Dewan Pers

Dark/Light Mode

Menteri Teten: Koperasi Harus Jadi Solusi Pembiayaan Usaha Mikro

Sabtu, 29 Mei 2021 16:58 WIB
Menkop UKM Teten Masduki. (Foto: ist)
Menkop UKM Teten Masduki. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki menekankan, keberadaan koperasi harus mampu menjadi solusi pembiayaan bagi para pelaku mikro di Indonesia. Mengingat sekitar 99 persen pelaku usaha di Tanah Air masih didominasi usaha mikro.

Di saat lembaga pembiayaan formal seperti perbankan masih takut untuk memberikan pembiayaan ke usaha mikro, maka koperasi harus hadir menjadi jawaban. "Apalagi saat ini kami juga tengah mendorong koperasi simpan pinjam (KSP) juga aktif membiayai sektor produktif, tak hanya perdagangan," ujar Teten saat meresmikan kantor baru, sekaligus HUT Ke-34 KSP Credit Union (CU) Pancur Kasih di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu (29/5).

Salah satu koperasi yang bisa menjadi contoh adalah KSP CU Pancur Kasih di Pontianak. Menteri Teten mengapresiasi berbagai kontribusi aktif KSP CU Pancur Kasih, yang selama ini hadir bagi usaha mikro di Pontianak.

KSP CU Pancur Kasih saat ini masuk dalam 100 koperasi besar dan meraih penghargaan sebagai KCU peduli sosial terbaik. Bahkan pembiayaan serta pendampingan usaha telah dilakukan KSP CU Pancur Kasih, yang mayoritas di sektor produktif.

Berita Terkait : Gerindra: Kita Semua Harus Tegakkan UU Disabilitas

Pengembangan usaha oleh Pancur Kasih sebut Teten, selaras dengan pengembangan koperasi oleh Kemenkop UKM secara nasional. KSP diminta tak hanya membiayai sektor pedagangan, tapi juga sektor produktif seperti pertanian, perkebunan, dan perikanan. Di mana perbankan tak mau masuk ke sektor tersebut, karena dinilai terlalu berisiko. 

"Lalu siapa yang bantu? Koperasi, diharapkan memperkuat ekonomi rakyat di sektor pangan produktif, dengan memberikan akses pembiayaan yang mudah dan murah," tegasnya.

Jika itu semua dikelola dengan baik, usaha mikro mampu menjadi pemasok bahkan eksportir produk holtikultura maupun buah tropic. Teten mencontohkan seperti Norwegia. Di mana saat ini pendapatan negaranya, banyak disokong dari budidaya ikan salmon.

"Sekarang ini seluruh dunia sedang mencari keunggulan domestiknya apa seperti di Norwegia. Bukan lagi mencari investor untuk bangun pabrik," imbuh Teten.

Berita Terkait : Gelora: Pembubaran Negara Israel, Solusi Palestina Bebas Penjajahan

Tak hanya membuka akses pembiayaan ke sektor produktif, Kemenkop UKM juga mendorong digitalisasi koperasi. Sebab katanya, ekonomi digital Indonesia diramal akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Di mana potensinya pada 2025 ditaksir mencapai Rp 1.748 triiun (124 miliar dolar AS).

"Jangan sampai potensi ini dikuasai asing. Koperasi harus hadir dan ikut ramaikan digital ekonomi Indonesia," tegasnya.

Teten juga berharap, koperasi besar siap membantu meningkatkan daya saing produk UMKM. Karena diakuinya, produk usaha mikro masih banyak yang  rendah kualitas produksinya, sehingga kerap kali dipandang sebelah mata di negara lain.

Untuk itu, kata Teten, penting bagi koperasi untuk membangun factory sharing. Di mana UMKM yang tak banyak memiliki alat produksi modern bisa maklon, bergabung dengan koperasi besar.

Berita Terkait : Menteri Bintang : Hentikan Kekerasan Pada Anak

"Sedang kami bangun di Jateng, factory sharing untuk usaha furniture yang tinggi permintaannya, namun masih ada keluhan karena kayu yang diolah belum cukup baik. Jika masuk rumah produksi ini, maka produk furnitur mikro, kayunya sudah terstandarisasi," ujar Teten.

Ia juga mendorong penguatan lembaga, dengan koperasi melakukan spin off. Katanya, koperasi harus masuk ke skala ekonomi yang lebih besar. Dari 130 ribu koperasi nasional, yang besar hanya 100.

"Diminta koperasi kecil untuk merger. Seperti Koperasi Fonterra di New Zealand yang tumbuh besar karena merger. Kebersamaan antar koperasi dibangun bukan untuk bersaing, tetapi bergabung demi kesejahteraan rakyat," imbaunya.
 Selanjutnya