Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ini Kisah Konjen RI Cape Town, Afrika Selatan (7)
Debut Diplomat Di Wina, Dari Jari Terjepit Hingga Bersinar Di UNIDO
Selasa, 16 Juli 2024 20:32 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Cerita ringan ini mengisahkan dua anak, kakak beradik yaitu Mas Geng dan Tudi, yang hidup dan tumbuh sebagai generasi X. Tudi lahir pada 1968 dan Mas Geng tahun 1965.
Bagian 15
Penempatan Pertama Sebagai Diplomat - Jari Tangan Terjepit Pintu Mobil
Pada tahun 2000, Tudi bersama istri dan dua anaknya, Nicky dan Bravy yang masing-masing berumur 4 dan 1 tahun, berangkat untuk tugas penempatan sebagai diplomat di Wina. Perjalanan cukup panjang namun mereka lalui dengan riang penuh syukur.
Pesawat transit cukup lama di Dubai. Tudi sesekali melihat jam dan memastikan jam telah disesuaikan dengan waktu setempat. Dengan begitu dia senantiasa sadar mengenai jadwal penerbangan berikutnya. Jangan sampai lewat atau ketinggalan pesawat, bisa kacau balau. Apalagi dia dan keluarganya belum begitu menguasai seluk-beluk proses perjalanan luar negeri termasuk prosedur pemeriksaan imigrasi di negara orang.
Setelah boarding di pesawat lanjutan, hatinya tenang. Aman. Pesawat lanjutan pun terbang dan setelah hampir 9 jam penerbangan, pesawat landing dengan mulus di bandara Wina. Hari masih agak gelap sekitar jam 05.00 pagi.
Baca juga : Menggapai Asa Di Tengah Prahara
Tudi dan keluarganya dijemput oleh staf KBRI dengan mobil cukup besar berwarna biru tua, mobil caravel. Tapi apes, baru memasuki mobil "jlaag," pintu mobil besar itu ditutup dengan keras dan agak kasar. Tiga jari tangan kanan Tudi - telunjuk, jari tengah, dan jari manis - terjepit pintu mobil. Kuku ketiga jari itu pecah dan terus berdarah.
Sesampai di hotel tempat penginapan sementara, Hotel Kaizer Franz Joseph, dia membersihkan luka di jari-jarinya. Ketiga kuku jari yang pecah dia keluarkan. Rasa sakit nyut-nyut-nyut yang panjang karena hari itu hari libur, masih pagi, dan tidak ada apotek yang buka. Setelah beberapa bulan tumbuh kuku baru, salah satu kuku jarinya masih harus dia lepas karena bentuknya masih rusak.
"Kamu Dik, memangnya ngga bisa nyari flight yang jamnya ngga bikin susah orang," bosnya, Kepala Bidang Ekonomi, menegur Tudi. "Maaf Pak jika telah merepotkan," jawab Tudi.
Namun dalam hati dia berkata, "kalau keberatan menjemput, seharusnya ngga usah njemput, toh saya bisa langsung ke alamat tujuan dengan taksi. Di samping itu, dia kan ngga ikut njemput. Yang njemput Pak Suryanto, pegawai setempat fungsi Ekonomi, dan seorang driver." Dia berargumen dalam hati. Karena kalau disampaikan langsung ke bosnya pasti makin ramai dan bagaimana pun dia akan kalah. Bisa berabe.
Di sini Tudi salah. Dia tidak memahami masalah protokoler. Kedatangan saat tugas penempatan merupakan protokol resmi, bukan masalah mau atau tidak mau.
Baca juga : Lika-Liku Merantau, Kuliah, Dan Teror Polisi Khusus Susu
Di samping itu, dia kurang memahami mengenai masalah "kenyamanan" yang nampaknya penting diperhatikan. Paling tidak, bagaimana agar tidak terlalu merepotkan orang. Benar juga sih. Makanya cepat belajar, Tudi tahu keadaan dan keprotokolan. Ha ha ha.
Baru 1 Bulan Tiba, Sudah Beli Mobil Dan Tersesat
Sekitar 1 bulan setelah tiba, Tudi sudah membeli mobil yaitu Opel, mobil second warna silver metalik. Mobil diantar dan diparkir di jalan depan KBRI/PTRI Wina, Gustav Tschermakgasse. Dia harus segera bisa melaksanakan tugas secara mandiri, bolak-balik KBRI/PTRI ke Vienna International Center untuk sidang UNIDO yang jaraknya bisa 30 menit dengan mobil.
Hari itu Minggu, banyak staf KBRI dan masyarakat Indonesia ramai di KBRI. Ada kegiatan lomba-lomba dalam rangka HUT RI di halaman KBRI.
Pak Damos, diplomat yang lebih senior sekitar lima tahun di atas Tudi, bertanya, "udah beli mobil, Tudi?" "Iya, Pak Damos, agar segera settle," kata Tudi. "Coba lihat," kata Pak Damos. Mereka pun berjalan menuju mobil.
Baca juga : Dari Agen Susu Ke Gerbong Filsafat
Tudi masuk ke mobil dan menstarter. "Reeeng reeeng," mobil Opel pun nyala. Gagah dia menunjukkan ke Pak Damos. Tapi setelah digas beberapa kali, "reeeeng...reeeeng," suara mobil makin kencang tapi tidak bergerak. "Wah, maaf Pak Damos, ngga bisa jalan," kata Tudi. "Gimana bisa jalan orang rem tangannya belum kamu lepas," kata Pak Damos. Ha ha ha, ancen wong ndeso.
Sebenarnya sebelum berangkat, Tudi sudah kursus menyetir. Sehari latihan 2 jam saat akhir pekan. Total waktu latihan sekitar 8 jam. Dia pun sudah mengantongi SIM dan SIM internasional. Karena tidak langsung berangkat, dia lupa cara menjalankan mobil.
Begitu mobil bisa jalan, Tudi pun terus "menggelinding," muter-muter di daerah dekat kantor dan makin lama makin jauh.
Saat itu GPS masih belum ada dan baru populer beberapa tahun kemudian.
Dia gunakan ancer-ancer menara pembakaran sampah Wina yang menjulang tinggi dan terlihat dari mana-mana. Tapi menara itu kemudian hilang, tidak terlihat. Dia putar-putar mobilnya, tetap saja tidak melihat menara cerobong asap Wina. Dia pun akhirnya menelepon staf KBRI. Cuman lokasi persisnya dia tidak tahu. Akhirnya dia memanggil taksi untuk memandunya ke KBRI.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya