Dark/Light Mode

Pemerintah Tak Bisa Atasi Pandemi Sendiri

Yuk, Bareng-bareng Taklukan Corona!

Rabu, 21 Juli 2021 16:56 WIB
Ilustrasi varian Covid-19. (Foto: Shutterstock/Lightspring)
Ilustrasi varian Covid-19. (Foto: Shutterstock/Lightspring)

 Sebelumnya 
Dia menyebutkan, banyak hal yang bisa dilakukan komunitas dalam situasi saat ini. Misalnya, membantu menyiapkan berbagai kebutuhan pasien Covid-19 yang sedang isolasi mandiri.

Bagaimanapun juga, lanjut Siti Nadia, Pemerintah tidak akan sanggup mengubah dengan cepat sarana dan prasarana kesehatan untuk memberikan pelayanan yang diharapkan. Makanya membutuhkan bantuan komunitas untuk membantu memenuhi kebutuhan pasien Covid-19 yang tidak bergejala ketika isolasi mandiri.

Kebijakan PPKM Darurat, jelas Nadia, bertujuan menurunkan mobilitas. Artinya mengurangi interaksi atau kontak sosial. Pada minggu ini, penurunan mobilitas belum sampai 50 peren. Di tempat perbelanjaan penurunan baru 20 persen, tempat kerja baru 40 persen, sedangkan pada transportasi umum sudah di atas 50 persen.

Baca juga : Bantu Kerja Pemerintah, Kader PKK Diminta Aktif Cegah Penyebaran Covid-19

Potret riil ketangguhan komunitas bisa dilihat di wilayah RW 05 Griya Caraka Bandung, Jawa Barat. Wilayah ini boleh dibilang berhasil mengelola mobilitas warga dan menangani pandemi Covid-19 secara mandiri lewat gotong royong warganya.

Ketua RW Griya Caraka Bandung Sonny Budi Laksono mengatakan, warga di wilayahnya rerata level menengah. Mereka memiliki jiwa sosial dan empati yang tinggi. Keguyuban itu juga tecermin dari ritual keagamaan, baik salat jamaah maupun bersilaturahmi. Berangkat dari modal jiwa sosial dan keagamaan yang erat, segala kegiatan sosial di sana mudah dilaksanakan.

“Inilah jiwa dan modal sosial, sehingga kegiatan sosial apapun insya Allah berjalan. Mereka terpanggil oleh jiwa sosial,” ujar Sonny.

Baca juga : PKB Catat Dengan Huruf Tebal

Ada delapan RT di wilayah Sonny. Total warga mencapai 1.900 orang. Saat angka positif harian Covid terus menanjak, rumah sakit kewalahan, ketersediaan oksigen terbatas, dan berita hoaks berseliweran akhirnya diputuskan membentuk satuan tugas Covid-19.

Satgas ada di setiap RT. Warga yang terpapar Covid1-9 harus langsung melapor ke RT kemudian diteruskan ke RW. "Melihat kondisi rumah sakit yang penuh, kami harus mengurus diri sendiri. Koordinasi oleh pemerintah yang kurang efektif," jelasnya.

Selain itu, Sonny dan lingkungan RT-nya menanamkan kesadaran bahwa Covid-19 adalah masalah bersama dan harus dihadapi bersama. Mereka mendampingi yang terpapar supaya tidak merasa sendirian. Bahkan, kebutuhan medis dan logistik disokong penuh.

Baca juga : PPKM Darurat, Menperin Ajak Industri Bantu Penanganan Corona

Setelah dibentuk satgas, lanjut Sonny, warga yang terpapar Covid-19 kian menurun. Pada 3 Juli jumlahnya 74 kasus, 10 Juli menjadi 56 kasus, dan 19 Juli tinggal 31 kasus. “Semuanya tidak ada yang dirawat, semuanya hanya isolasi mandiri di rumah,” tegasnya. [SRF]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.