sangat gembira dan kagum dengan kegiatan di sini, didukung oleh tenaga-tenaga ahli terampil, menghasilkan embrio-embrio bermutu yang dapat dipertanggungjawabkan. Embrio tersebut dapat ditransfer sesuai kebutuhan," kata Agung.

Menurut dia, hadirnya BET Cipelang merupakan langkah maju menuju kemandirian swasembada daging. Khususnya dalam menyediakan ketersediaan sapi nasional, sehingga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor daging sapi.

"Kualitas sapi yang dihasilkan oleh BET Cipelang juga tidak kalah dengan sapi impor. Saya berharap dengan adanya BET Cipelang ini, kita mampu menyediakan sapi bibit unggul bagi Indonesia, sehingga kebutuhan sapi dan daging terpenuhi dan akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor," papar Agung.

Agung mengatakan, seiring dengan meningkatkan jumlah penduduk, secara otomatis, jumlah kebutuhan daging dan sapi di Indonesia juga semakin meningkat. Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan ketersediaan sapi bibit unggul yang mampu menjamin ketersediaan sapi.

Berita Terkait : Wanita Peduli Gambut Dukung Ketahanan Pangan

BET Cipelang merupakan balai strategis untuk melakukan hal tersebut. BET Cipelang berisi para tenaga ahli yang mampu bekerja dalam memanfaatkan teknologi reproduksi transfer embrio untuk menghasilkan sapi bibit unggul. 

Kepala BET Cipelang Oloan Parlindungan menjelaskan, kualitas sapi yang ada di BET Cipelang memang tidak kalah dengan sapi impor. Misalnya, Sapi Belgian Blue (BB) yang merupakan salah satu jenis sapi hasil transfer embrio yang ada di BET Cipelang.

Sapi BB memiliki beberapa keunggulan, yaitu memiliki double muscle, temperamen jinak dan mudah ditangani. Sapi BB juga beranak pertama pada umur 23 bulan dan memiliki efisiensi pakan yang tinggi, serta memiliki pertambahan berat badan harian mencapai 1,2 sampai 1,6 kg/hari.

Ada pun bobot sapi jantan dewasa bisa mencapai 1.100 -1.250 kg dengan tinggi berkisar antara 145-10 cm. Sedangkan untuk bobot sapi betina mencapai 700 – 750 kg dengan tinggi berkisar 140 cm yang dapat tumbuh optimal pada lingkungan dengan suhu sejuk.

Di samping itu, Sapi BB juga memiliki persentase karkas yang tinggi (75-80%) dan kualitas daging lembut. Daging Sapi BB juga rendah kolesterol (± 45mg/100g) lebih rendah dari daging ayam tanpa kulit (±62mg/100g, tinggi protein, Vit. B3, Vit. B12, zat besi, seng, serta kandungan lemak rata-rata 5%.

"Saat ini yang sudah dilakukan penelitian dan pembuktian persentase karkas sapi Belgian Blue di BET mencapai 62 persen,” ungkap Oloan.

Sekretaris Ditjen PKH Kementerian Pertanian (Kementan) Makmun mengatakan, sejatinya masih ada kendala dalam pengembangan sapi untuk menekan ketergantungan impor daging. Yaitu keterbatasan lahan yang tersedia untuk peternakan sapi.

Baca Juga : Terima Legend Riders, Bamsoet Ajak Bangkitkan Ekonomi Rakyat

Terkait hal tersebut, Makmun mengatakan, Indonesia memiliki lahan yang sangat berpotensi untuk pengembangan sapi yakni lahan sawit. 

Sebagai informasi, Indonesia memiliki luas perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia dengan luas pertanaman diperkirakan mencapai 14,99 juta hektar. 

"Dari luasan tersebut, berdasarkan perhitungan kami, 20 persen saja bisa dimanfaatkan untuk mengatasi masalah impor daging sapi, atau bisa mengurangi impor lebih dari 50 persen,” terang Makmun.

Ia memaparkan, potensi dari luasnya kelapa sawit ini sebenarnya bisa dioptimalkan untuk pengembangan sub sektor peternakan di Indonesia dengan pengembangan sistem integrasi sapi-sawit. Namun, saat ini pemilik kebun kelapa sawit belum membuka pintu untuk dapat sama-sama memanfaatkan lahan sawitnya.

"Jika semua perusahan sawit bisa bekerjasama untuk mengembangkan sapi, maka swasembada bisa teratasi," imbuh dia.

Usul Terbitkan Perpres

Makmun berharap, dengan adanya kunjungan ini, Wantimpres bisa memberikan masukan kepada Presiden Jokowi. Harapannya, Presiden Jokowi bisa membuat kebijakan dalam bentuk Keputusan Presiden (Keppres) atau Peraturan Presiden (Perpres).

Baca Juga : Jelang Larangan Mudik, Ini Kesiapan Bandara-bandara AP ll

Agar pihak swasta maupun BUMN (PTPN) terkait perkebunan sawit bersama-sama berperan aktif, sehingga mau menyediakan lahannya untuk pengembangan integrasi Sawit Sapi.

Agung Laksono juga menyambut baik terobosan yang dilakukan oleh Ditjen PKH terkait integrasi Sawit Sapi tersebut. Ia memastikan ke depannya akan segera mengajukan pertimbangan kepada Presiden Jokowi.

"Kami akan mengajukan nasihat dan pertimbangan kepada Bapak Presiden terkait pengembangan sapi sawit di Indonesia untuk menuju kemandirian pangan khususnya daging," tutur Agung.

Sebagai tindak lanjut dari terobosan tersebut, ke depannya Agung meminta pihak Ditjen PKH membuat dan menyiapkan materi teknis serta resume terkait pola pengelolaan integrasi sawit sapi.

Agung juga memberikan nama pedet hasil transfer embrio yang lahir pada pagi ini, pedet tersebut diberi nama Laksono, sesuai dengan nama belakang Agung. 

Pedet ini merupakan hasil transfer embrio dari rumpun Simmental yang diharapkan dapat menjadi pejantan unggul. [KAL]