Click Here

Dark/Light Mode

Ini Peran Ganda Hulu Migas Di Tengah Perubahan Iklim

Kamis, 14 Oktober 2021 16:46 WIB
Dirjen Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji pada webinar memperingati 20 tahun berdirinya Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia ESDM, Rabu (13/10). (Foto: Dok. Kementerian ESDM)
Dirjen Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji pada webinar memperingati 20 tahun berdirinya Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia ESDM, Rabu (13/10). (Foto: Dok. Kementerian ESDM)

 Sebelumnya 
"Sudah ada beberapa data untuk kapasitas dan studi implementasi awal yang dilakukan oleh industri migas," ujar Tutuka.

Tutuka menjelaskan, terdapat enam proyek CCUS potensial yang tengah dalam tahap kajian. Pertama, proyek di Gundih yang merupakan pengembangan antara ITB, J-Power, dan Janus.

Ada juga proyek CO2-EOR Sukowati oleh PT Pertamina EP juga tengah dikembangkan dengan menggandeng Japex dan Lemigas.

Berita Terkait : Hadi Poernomo: Genjot Pajak Dengan Penggunaan Teknologi

Penerapan CCSU dan EOR lainnya tengah dikaji di lapangan Limau Biru oleh Japex dan Lemigas yang juga terlibat dalam proyek MRV methodology.

Dua proyek lainnya adalah proyek Sink Match oleh ITB dan Janus, serta proyek CCUS di Tangguh oleh BP Berau Ltd dan ITB.

"Dari tiga proyek CCUS di Gundih, Sukowati, dan Tangguh diharapkan bisa menyimpan CO2 sebanyak 50 juta ton nantinya," harap Tutuka.

Berita Terkait : Keren, RI Peringkat Kelima Dunia Vaksinasi Terbanyak

Strategi selanjutnya, pemerintah akan mengupayakan agar industri hulu migas bisa melakukan efisiensi energi termasuk mengurangi flaring dan venting.

"Kementerian ESDM telah menerbitkan Peraturan Menteri mengenai hal ini baik dari sisi teknis maupun komersial," ungkap Tutuka.

Stretegi lain yang ditempuh adalah mengimplementasikan perdagangan karbon (carbon cap and trade) dan mempromosikan carbon offsetting. "Jadi bisa diperdagangkan, tapi kita harus punya aturannya," pungkas Tutuka. [SRI]