Dewan Pers

Dark/Light Mode

Banyak Yang Terpapar Dan Meninggal

Ayah, Bunda, Jaga Anaknya Dari Gempuran Corona Ya..!

Senin, 7 Juni 2021 07:14 WIB
Petugas memakamkan korban Covid-19 di TPU Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Senin (3/6/2021). (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Petugas memakamkan korban Covid-19 di TPU Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Senin (3/6/2021). (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) terus memantau kondisi anak-anak di masa pandemi Covid-19. Pemerintah melakukan berbagai upaya pencegahan, supaya anak terhindar dari virus Corona.

Hal itu dikatakan Deputi Perlindungan Khusus Anak KPPPA, Nahar, menanggapi kasus kematian anak akibat Covid-19. Disebutkan, sebanyak 40 persen anak meninggal karena terpapar Covid-19. Karena itu, anak-anak harus menjadi perhatian bersama selama penanganan pandemi.

“Upaya perlindungan dan pencegahan terus dilakukan supaya anak terhindar dari Covid-19. Beberapa hal sudah dilakukan di antaranya menerbitkan protokol kesehatan khusus bagi anak di masa pandemi,” kata Nahar, akhir pekan, kemarin.

Dia menyebut, pemerintah juga makin fokus melindungi anak dengan berkoordinasi dengan berbagai lembaga. Apalagi, dalam waktu dekat akan diberlakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Anak yang positif Covid-19 akan ditangani sesuai protokol kesehatan anak.

Berita Terkait : Jepang Perpanjang Status Darurat Corona

Protokol khusus itu terdiri dari tata kelola data anak, pengasuhan anak terkait Covid-19, hingga pengeluaran pembebasan anak melalui asimilasi dan integrasi.

Protokol khusus perlindungan anak terkait Covid-19 terbagi menjadi beberapa bagian. Antara lain, pengasuhan bagi anak tanpa gejala, anak dalam pemantauan, pasien anak dalam pengawasan, kasus konfirmasi, dan anak dengan orangtua/pengasuh/wali berstatus orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), serta kasus konfirmasi dan orangtua yang meninggal karena Covid-19.

Beberapa program perlindungan lain yang dibuat, yakni Gerakan Bersama Jaga Keluarga Kita (Berjarak) dengan 10 aksi yang meliputi aksi tetap di rumah, hak perempuan dan anak terpenuhi, dan alat pelindung diri (APD) tersedia.

Kemudian, jaga diri, keluarga dan lingkungan, membuat tanda peringatan, menjaga jarak fisik, mengawasi keluar masuk orang dan barang, menyebarkan informasi yang benar, aktivasi media komunikasi online, dan aktivasi rumah rujukan. Melalui upaya-upaya tersebut diharapkan anak-anak Indonesia semakin terlindungi menghadapi pandemi Covid-19.

Berita Terkait : Hari Pertama Peniadaan Mudik, Penerbangan Di Bandara Angkasa Pura I Turun 92 Persen

Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Rismala Dewi juga menyebut, studi terbaru mencatat 40 persen kematian pada pasien anak Indonesia yang terinfeksi Covid-19 di RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Faktor komorbid dan keterlambatan orang tua membawa anak ke rumah sakit, memicu tingginya angka kematian tersebut.

Penelitian tersebut baru saja diungkap oleh tim dari FKUI dalam jurnal yang dipublikasikan di International Journal of Infectious Diseases (IJID). Penulis utama kajian ini adalah Rismala Dewi dan Nastiti Kaswandani dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo.

Menurut Rismala, studi tersebut dilakukan sejak Maret hingga Oktober 2020 untuk mengobservasi karakteristik pasien Covid-19 anak berusia 0-18 tahun dengan angka kematian. Dari 20 pasien anak, sebanyak 4 anak memiliki 1 komorbid, sementara lainnya mengidap lebih dari 1 komorbid.

“Jadi, angka 40 persen itu didapat dari total subjek penelitian ini sebanyak 490 pasien suspect dan probable, 50 anak atau sekitar 10 persennya dinyatakan positif. Dari 50 anak yang positif Covid-19 itu, ada 20 anak yang meninggal dunia dan diketahui memiliki komorbid penyakit parah,” ujar Rismala.

Berita Terkait : DPR Ingatkan Pentingnya Partisipasi Perempuan di Era Digital

Lebih lanjut, dia menyebut, penelitian ini menggarisbawahi bahwa anak yang dinyatakan positif Covid-19 telah menjalani pemeriksaan PCR Test SARS-CoV-2 dengan adanya komorbid berupa gagal ginjal. Sehingga, para peneliti belum bisa memberi kesimpulan bahwa kematian tersebut akibat Covid-19 semata. “Dominan komorbidnya adalah gagal ginjal,” ujar Rismala. [DIR]