Dewan Pers

Dark/Light Mode

Wamenag: Mahasiswa Harus Siap Hadapi Era Society 5.0

Jumat, 17 September 2021 14:09 WIB
Wamenag KH. Zainut Tauhid Saadi saat memberikan pembekalan Mahasiswa  UIN Alauddin Makassar yang akan menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN), Kamis (17/9). (Foto: Ist)
Wamenag KH. Zainut Tauhid Saadi saat memberikan pembekalan Mahasiswa  UIN Alauddin Makassar yang akan menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN), Kamis (17/9). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Agama (Wamenag) KH. Zainut Tauhid berpesan kepada mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) untuk bersiap menghadapi tantangan era Society 5.0. Pada saat yang sama, mahasiswa PTKI juga dituntut menjadi agen sekaligus teladan dalam praktik keagamaan yang moderat.

Pesan ini disampaikan Wamenag saat memberikan pembekalan Mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang akan menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Wamenag berbicara tentang Peran Mahasiswa Sebagai Katalisator Keberagamaan Moderat Pada Masyarakat.

Pembekalan ini diikuti lebih kurang 3000 mahasiswa secara online. Hadir di kampus, jajaran pimpinan UIN Alauddin Makassar, antara lain: Rektor Hamdan Juhanis, para Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, dan seluruh civitas akademika. Hadir juga sejumlah perwakilan dari mahasiswa.

Berita Terkait : Mahasiswa PTKI Harus Siap Hadapi Society 5.0 Dan Jadi Agen Moderasi

"Kita harus mengatisipasi persaingan antara manusia dan teknologi pada era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Mahasiswa harus memiliki beberapa soft skill agar tidak kehilangan kesempatan untuk berada di lapangan pekerjaan yang sangat kompetitif," pesan Wamenag di Makassar, Kamis (16/9).

Era Society 5.0 adalah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era revolusi industry 4.0 seperti Internet on Things, Artificial Intelligence, Big Data dan perangkat mesin digital untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

Wamenag mendorong mahasiswa dan kampus PTKI untuk terus melakukan akselerasi pemahaman dan penguasaan terhadap teknologi. Apalagi, Indonesia mulai mendapatkan bonus demografi, di mana usia produktif meningkat signifikan.

Berita Terkait : Rupiah Masih Loyo Hadapi Dolar AS

Data Badan Pusat Statistik (2018), menunjukkan bahwa jumlah usia produktif Indonesia pada 2015 mencapai 67,3 persen dari total penduduk 255,5 juta jiwa. Tren ini akan memuncak pada 2030, jumlah penduduk usia produktif naik menjadi 68,1 persen dari total 296,4 juta jiwa. Sementara itu, revolusi industri diperkirakan menghilangkan 800 juta lapangan kerja di seluruh dunia pada 2030, karena digantikan oleh mesin.

Ini menjadi tantangan dunia, termasuk Indonesia sebagai negara dengan angkatan kerja dan angka pengangguran yang cukup tinggi.

"Keniscayaan Revolusi Industri 4.0 (four point zero) dan Society 5.0 (five point zero) benar-benar kita rasakan lebih cepat dan membutuhkan proses adaptasi yang juga cepat. Skill abad 21 yang menghendaki kita untuk memiliki wawasan literasi digital sudah hari-hari ini kita lakukan," tutur Wamenag.

Berita Terkait : Raisa, Takut Hadapi Pandemi

"Mahasiswa harus melakukan akselerasi pemahaman dan penguasaan terhadap teknologi. Skill abad 21 menghendaki kita untuk memiliki wawasan literasi digital yang baik dan canggih," sambungnya.
 Selanjutnya