Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tahun Baru Imlek 2576 yang bertepatan dengan 29 Januari 2025 Masehi baru saja dirayakan masyarakat Tionghoa seluruh dunia. Lima belas hari setelah Imlek atau bertepatan dengan 12 Februari 2025, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, termasuk Indonesia, melakukan perayaan Cap Go Meh. Cap Go Meh adalah salah satu dari perayaan tradisional orang Tionghoa dan dirayakan tidak hanya di Tiongkok tapi juga di luar Tiongkok.
Secara bahasa, Cap Go Meh adalah malam ke lima belas bulan pertama tahun Imlek. Malam kelima belas ini dirayakan oleh orang Tionghoa dengan mendatangi tempat-tempat ibadah, melakukan sembahyang pada Tuhan, menyalakan lampu lampion di rumah-rumah, tempat-tempat ibadah, dan di tempat-tempat umum. Pada hari kelima belas bulan pertama Imlek mereka merayakannya dengan berbagai kegiatan, seperti: Pertunjukan barongsai, liong (naga), karanval budaya dari berbagai sukubangsa dan untuk daerah-daerah tertentu seperti kota Singkawang Kalimantan Barat, mereka menggelar pertunjukan tatung (dalam Bahasa Hakka adalah orang yang dirasuki oleh dewa dan roh-roh leluhur).
Secara resmi di Tiongkok, perayaan Cap Go Meh ini dikenal dengan sebutan Yuen Xiao Jie atau perayaan lentera atau festival lampion. Pada saat ini, berbagai macam lentera yang berwarna warni dihias sesuai dengan keinginan masing-masing manusia dipasang di rumah-rumah, tempat ibadah dan kota-kota untuk merayakan Cap Go Meh atau penutupan perayaan tahun baru Imlek. Pada masa lalu, perayaan lentera tersebut juga dikenal dengan sebutan pesta hari pertama bulan penuh atau lima belas hari bulan. Biasanya pada saat itu, bulan kelihatan penuh dan cahayanya sangat terang pada malam hari.
Di Indonesia, kondisi semacam ini dikenal dengan sebutan bulan purnama (Chang Pat Poh, 1993) atau kondisi bulan dalam keadaan penuh. Meskipun demikian, apa pun nama yang diberikan, maka perestiwa ini adalah peristiwa ketika masyarakat Tionghoa bergembira dan merayakannya dengan sukacita dan sukubangsa lain yang menyaksikan rangkaian kegiatan Cap Go Meh merasa terhibur dan ikut merasakan kegembiraan yang dirasakan oleh orang lain.
Berdasarkan sumber-sumber yang dapat kita temukan di berbagai perpustakaan, baik di perguruan tinggi, perpustakaan-perpustakaan umum, maupun koleksi pribadi, Cap Go Meh pada masa lalu di Tiongkok sebagai suatu upacara untuk menyambut datangnya malam dan kehangatan sinar mata hari setelah terjadinya musim dingin yang panjang. Kemungkinan lain adalah Cap Go Meh adalah upacara sembahyang untuk menanam padi pada musim semi, karena Tiongkok adalah daerah pertanian.
Baca juga : BPJS Ketenagakerjaan Gencar Tingkatkan Budaya K3 Di Lingkungan Kerja
Kaisar pada zaman dahulu di Tiongkok secara resmi melakukan sembahyang kepada Tuhan Langit pada malam hari atau malam Yuen Xiao Jie. Sembahyang pada Tuhan dilakukan di Tiananmen atau Tian An Men (gerbang kedamaian surgawi). Tiananmen Ini merupakan tempat bersejarah dan suci bagi seluruh orang Tionghoa di Tiongkok dan selalu dijaga oleh aparat keamanan agar para pengunjung tempat ini berada dalam kondisi aman dan dapat dengan mudah melihat secara dekat bangunan tua ini. Tempat ini merupakan salah satu tempat bersejarah bagi orang Tionghoa selain Tembok Besar Tiongkok atau Great Wall of China.
Berdasarkan kebudayaan Tionghoa, bahwa pada malam tersebut (Cap Go Meh), dewa dapur (Tsu Chun) turun dari langit (selesai menemui Tuhan) dan kembali ke rumah-rumah tempat dia tinggal sebelumnya (Tanggok, 2000). Tempat tinggal dewa dapur ini di rumah-rumah orang Tionghoa yang masih meyakini keberadaannya dan tugasnya mengawasi kehidupan anggota keluarga (Nio Joe Lan, 2013). Dewa dapur ini disuguhi makanan setiap hari sebelum anggota keluarga makan dan tempatnya di dapur. Setiap malam tahun baru Imlek (satu tahun sekali) dewa dapur ini diyakini naik ke langit untuk melaporkan semua kegiatan dan prilaku orang dalam rumah tempat dia tinggal, baik hal-hal yang negatif maupun positif.
Setiap malam tanggal 15 bulan pertama Imlek dia (dewa dapur) turun lagi dari langit dan menuju tempat tinggalnya semula. Kedatangan atau turunnya dia inilah harus disambut dengan riang gembira oleh masyarakat Tionghoa karena dia diyakini turun membawa barokah atau keberuntungan bagi masyarakat, khususnya bagi anggota keluarga di dunia tempat dia tinggal. Pemasangan lampion di setiap rumah orang Tionghoa dan di luar rumah diyakini untuk menerangi perjalanan dewa dapur yang turun dari langit menuju ke dunia atau menuju tempat tinggalnya semula.
Puncak dari perayaan Tahun Baru Imlek adalah Cap Go Meh yaitu malam dari tanggal 15 atau tanggal 14 malam atau malam bulan purnama dari bulan pertama tahun baru Imlek. Dalam budaya masyarakat Tionghoa, pada saat Cap Go Meh tiba, mereka menyediakan hidangan khusus, yaitu lontong Cap Go Meh. Lontong ini dimakan bersama keluarga, sehingga lontong ini menjadi perekat hubungan antara keluarga yang satu dengan yang lainnya (Hendrik Agu Winarso, 2001).
Baca juga : Peringati Bulan K3, Inilah Cara Nawakara Tingkatkan Keamanan Di Tempat Kerja
Bagi umat Khonghucu, pada malam itu diadakan sembahyang kepada Thian (Tuhan). Sembahyang ini biasanya dilakukan secara bersama-sama di tempat sembahyang umat Khonghucu yaitu Lithang. Model sembahyangnya sama saja dengan sembahyang-sembahyang yang lain, cuma saja ada doa khususnya menyangkut Cap Go Meh. Bagi masyarakat Tionghoa yang bukan menganut agama Khonghucu, seperti umat Buddha Tridharma (Taoisme, Khonghucuisme dan Buddhisme) juga mekukan sembahyang di kelenteng-kelenteng dan wihara.
Malam 15 atau 14 malam Cap Go Meh, umat yang melakukan sembahyang biasanya lebih ramai dari sembahyang-sembahyang biasa. Tujuan sembahyang ini adalah sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Thian (Tuhan) yang dalam satu tahun yang lalu telah memberikan rejeki, kesehatan dan perlindungan kepada umat manusia.
Setelah melakukan sembahyang di Lithang, kelenteng dan wihara, biasaya bagi mereka yang masih memelihara abu leluhur di rumah, juga melakukan sembahyang atau penghormatan pada leluhur mereka di depan altar keluarga. Tempat abu leluhur biasanya ditandai dengan foto leluhur mereka yang meninggal dunia yang tertempel di kotak abu leluhur dan ada juga yang di letakkan di atas meja sembahyang leluhur, jika keluarga menyediakan altar leluhur di rumah.
Foto ini tidak berwarna dan hanya hitam dan putih. Hitam dan putih adalah warna untuk orang yang berkabung atau berdukacita. Untuk orang yang meninggal dunia—sebagai tanda duka cita, warna-warna merah atau warna-warna yang mencolok lainnya tidak dibolehkan. Ini semuanya menandakan duka cita atau kesedihan. Sesuatu yang tidak dibolehkan disebut “tabu” dalam bahasa antropologi dan jika aturan tersebut dilanggar, maka orang yang melakukannya akan terkena sangsi. Sangsi itu bukan datang dari manusia, tapi datang dari para dewa maupun mahluk-mahluk halus lainnya.
Baca juga : Entrepreneurial Spirit dan Demokrasi Ekonomi
Dampak dari perayaan Cap Go Meh yang digelar di daerah-daerah, di samping meningkatkan toleransi antara satu sukubangsa dangan sukubangsa lainnya, saling menghargai dan menghormati kebudayaan satu dengan yang lain, namun yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan perekonomian daerah. Berkat perayaan Cap Go Meh digelar setiap tahunnya di satu daerah, misalnya Singkawang Kalbar, perekonimian daerah tersebut menjadi meningkat, saat Cap Go Meh hotel-hotel menjadi penuh, karena banyak yang memesan, rental mobil laku keras, produk asli daerah laku karena daerah tersebut banyak dikunjungi orang dari luar dan daerah tersebut menjadi dikenal oleh wisatawan dalam negeri dan mancanegara. Dengan demikian, kebudayaan sukubangsa apapun jika dilestarikan dengan baik, didukung oleh pemerintah daerah dan pusat, maka kebudayaan itu dapat menjadi asset bagi kepentingan pembangunan daerah.
M. Ikhsan Tanggok
Guru Besar Antropologi Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Guru Besar Antropologi Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya