Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Fikrul Hanif Sufyan, Pengajar dan Periset Sejarah. Pernah menjadi dosen tamu pada visiting scholar di Faculty of Art, University of Melbourne, Australia
Tersebut kisah natuurmonument (monumen alam). Kini, dikenal dengan kawasan konservasi cagar alam. Di awal abad ke-20, pemerintah Kolonial Belanda telah menetapkan beberapa daerah yang kaya dengan flora dan fauna, untuk dilindungi dari ancaman pemusnahan.
Satu dari daerah yang ditetapkan oleh pemerintah adalah Anai-kloof. Kini, dikenal dengan Lembah Anai – beberapa waktu lalu dilanda bencana galodo, akibat lahar dingin Gunung Marapi, dan curah hujan yang tinggi di pertengahan Mei 2024 .
Bermula dari Artikel Raedt
Bukti keindahan Lembah Anai, pernah ditulis dalam catatan perjalanan dari Raedt yang berasal dari Oldenbarneveldt pada 1922. Perempuan ini penasaran dengan cerita yang beredar, mengenai bentang alam di pedalaman Minangkabau. Ia pun mengambil keputusan untuk menikmati perjalanan dari Pelabuhan Emmahaven (Bredasche Courant, 18 Februari 1922)
Raedt bertekad, menghabiskan waktu selama empat tahun di daerah Padangsche Bovenlanden. Begitu memasuki Lembah Anai, ia pun merasakan iklim pegunungan yang sejuk dan indah, bebas dari nyamuk dan wabah malaria.
“Siapa yang dapat menggambarkan keindahan Anda dalam nilai yang sebenarnya? Pena saya terlalu lemah dan tidak berwarna untuk itu, tetapi betapapun tidak mampu, saya masih akan mencoba untuk memberikan gambaran samar-samar kepada para pembaca tentang tempat yang indah ini.” – demikian Raedt menuliskan pengalaman perjalanannya dengan kereta api.
Baca juga : Membedah Pemikiran Kebangsaan Cak Nur
Sebelumnya, akses ke Lembah Anai –masih berupa jalan setapak– yang biasanya dilalui oleh pejalan kaki, kuda bendi, atau pun pedati kerbau. Mereka yang berprofesi saudagar, membawa hasil bumi menuju Pantai Barat Sumatra. Pasca kekalahan Padri, pemerintah Kolonial Belanda membangun akses jalan yang lebih baik, berdampak pada makin ramainya arus lalu lintas manusia dan barang ke pedalaman Minangkabau.
Sejak ditemukannya endapan batubara di Batang Ombilin, berdirinya perusahaan Landsbedrijf de Oembilin Steenkolenontginning (1890)– atau dalam literatur sejarah kerap ditulis dengan nama Ombilin Mijnen, pemerintah membangun pelabuhan yang lebih besar di Gemeente Padang, diberi nama Emmahaven (kini Teluk Bayur).
Sulitnya mendistribusikan batubara dari mulut tambang menuju ke Emmahaven, ditanggulangi perusahaan kereta api negara, Sumatra Staats Spoorwagen (SSS). Untuk menembus rintangan alam di Lembah Anai berupa bukit karang, curam dan terjal, kereta api membutuhkan rel bergigi.
Panjang lintasan rel yang dibangun SSS di Lembah Anai adalah enam kilometer, dikelilingi oleh tebing-tebing yang hampir tegak lurus. Jalur kereta api ini melewati jalan pos yang sangat teratur dan menelan investasi yang mahal, dan mengorbankan ratusan buruh paksa yang didatangkan dari Jawa dan sebagian kecil dari Sumatra (Algemeen de Handelsblad, 6 Februari 1904).
Dengan menumpang lokomotif uap, para pegawai pemerintah dan perwira muda militer dan veldpolitie makin mudah wara-wiri dari Gemeente Padang menuju Fort de Kock. Jalan besar atau jalan pos militer membentang dari Kayu Tanam yang indah di pintu masuk Lembah Anai, melalui kompleks pegunungan yang indah, bagian dari Bukit Barisan–yang membelah Sumatra dari utara ke selatan (Bredasche Courant, 18 Februari 1922).
“Melalui Anai-kloof, kita akan sampai di Padang Panjang di kaki Gunung Singgalang dan dari sana, jalan akan melewati Fort de Kock, yang oleh orang Minanng disebut Bukittinggi menuju Payakumbuh.” – demikian Raedt menarasikan kisah perjalanannya.
Pengalamannya memasuki gerbang Lembah Anai yang eksostis, kembali dikisahkan oleh Raedt sebagai satu pemandangan yang paling indah dan menarik, bahkan terbaik, yang pernah ia lihat di Pulau Jawa, kecuali di Pegunungan Tengger; sebuah negeri pegunungan dengan jurang-jurang yang dalam dan tegak lurus, seperti Lembah Anai.
Menikmati perjalanan sepanjang enam kilometer di Lembah Anai, Raedt terus memandangi dinding-dinding berbatu yang tinggi, dengan lengkungan dan pilar-pilar besar yang dibangun seolah-olah oleh tangan manusia, dan reruntuhan konstruksi Gotik, dengan dekorasi khas yang menakjubkan.
Baca juga : Langkah Awal Benahi Layanan Angkutan Umum Perkotaan
Selepas melewati dinding terjal, perempuan asal Belanda ini melihat hamparan tanaman hijaunya yang segar dan lembut. “Saya melihat air terjun dan mata air besar dan kecil, yang jatuh di mana-mana dari bebatuan dan muncul dari celah-celahnya. Dekorasi yang fantastis dan indah,” demikian ia mengakhiri kekagumannya untuk Lembah Anai.
Indahya kawasan Lembah Anai yang kaya dengan kehidupan floranya, mendorong E Jacobson yang bertugas di Fort de Kock, mengusulkannya untuk segera ditetapkan sebagai natuurmonument pada 1921 Kekhawatiran Jacobson melihat maraknya penebangan liar yang dilakukan masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk perumahan dan kayu bakar, akibatnya lereng Lembah Anai semakin gundul akibat penebangan liar.
Tidak mengherankan, akibat pengundulan hutan di Lembah Anai, pernah dua kali terjadi galodo di Lembah Anai. Terkadang terjadi badai hujan tropis yang mencapai 225 mm dalam delapan jam (Algemeen Handelsblad, 30 Juni 1926). Galodo pertama terjadi pada 1892, disusul dengan peristiwa banjir besar pada 1916.
Usulan itu, kemudian ditetapkan dalam Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 25, 8 Desember 1922. Limburg Stirum menetapkan tiga daerah konservasi atau natuurmonument, yakni Ranu Pani Begulo di Karesidenan Pasuruan, Ululanang Kecubung – Karesidenan Pekalongan, dan Anai-kloof (Lembah Anai) (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 1923).
Natuurmonument lainnya di Hindia Belanda
Pasca ditetapkannya Lembah Anai sebagai natuurmonument, menyusul daerah lainnya yang ditetapkan, yakni Limburg Stirum untuk Sumatra Westkust, di antaranya Lembah Harau, Batang Palupuh, dan Rimbo Panti.
Bagaimana dengan daerah lainnya? Tersebutlah pada 16 November 1921, sebuah perhimpunan di masa Kolonial Belanda, memasukkan beberapa kawasan sebagai daerah konservasi. Adalah S. Leefmans dan H. J. Lam dari Buitenzorg, ditunjuk untuk menetapkan Pulau Nusa Gede danau Panjalu, termasuk dalam monument alam (natuurmonument).
Khusus untuk sebuah pulau, diabadikan nama Sijfert Hendrik Koorders, dengan sebutan Koordersnatuurmonument. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai Kawasan natuurmonument melalui Staatsblad (Lembaran Negara) Nomor 683 tahun 1921.
Baca juga : Lembaga Survei dan Tim Kampanye
Sampai akhir 1921, pemerintah Kolonial Belanda telah menetapkan beberapa kawasan konservasi. Pertama, Ujung Kulon, daerah yang sangat penting untuk kehidupan flora yang terancam punah, seperti banteng dan badak. Kedua, Danau Danube di Batam, oleh beberapa pihak disebut Naardenneet India. Ketiga, air terjun Dago Bandung. Keempat, Pulau Klein Kombuis di Laut Jawa juga ditetapkan sebagai monumen alam.
Keempat, Gubernur Jenderal sebelumnya, Johan Paul van Limburg Stirum telah menetapkan Danau Ranu Kombolo dan sekitarnya (kini, Taman Nasional Tengger Semeru Jawa Timur). Kawasan ini ditetapkan Limburg Stirum karena danau pegunungannya yang indah, terletak di Pegunungan Tengger. Termasuk, Laut Pasir dan Semeru juga menjadi bagian dari Kawasan monumen alam.
Kelima, asosiasi ini membuat petisi, untuk menetapkan Cibodas-Gede, serta meminta pemerintah untuk memperluas hutan tua yang telah lama dilestarikan di atas taman Gunung Cibodas dengan wilayah yang membentang hingga kawah Gede, alun-alun di belakangnya, serta Pangrango (de Sumatra Post, 1922).
Keenam, pada 1916, untuk pantai utara pulau di seberang Cilacap Jawa Barat juga ditetapkan sebagai daerah konservasi alam. Sebab, daerah ini cocok sebagai tempat perlindungan bagi flora dan fauna – yang kaya di pulau ini (Sumatra Bode, 2 Desember 1921). (*)
*) Bila ingin mengutip, jujurlah, dengan menyertakan nama penulis, judul, dan sumbernya.
Fikrul Hanif Sufyan
pengajar dan periset sejarah. Pernah menjadi dosen tamu dalam visiting scholar di Faculty of Art University of Melbourne Australia
pengajar dan periset sejarah. Pernah menjadi dosen tamu dalam visiting scholar di Faculty of Art University of Melbourne Australia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya