Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ketua Dewan Pers Kenang Era Koran Sebagai Pusat Wacana Sosial Dan Intelektual
Kamis, 5 Februari 2026 15:38 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Dewan Pers Prof. Komarudin Hidayat mengenang kuatnya peran surat kabar sebagai sumber utama informasi dan penggerak perubahan sosial pada fase awal perkembangan pers di Indonesia. Komarudin bercerita, pengalamannya sebagai mahasiswa UIN Jakarta pada tahun 1974 menjadi saksi betapa pentingnya kehadiran koran dalam kehidupan intelektual dan sosial masyarakat saat itu.
“Saya masih ingat ketika mahasiswa tahun 1974, tinggal di sekretariat HMI. Pagi-pagi bangun tidur, yang kami tunggu itu koran. Di satu komplek, orang-orang menunggu kapan koran datang. Begitu datang, langsung jadi rebutan,” kata Komarudin di acara Outlook Media 2026 di Kantor Dewan Pers, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, pada masa itu pers benar-benar menjadi pemasok utama dan pengendali pusat tren wacana masyarakat. Surat kabar memegang peran strategis dalam membentuk cara berpikir publik. Baik di kalangan mahasiswa, intelektual, maupun pemerintah.
Baca juga : Wagub Aryoko Resmikan Bahtera Kristoforus Sebagai Pusat Spiritual Modern
Ia bahkan mengaku rutin membeli kliping koran di Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Mulai dari artikel opini hingga laporan berita. Sebab, gagasan-gagasan yang dimuat di media massa kala itu tidak ia temukan di ruang kelas maupun buku teks perkuliahan.
“Artikel di Rakyat Merdeka, Kompas, dan media lain itu berisi refleksi pemikiran para penulis yang tidak saya temukan di kelas atau buku kuliah," nilai Komarudin.
Komarudin menegaskan, pada fase orde baru sumber informasi masyarakat sangat terpusat. Media arus utama menjadi rujukan tunggal bagi masyarakat, kalangan intelektual, hingga pemerintah. Kepercayaan publik terhadap media massa pun sangat tinggi karena isinya dinilai objektif, benar, dan menawarkan solusi.
Baca juga : BSI Resmi Naik Kelas Sebagai Persero, Mayoritas Pembiayaan Ke Segmen Konsumer Dan Ritel
Ia juga menyoroti ketatnya standar redaksi media cetak pada masa itu. Menurutnya, redaksi tidak sembarangan memuat tulisan opini tanpa rekam jejak penulis yang jelas.
“Saya pernah bertanya ke redaksi koran, apa kriterianya bisa menulis di sini? Mereka jawab, harus ada CV, pendidikan jelas, reputasi, bahkan karakter penulis ikut dinilai. Semua diseleksi betul,” kisahnya.
Karena itu, lanjut Komarudin, ketika seorang ilmuwan atau intelektual berhasil memuat tulisannya di surat kabar, hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri.
Baca juga : Kementan Pastikan Harga Bawang Merah Aman Hadapi Puasa Dan Lebaran
"Kalau ada ilmuwan menulis di koran waktu itu, bangga sekali. Ditunjukkan ke teman-temannya. Tingkat kepercayaan kepada media massa sangat tinggi,” tutup Komarudin.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya