Dark/Light Mode

Selangkah Menuju Kepunahan: Ribuan Tradisi Nusantara Terancam Lenyap!

Selasa, 22 Juli 2025 13:03 WIB
10 OPK dalam UU 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. (Gambar: Istimewa)
10 OPK dalam UU 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. (Gambar: Istimewa)

Indonesia adalah negeri yang kaya akan budaya dan pengetahuan lokal. Namun, kekayaan itu justru tengah berada di ambang kepunahan. Di banyak pelosok Nusantara, pengetahuan tradisional perlahan menghilang—bukan karena tidak lagi relevan, melainkan karena ditelan waktu bersama wafatnya para pemilik pengetahuan tersebut. Dalam masyarakat yang sejak lama lebih mengandalkan transmisi lisan dibanding pencatatan, lenyapnya satu tokoh adat atau tetua kampung bisa berarti hilangnya satu bab sejarah dan ilmu yang tak tergantikan.

Model pewarisan pengetahuan secara lisan, yang pernah menjadi kekuatan komunitas adat Indonesia, kini menjadi titik lemah. Modernisasi dan mobilitas generasi muda menyebabkan keterputusan antargenerasi. Anak-anak muda lebih tertarik pada dunia digital dan pendidikan formal, sementara pengetahuan tradisional tak sempat diabadikan, bahkan seringkali dianggap ketinggalan zaman.

Ketika seorang dukun tradisional meninggal dunia, sering kali tidak ada yang mewarisi mantera pengobatan atau filosofi tanaman yang ia kuasai. Ketika seorang pengrajin anyaman tua tutup usia, teknik menganyam khas yang ia miliki pun ikut lenyap. Hal ini terjadi karena sebagian besar pengetahuan di Indonesia—khususnya di komunitas adat—disampaikan secara turun-temurun tanpa dokumentasi formal. Model pewarisan lisan ini tidak lagi mampu bersaing dengan era digital yang serba cepat dan visual.

Baca juga : PGE Ulubelu Genjot Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Emak-emak

Laporan dari berbagai penelitian etnografi menyebutkan, dalam 20 tahun terakhir, ratusan bahasa daerah, teknik pengobatan tradisional, cerita rakyat, hingga praktik budaya telah punah karena tidak sempat didokumentasikan. Indonesia menghadapi krisis memori budaya.

Menurut data UNESCO, Indonesia termasuk negara dengan tingkat kehilangan bahasa daerah yang tinggi. Hingga tahun 2023, dari sekitar 718 bahasa daerah yang tercatat di Indonesia, sebanyak 11 sudah dinyatakan punah, dan 19 lainnya berstatus kritis karena hanya dituturkan oleh segelintir orang tua. Bahasa, dalam konteks ini, bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wadah utama pengetahuan lokal—mulai dari mitologi, tata cara bertani, pengobatan tradisional, hingga sistem nilai yang diwariskan turun-temurun.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebelum berintegrasi dalam Badan Riset dan Inoveasi Nasional (BRIN), pernah mencatat bahwa selama dua dekade terakhir, ratusan praktik budaya dan pengetahuan lokal telah hilang, baik karena tidak ada regenerasi maupun karena tidak terdokumentasi dengan baik. Salah satu contohnya adalah pengetahuan mengenai sistem pertanian berbasis kalender matahari dan bulan di Sumba, yang kini hanya dipahami oleh segelintir tetua adat dan tidak tercatat dalam bentuk apapun.

Baca juga : Airlangga Terbang Ke Amrik Dari Brazil

Di tengah krisis memori budaya ini, dokumentasi audio visual menjadi salah satu solusi yang relevan dan strategis. Teori Cultural Memory dari Jan Assmann menjelaskan bahwa budaya hanya bisa diwariskan dan bertahan jika direkam dan disimpan dalam media yang dapat melampaui umur biologis manusia. Film dokumenter, dengan kemampuannya menangkap bahasa tubuh, nada suara, lingkungan, dan nuansa emosi, menawarkan bentuk pelestarian yang tak tergantikan oleh tulisan semata.

Pengalaman menunjukkan bahwa dokumenter mampu menghidupkan kembali kesadaran budaya. Film Samin vs Semen karya Dandhy Dwi Laksono menjadi salah satu contoh penting. Dokumenter ini tidak hanya mencatat perlawanan masyarakat adat terhadap proyek industri, tetapi juga mengabadikan cara hidup, nilai-nilai, dan sistem pengetahuan orang Samin yang nyaris tak dikenal generasi muda. Contoh lain adalah film Semesta (2019), yang merekam praktik spiritual dan ekologis dari berbagai tokoh adat dan tokoh agama lokal dalam menjaga lingkungan hidup. Film ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan tradisional sebenarnya menyimpan solusi yang relevan terhadap krisis iklim hari ini.

Sayangnya, upaya semacam ini masih bersifat sporadis dan belum menjadi bagian dari kebijakan nasional. Padahal, jika setiap komunitas adat memiliki dokumentasi visual tentang budaya dan pengetahuannya, Indonesia akan memiliki basis data budaya yang tak ternilai dan dapat terus diwariskan lintas generasi.

Baca juga : Pemegang Saham Setujui Pemisahan UUS CIMB Niaga Jadi Bank Umum Syariah

Lebih jauh, dokumentasi visual juga dapat dimanfaatkan dalam pendidikan formal dan nonformal. Tayangan dokumenter bisa menjadi jendela bagi anak-anak di kota untuk mengenal kekayaan leluhur mereka. Ia juga bisa menjadi alat diplomasi budaya, memperkenalkan wajah Indonesia yang beragam kepada dunia internasional.

Kita tidak bisa terus-menerus berharap pengetahuan tradisional akan hidup hanya melalui pewarisan lisan. Dunia telah berubah, dan cara melestarikan budaya pun harus berubah. Kamera, mikrofon, dan platform digital harus menjadi alat pelestarian budaya yang strategis. Pemerintah, lembaga kebudayaan, sineas, dan masyarakat sipil perlu bekerja sama, bukan hanya untuk membuat dokumentasi, tetapi juga untuk membangun ekosistem pelestarian budaya berbasis visual yang berkelanjutan.

Jika kita tidak mulai mendokumentasikan sekarang, maka setiap hari yang berlalu adalah satu halaman kearifan lokal yang hilang selamanya. Kita akan terus kehilangan bahasa, praktik, dan filosofi leluhur kita, hanya karena kita tak sempat merekamnya. Di titik ini, dokumenter bukan lagi sekadar tontonan, tetapi bentuk tanggung jawab generasi hari ini kepada masa depan.

Indri Ariefiandi
Indri Ariefiandi
Aktivis Reformasi 98, Sekjen PIJAR 98 dan Ketua Umum Sinergi Untuk Film Indonesia (SUFI).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.