Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pembangunan Pusat Kesejahteraan Anak Di Sumbawa Sudah 95 Persen, Siap Tampung 300 Anak
Jumat, 25 April 2025 17:07 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pusat Kesejahteraan Peduli Anak di Sumbawa, yang dikerjakan selama hampir lima tahun oleh Yayasan Peduli Anak, saat ini pembangunannya telah mencapai 95 persen.
Fasilitas ini dirancang untuk memberikan perlindungan dan masa depan cerah bagi 300 anak; 150 tinggal penuh waktu dan 150 lainnya sebagai siswa harian. Namun, bangunan bisa dihuni karena belum ada ranjang dan perlengkapan rumah tangga dasar.
“Anak-anak sudah menanti. Rumah sudah berdiri. Yang kami butuhkan tinggal satu dorongan terakhir: tempat tidur dan perlengkapan dasar untuk hidup layak,” ungkap Chaim Joel Fetter, Pendiri Yayasan Peduli Anak dan Pusat Kesejahteraan Anak pertama di Lombok dalam keterangannya, Jumat (25/4/2025).
Baca juga : Kementerian ATR/BPN Komit Kejar 100 Persen Sertifikasi Tanah
Lebih dari 8.000 orang Indonesia telah berdonasi, mulai dari anak sekolah yang menjual gelang buatan tangan, hingga pemilik usaha yang menyelenggarakan acara penggalangan dana. Perusahaan besar seperti ING Bank, PT Bayan Resources, TOTO, dan banyak lainnya juga turut berkontribusi dengan menyumbangkan material bangunan dan perabot.
Bahkan Electrolux telah merespons secara positif permintaan bantuan peralatan dapur profesional. Fetter juga sudah meminta bantuan kepada IKEA. Dia berharap dukungan IKEA untuk anak-anak Sumbawa.
Yayasan Peduli Anak sendiri bukan nama baru dalam dunia kemanusiaan di Indonesia. Didirikan pada 2006 oleh Chaim Joel Fetter, seorang pengusaha asal Belanda yang menyerahkan hidupnya untuk membantu anak-anak terlantar di Indonesia, yayasan ini telah mendukung ribuan anak. Banyak dari mereka kini telah tumbuh dewasa, menempuh pendidikan tinggi, dan kembali untuk mengabdi sebagai guru, perawat, dan konselor.
Baca juga : Tunjangan Guru: Sekadar Kesejahteraan atau Katalis Mutu Pendidikan?
Pusat baru di Sumbawa merupakan bagian dari ekspansi misi yayasan sejak 2019, merespons meningkatnya kasus penelantaran anak di wilayah terpencil dengan akses layanan sosial yang minim. “Kami ingin menciptakan cetak biru nasional. Jika berhasil, model ini bisa direplikasi oleh LSM, komunitas, bahkan pemerintah.”
Saat ini, fasilitas lengkap berupa dua belas rumah, sekolah, masjid, klinik, sport center, dapur besar, dan kebun organik sudah tersedia. Selain merawat anak-anak, pusat ini juga dirancang untuk memberdayakan ekonomi lokal dengan mempekerjakan warga sekitar dan membeli hasil pertanian setempat.
Namun, masih ada satu rintangan terakhir: memastikan bahwa setiap anak memiliki tempat tidur yang layak. “Kami tidak bisa melakukannya sendiri,” kata Fetter. “Tapi bersama, dengan satu tindakan kecil dari banyak orang, kita bisa membuka pintu masa depan yang lebih baik.”
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya